Jodhokerto dan tradisi turun-temurunnya: sebuah kota di mana laki-laki berusia 20 tahun wajib menikah, baik dengan wanita pilihan sendiri maupun dijodohkan. Tradisi ini lahir dari sejarah kelam rendahnya harapan hidup di masa lalu, yang memicu gelombang migrasi warga pendatang ke sana. Warga asli Jodhokerto yang merasa sumber daya alam dan wilayah mereka mulai didominasi pendatang, akhirnya menciptakan aturan ini demi menjaga garis keturunan dan aset mereka. Aturan yang sudah berjalan dua puluh dua tahun ini dijalankan dengan sangat ketat, terutama oleh keluarga konglomerat yang ingin terus mengekspansi kerajaan bisnis mereka.
Namun, tradisi ini sering kali berubah menjadi teror. Setidaknya bagi Iona Renata, gadis berusia 18 tahun yang dipaksa keluarganya menikahi putra tunggal keluarga Aulian.
"Ma, harus berapa kali aku bilang: aku gak sudi nikah sama Vigeno!" seru Iona dengan napas terengah.
"Iona... harus berapa kali juga Mama bilang: Mama gak setuju kamu pacaran sama Joe!"
"Tapi selisih umurku sama Vigeno cukup jauh, Ma! Aku lebih cocok sama Joe juga!"
"Joe dan Vigeno hanya selisih satu tahun! Kamu pikir Mama tidak tahu?"
"Tapi Vigeno kaku dan membosankan, Ma! Dia berjiwa kebapak-bapakan! Setidaknya dengan Joe aku bisa jadi diri sendiri!"
Iona menghela napas panjang, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang putih di tengah kamar. Ia hafal betul apa yang akan terjadi berikutnya.
"Kamu tahu, bukan, sebentar lagi Vigeno menginjak umur 21 tahun? Yang mana dia akan melanggar aturan dari tradisi kota kita. Jangan buat Mama malu dan tidak enak, karena keluarga Aulia benar-benar mengharapkan kamu menjadi menantu mereka!"
"Ini namanya pemaksaan, Ma! Bagaimana kalau Iona tidak bahagia?"
"Jangan egois kamu Iona! Keluarga Aulian ini begitu sabar, loh, untuk menghadapi kamu! Mereka bahkan bersedia membayar denda sebagai sanksi sosial jika kamu menunda-nunda penjodohan dan perkawinan ini!"
Iona meremas sprei di samping tubuhnya. Dia merasa bingung dan bersalah juga mendengar sisi ini.
"Joe sebentar lagi menginjak umur 20 tahun juga, bukan? Maka kamu harus segera menikah dengan Vigeno karena Mama tidak akan sudi berbesan dengan keluarga Bramantya!"
"Mama kenapa bicara seperti itu, sih?!" seru Iona tak terima.
"Loh, kamu lupa, kah? Setelah kejadian itu, semuanya berubah Iona. Hubungan dan dinamika keluarga kita dan keluarga Bramantya sudah berubah! Lagipula tidak ada yang menginginkan kematian Bramantya! Tidak ada yang merencanakan kecelakaan itu! Kamu lupa bagaimana mereka menuduh dan menyalahkan keluarga kita atas kematian ayah Joe? Kamu rela Papa dipermalukan di depan umum lagi seperti dulu?!"
Benar, kan? Ira pasti mengungkit luka lama itu.
"Aku punya alasan, Ma, kenapa aku lebih memilih Joe."
"Mama juga punya alasan kuat untuk menjodohkan kamu dengan Vigeno!"
Iona berusaha tetap berkepala dingin. "Joe tidak pernah sependapat dengan mamanya sendiri! Joe tahu kejadian itu murni kecelakaan!" ujar Iona sungguh-sungguh. "Tolong, Ma, kali ini saja mengerti aku. Selama ini Iona selalu nurutin kemauan Mama, kan?"
Ira menggeleng cepat, seolah keputusannya adalah hukum yang mutlak. "Mama gak mau tahu, besok kamu harus bertemu Vigeno lagi. Tanpa penolakan!" Ira memberi penekanan pada setiap kata. Sebelum keluar, ia menambahkan, "Mama beri kamu pilihan laki-laki lain selain Vigeno, asal bukan Joe. Paham?"
Tanpa menanti jawaban, Ira melangkah keluar. Meninggalkan Iona yang tenggelam dalam kesedihan. Mimpi buruk yang ia takutkan kini menjadi nyata.
"Joe..."
