Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Sepuluh [INA]
![]() |
| BiYA Chapter X |
Sudah terbilang lima menit lebih Iona hanya memandangi
gorden putih di jendela besar kamarnya. Matahari sudah mengintip dari timur
sana, menyapa dengan sinar cerahnya. Tak seperti pagi-pagi sebelumnya di mana
Iona semangat untuk menemui Joe, ia hanya terbaring dengan wajah datar. Lagipula,
untuk apa dia bersemangat, bukan? Kecil kemungkinan untuk dia bisa keluar dari
kediaman Buana. Ia sadar Tuhan tak mungkin semudah itu membuatnya kembali ke
pelukan Joe. Dia harus mencari tahu juga siapa sosok yang mengincar Stella
Viviana jika tidak ia akan selalu diselimuti rasa takut seumur hidupnya.
Teringat akan sesuatu, Iona terperanjat. Mencari tas
tangannya yang dipakai semalam. Setidaknya jika tidak bisa menemui pujaan
hatinya, ia bisa menghubungi atau mendengar suaranya selama beberapa menit.
Namun, ketika baru menggapai tas kulit hitam itu, Iona
langsung meracau sebal. Terduduk dalam satu hentakan ke ranjangnya. Joe lupa
memberinya kartu namanya. Iona juga merutuki dirinya yang malah membisu
sepanjang makan atau perjalanan pulang.
![]() |
| source: Gemini |
“Sial! Dia kenapa lupa memberiku kartu nama, sih?! Kalau
begini aku harus bagaimana?”
Iona mendatangi meja belajarnya, membuka lembar-lembar
kertas yang berisi informasi apapun mengenai Joe. Sialnya ia tidak menemui
informasi tentang kartu nama pribadi Joe, justru hanya ada nomor kantornya yang
pastinya tidak akan menyambungkannya secara langsung dengan lelaki
kesayangannya itu.
Iona mengintip di luar kamarnya yang sekarang dijaga ketat.
Bahkan sekadar untuk keluar kamar, kini ia harus menjelaskan ke mana dan berapa
lama ia akan berada di luar. Iona menggigiti ibu jarinya, berjalan
mondar-mandir di dalam ruangannya sendiri. Tidak mungkin juga ia menyerah
karena alasan dia bisa hidup kembali adalah untuk mendapatkan Joe di hidupnya.
**✿❀ ❀✿**
“Bodoh!”
Joe menepuk keningnya sekeras mungkin, menyadari jumlah
kartu nama di card holder-nya tidak berkurang sedikitpun. Selain kemarin
hanya dihabiskannya untuk melamun, me time dan berleha-leha, sudah pasti tidak
ada relasi baru yang bisa membuat jumlah kartu namanya berkurang. Namun bukan
tidak adanya relasi yang ia permasalahkan saat ini, melainkan ia yang lupa
memberi kartu namanya pada gadis misterius itu. Gadis yang menari-nari di
pikirannya semalaman.
![]() |
| BiYA Chapter X |
Joe menjadi bingung ia harus bagaimana lagi agar bisa
bertemu dengannya. Jika dia tak melakukan apapun apa gadis itu akan tiba-tiba
muncul di lobi kantornya? Atau menghubunginya dengan cara yang tak terduga?
Lelaki itu makin merutuki diri saat ia ingat Kesan pertama
yang ia tinggalkan untuk Stella bukanlah hal yang baik. Ia terlalu dingin,
self-centered, dan apatis. Siapa pula yang mau hidup dengan lelaki yang
memperlakukan mereka seperti itu? Padahal gadis satu ini sempat memberinya
harapan. Bahkan membuat bayangan Iona hilang sementara.
“Haruskah aku menghampirinya langsung ke rumah?”
Joe memukuli kepalanya, mengacak rambutnya cukup kasar.
“Harga diriku mau taruh di manaa?! Sadar, Joe, kamu baru
mengenal gadis itu! Lagipula atas dasar apa kau mau menemuinya lagi? Apa yang
kamu lihat darinya, hah?” Joe bermonolog, meracau dan terus meracau sampai
matanya jatuh pada foto polaroid kecil yang sudah using itu. Foto kelulusan Joe
dan Iona yang terlihat begitu cantik dengan gaun merah mudanya.
Spontan, lelaki itu meraba tekstur polaroid yang sudah pudar
warnanya itu. Menghela napas berat, bahkan tak sanggup lagi untuk tersenyum.
“Aku tak mau melupakanmu begitu saja Iona… setiap perempuan
yang aku kenal, mencoba mendekatiku dan menggantikanmu… hanya bayanganmu yang
muncul. Tapi kenapa kali ini berbeda ya? Apa ada yang salah denganku?”
