Langsung ke konten utama

Unggulan

Back into Your Arms: Chapter Twelve [ENG]

BiYA Chapter XII “Is it okay… if I just take a walk in the front yard?” Buana sighed, turning his office chair to face the young woman who had been trying to convince him so she wouldn’t rot from boredom all by herself. “What’s there to see? Is it really that interesting to make you step out there?” Iona, in Stella’s body, nodded happily, as if she had gained a glimmer of hope from her father’s response. “Fine, as long as the Mas Bros are always accompanying you—” “Thank you, Dad!” Without missing a beat, Iona immediately dashed out of the room in high spirits. She forcibly pulled the two Mas Bros standing outside the room to accompany her for a walk in the front yard. Even she didn't know why she was this happy. Well… at least she could catch some fresh air out there. “Since when did Miss like books? Didn’t Miss used to feel nauseous whenever reading a book?” Mas Bro watched as she grabbed a black-covered novel, witnessing firsthand a total miracle where their Miss was suddenly in...

Back into Your Arms: Bagian Sepuluh [INA]


Back into Your Arms
BiYA Chapter X

Sudah terbilang lima menit lebih Iona hanya memandangi gorden putih di jendela besar kamarnya. Matahari sudah mengintip dari timur sana, menyapa dengan sinar cerahnya. Tak seperti pagi-pagi sebelumnya di mana Iona semangat untuk menemui Joe, ia hanya terbaring dengan wajah datar. Lagipula, untuk apa dia bersemangat, bukan? Kecil kemungkinan untuk dia bisa keluar dari kediaman Buana. Ia sadar Tuhan tak mungkin semudah itu membuatnya kembali ke pelukan Joe. Dia harus mencari tahu juga siapa sosok yang mengincar Stella Viviana jika tidak ia akan selalu diselimuti rasa takut seumur hidupnya.

Teringat akan sesuatu, Iona terperanjat. Mencari tas tangannya yang dipakai semalam. Setidaknya jika tidak bisa menemui pujaan hatinya, ia bisa menghubungi atau mendengar suaranya selama beberapa menit.

Namun, ketika baru menggapai tas kulit hitam itu, Iona langsung meracau sebal. Terduduk dalam satu hentakan ke ranjangnya. Joe lupa memberinya kartu namanya. Iona juga merutuki dirinya yang malah membisu sepanjang makan atau perjalanan pulang.

Back into Your Arms
source: Gemini

“Sial! Dia kenapa lupa memberiku kartu nama, sih?! Kalau begini aku harus bagaimana?”

Iona mendatangi meja belajarnya, membuka lembar-lembar kertas yang berisi informasi apapun mengenai Joe. Sialnya ia tidak menemui informasi tentang kartu nama pribadi Joe, justru hanya ada nomor kantornya yang pastinya tidak akan menyambungkannya secara langsung dengan lelaki kesayangannya itu.

Iona mengintip di luar kamarnya yang sekarang dijaga ketat. Bahkan sekadar untuk keluar kamar, kini ia harus menjelaskan ke mana dan berapa lama ia akan berada di luar. Iona menggigiti ibu jarinya, berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya sendiri. Tidak mungkin juga ia menyerah karena alasan dia bisa hidup kembali adalah untuk mendapatkan Joe di hidupnya.

*✿❀ ❀✿*

“Bodoh!”

Joe menepuk keningnya sekeras mungkin, menyadari jumlah kartu nama di card holder-nya tidak berkurang sedikitpun. Selain kemarin hanya dihabiskannya untuk melamun, me time dan berleha-leha, sudah pasti tidak ada relasi baru yang bisa membuat jumlah kartu namanya berkurang. Namun bukan tidak adanya relasi yang ia permasalahkan saat ini, melainkan ia yang lupa memberi kartu namanya pada gadis misterius itu. Gadis yang menari-nari di pikirannya semalaman.

Back into Your Arms
BiYA Chapter X


Joe menjadi bingung ia harus bagaimana lagi agar bisa bertemu dengannya. Jika dia tak melakukan apapun apa gadis itu akan tiba-tiba muncul di lobi kantornya? Atau menghubunginya dengan cara yang tak terduga?

Lelaki itu makin merutuki diri saat ia ingat Kesan pertama yang ia tinggalkan untuk Stella bukanlah hal yang baik. Ia terlalu dingin, self-centered, dan apatis. Siapa pula yang mau hidup dengan lelaki yang memperlakukan mereka seperti itu? Padahal gadis satu ini sempat memberinya harapan. Bahkan membuat bayangan Iona hilang sementara.

“Haruskah aku menghampirinya langsung ke rumah?”

Joe memukuli kepalanya, mengacak rambutnya cukup kasar.

“Harga diriku mau taruh di manaa?! Sadar, Joe, kamu baru mengenal gadis itu! Lagipula atas dasar apa kau mau menemuinya lagi? Apa yang kamu lihat darinya, hah?” Joe bermonolog, meracau dan terus meracau sampai matanya jatuh pada foto polaroid kecil yang sudah using itu. Foto kelulusan Joe dan Iona yang terlihat begitu cantik dengan gaun merah mudanya.

Spontan, lelaki itu meraba tekstur polaroid yang sudah pudar warnanya itu. Menghela napas berat, bahkan tak sanggup lagi untuk tersenyum.

“Aku tak mau melupakanmu begitu saja Iona… setiap perempuan yang aku kenal, mencoba mendekatiku dan menggantikanmu… hanya bayanganmu yang muncul. Tapi kenapa kali ini berbeda ya? Apa ada yang salah denganku?”

*✿❀ ❀✿*

Mendengar ketukan kecil, Iona segera membuka pintu kamarnya meski dengan celah yang sangat kecil.

“Nona Iona? Tidakkah Nona bosan di kamar sedari pagi?”

Iona membuka pintunya lebih lebar, kini terbuka sempurna.

“Memang aku diperintahkan untuk terus di kamar, bukan?”

“Iya, Nona, tapi bukan berarti sepanjang hari tanpa melakukan apa-apa.”

“Aku sedang menonton film, kok. Itu melakukan sesuatu, bukan?”

Mas Bro membuang napas pelan, Iona hanya kedip-kedip minta penjelasan.

“Sudah hampir sebulan Nona tidak pernah olahraga, terutama waktu dirawat intensif di rumah sakit. Maka saya meminta dengan hormat untuk Nona agar berganti baju olahraga dan kita akan olahraga di lantai tiga.” Iona mendelik, berusaha menolak. Namun begitu ia membuka mulutnya, Mas Bro kembali berbicara, “Saya tunggu lima menit, jika tidak Nona tidak akan saya biarkan keluar kamar untuk hari ini—”

“EH, IYAA! Aku ganti sekarang….”

Iona menutup pintu kamar, merutuki nasibnya lalu mulai mempersiapkan diri untuk olahraga—hal yang hampir tidak pernah dilakukannya dulu di tubuh Iona.

“APA? 10 KG?! Memangnya tangan kecilku ini bisa?!” seru Iona saat Mas Bro memaksanya untuk mengangkat barbel dengan beban 10 kg di kanan kirinya. Gadis itu tidak habis pikir katanya ini bahkan untuk permulaan, pemanasan sebelum melakukan olahraga lanjutan yang biasanya Stella rutin lakukan.

“Nona dulu bisa melakukannya dengan mata tertutup, bahkan Nona pernah menyebutnya semudah membalikkan telapak tangan.”

“I-iya, telapak tangan gajah,” desis Iona yang merasa menyerah sebelum bahkan mencoba.

“Apa Nona?”

“Ah tidak.” Iona mendekati barbel yang di letakkan di atas matras hitam itu. Memandangnya sembari menelan ludah dan tersenyum penuh luka. “Hanya racauan afirmasi.”

“Sejak kapan Nona percaya afirmasi? Bukannya sebelumnya Nona sangat anti terhadap ap aitu afirmasi?”

Iona yang hendak bersiaga untuk posisi awal, sedikit squat langsung berdiri lagi. Tertawa renyah lalu memukul udara sebagai gesture canggungnya, “Ahaha iya, lupakan saja. Aku sedang meracau.”

Iona kembali ke posisi siap, kedua tangannya sudah memegang barbel, perlahan tapi pasti diangkatnya barang itu. Siapa sangka barbel seberat kurang lebih 20 kg itu bisa diangkatnya sampai sejajar dengan kepalanya. Iona mendelik, kemudian tertawa bangga karena ia bahkan tak berusaha sama sekali untuk melakukannya. Siapa sangka tubuh Stella memang sekuat dan semenakjubkan itu. Beberapa detik Iona menahannya di udara pun tangannya tak bergetar atau menunjukkan tanda memohon supaya beban berat itu diturunkan lagi.

Iona tertawa lepas, masih tidak percaya tapis ama takjubnya dengan Mas Bro lain yang tepuk tangan bangga melihat Nona mereka kembali—setidaknya terlihat seolah sudah kembali.

Back into Your Arms
BiYA Chapter X

“Kami juga melakukan ini dengan harapan agar ingatan Nona kembali.”

Brughhh

Iona menjatuhkan barbel besar itu langsung ke bawah. Membuat lantai kayu parket di bawahnya retak seketika. Mas Bro yang mengajaknya bicara langsung terkejut dan bertanya-tanya. Sedang Iona termenung. Memandang depan dengan kosong, penuh kehampaan. Ia sadar pula semua perlakuan baik, cinta dan kasih sayang yang diterimanya adalah karena ia Stella bukan Iona. Gadis yang hanya menemui petaka.

“Nona?”

Iona tak menjawab panggilan itu, memilih untuk beranjak dari sana dengan mata sudah berlinang air mata. Meninggalkan tiga Mas Bro-nya yang bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi sebenarnya.



Back into Your Arms
BiYA Chapter X



Karya ini adalah hak milik intelektual Alinea Aneyla. Mohon untuk tidak menyalin, mendistribusikan, atau mempublikasikan ulang tanpa izin tertulis dari penulis.

Komentar

Postingan Populer

About Us   |   Contact   |   Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 ALINEA ANEYLA. Tiap kata miliki jiwa.