**✿❀ ❀✿**
Mendengar ketukan kecil, Iona segera membuka pintu kamarnya
meski dengan celah yang sangat kecil.
“Nona Iona? Tidakkah Nona bosan di kamar sedari pagi?”
Iona membuka pintunya lebih lebar, kini terbuka sempurna.
“Memang aku diperintahkan untuk terus di kamar, bukan?”
“Iya, Nona, tapi bukan berarti sepanjang hari tanpa
melakukan apa-apa.”
“Aku sedang menonton film, kok. Itu melakukan sesuatu,
bukan?”
Mas Bro membuang napas pelan, Iona hanya kedip-kedip minta
penjelasan.
“Sudah hampir sebulan Nona tidak pernah olahraga, terutama
waktu dirawat intensif di rumah sakit. Maka saya meminta dengan hormat untuk
Nona agar berganti baju olahraga dan kita akan olahraga di lantai tiga.” Iona
mendelik, berusaha menolak. Namun begitu ia membuka mulutnya, Mas Bro kembali
berbicara, “Saya tunggu lima menit, jika tidak Nona tidak akan saya biarkan
keluar kamar untuk hari ini—”
“EH, IYAA! Aku ganti sekarang….”
Iona menutup pintu kamar, merutuki nasibnya lalu mulai
mempersiapkan diri untuk olahraga—hal yang hampir tidak pernah dilakukannya
dulu di tubuh Iona.
“APA? 10 KG?! Memangnya tangan kecilku ini bisa?!” seru Iona
saat Mas Bro memaksanya untuk mengangkat barbel dengan beban 10 kg di kanan
kirinya. Gadis itu tidak habis pikir katanya ini bahkan untuk permulaan,
pemanasan sebelum melakukan olahraga lanjutan yang biasanya Stella rutin
lakukan.
“Nona dulu bisa melakukannya dengan mata tertutup, bahkan
Nona pernah menyebutnya semudah membalikkan telapak tangan.”
“I-iya, telapak tangan gajah,” desis Iona yang merasa
menyerah sebelum bahkan mencoba.
“Apa Nona?”
“Ah tidak.” Iona mendekati barbel yang di letakkan di atas
matras hitam itu. Memandangnya sembari menelan ludah dan tersenyum penuh luka.
“Hanya racauan afirmasi.”
“Sejak kapan Nona percaya afirmasi? Bukannya sebelumnya Nona
sangat anti terhadap ap aitu afirmasi?”
Iona yang hendak bersiaga untuk posisi awal, sedikit squat
langsung berdiri lagi. Tertawa renyah lalu memukul udara sebagai gesture
canggungnya, “Ahaha iya, lupakan saja. Aku sedang meracau.”
Iona kembali ke posisi siap, kedua tangannya sudah memegang
barbel, perlahan tapi pasti diangkatnya barang itu. Siapa sangka barbel seberat
kurang lebih 20 kg itu bisa diangkatnya sampai sejajar dengan kepalanya. Iona
mendelik, kemudian tertawa bangga karena ia bahkan tak berusaha sama sekali
untuk melakukannya. Siapa sangka tubuh Stella memang sekuat dan semenakjubkan
itu. Beberapa detik Iona menahannya di udara pun tangannya tak bergetar atau
menunjukkan tanda memohon supaya beban berat itu diturunkan lagi.
Iona tertawa lepas, masih tidak percaya tapis ama takjubnya
dengan Mas Bro lain yang tepuk tangan bangga melihat Nona mereka
kembali—setidaknya terlihat seolah sudah kembali.
![]() |
| BiYA Chapter X |
“Kami juga melakukan ini dengan harapan agar ingatan Nona
kembali.”
Brughhh
Iona menjatuhkan barbel besar itu langsung ke bawah. Membuat
lantai kayu parket di bawahnya retak seketika. Mas Bro yang mengajaknya bicara
langsung terkejut dan bertanya-tanya. Sedang Iona termenung. Memandang depan
dengan kosong, penuh kehampaan. Ia sadar pula semua perlakuan baik, cinta dan
kasih sayang yang diterimanya adalah karena ia Stella bukan Iona. Gadis yang
hanya menemui petaka.
“Nona?”
Iona tak menjawab panggilan itu, memilih untuk beranjak dari
sana dengan mata sudah berlinang air mata. Meninggalkan tiga Mas Bro-nya yang
bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi sebenarnya.
![]() |
| BiYA Chapter X |
Postingan Populer
Back into Your Arms: Bagian Satu [INA]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Satu [ENG]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
.png)




Komentar
Posting Komentar