**✿❀ ❀✿**
Iona terdiam di tepi lapangan voli. Dari kejauhan, dia hanya mengamati sekelompok lelaki yang masih berlatih dengan keras, demi kejuaraan antar kampus. Pikiran Iona begitu keruh. Ia datang ke sana dengan niat untuk menemui Joe dan menjelaskan semua, tentang nasibnya dan tentang keadaan tak terelakkan ini. Setidaknya ia ingin mendengar kata-kata manis Joe yang pasti akan menenangkannya. Namun entah kenapa Iona tidak bisa menyusun kata-kata. Jadi ia hanya melamun. Membiarkan lirik lagu melankolis melalui earphone-nya itu membanjiri pikirannya. Tanpa ia sadari, kekasih hatinya itu tengah berjalan mendatanginya.
"Hai!"
Seolah tertangkap basah melakukan kesalahan, Iona panik sendiri. Ia melepas earphone-nya dan sedikit terperanjat. Memandang Joe yang ikut heran melihat reaksi Iona yang begitu heboh.
"Hei, kenapa?"
"Maaf... aku kira, aku... kamu... "
Joe tersenyum gemas dan mengacak lembut kepala Iona. Gerakan sederhana itu seolah meredam semua pikiran keruh Iona, tapi hanya sesaat karena lidahnya kembali kelu. Tak bisa mengatakan apa-apa.
"Tumben kamu mau nonton aku latihan? Mau bicara sesuatu, kah?"
"Aku... "
Iona mati-matian menahan tangisannya. Ia tahu di depannya Joe tengah menatapnya penuh kasih, menunggu dengan sabar untuk kekasihnya menjelaskan sesuatu yang selama ini dipendamnya. Namun yang bisa Iona lakukan hanya merutuki diri karena ia tak bisa menjelaskan apa-apa. Iona terlalu takut. Ia takut Joe memilih mundur dan membiarkan Iona menikah dengan Vigeno, bukannya memperjuangkan kisah mereka.
"Joe, lima menit lagi balik ke lapangan!" seru salah satu temannya dari lapangan. Membuat lamunan Iona pecah dan tentu mengalihkan perhatian Joe sesaat.
"Lima menit lagi aku harus balik latihan. Pasti penting ya, yang mau kamu sampaikan itu? Apa mau ngobrol setelah aku selesai latihan?"
Iona berpikir lagi. Kalau dia nekat menjelaskan dengan singkat apa yang sesungguhnya terjadi, dalam lima menit ini, pasti akan memunculkan banyak kesalahpahaman. Bisa-bisa Joe tidak fokus latihan dan performanya buruk. Iona tidak mau mengacaukan Joe. Namun kalau setelah Joe latihan, itu terlalu larut dan ia harus kembali untuk bersiap-siap pergi dengan Vigeno.
Iona tak mengucapkan apa-apa, tapi mendadak memeluk perut kekasihnya itu. Gadis itu tak beranjak, hanya menikmati kehangatan dari tubuh Joe yang berdiri di hadapannya. Joe yang berusaha memahami kekasihnya itu kemudian membalas pelukannya.
Joe tersenyum tipis, "Kamu bertengkar lagi sama Mama?" tanyanya sembari membelai lembut pucuk kepala Iona.
Iona mengangguk.
"Sabar, yaa... mungkin kalau dibicarakan pelan-pelan kalian bisa saling mengerti."
Iona menggeleng pelan. Sedih karena bukan itu yang sedang ia tangiskan. Namun lebih sedih lagi karena tak ada satu katapun yang bisa keluar dari bibirnya. Ia bingung kapan waktu yang tepat untuknya menjelaskan? Lebih lagi di bulan ini juga Joe akan menginjak umur 20 tahun, yang mana ia harus meluruskan semuanya. Waktu mereka hampir habis!
"Joe... aku takut kehilangan kamu," desis Iona lembut.
"Enggak akan, Iona. Kita sudah dipertemukan untuk bersatu, bukan untuk saling kehilangan. Tuhan sendiri yang bilang ke aku."
Iona tertawa sejenak, mengurai pelukan mereka lalu memukul pundak kekasihnya.
"Tau apa kamu soal takdir?" ucap Iona kesal. Sejenak melupakan keresahannya.
"Loh, bener! Yang aku tahu dan aku percaya... kamu itu jodohku. Apa pun yang terjadi." ucap Joe dengan sedikit gurauan, tapi matanya memancarkan kesungguhan.
"Lima menit!"
Iona dan Joe menghembuskan napas bersamaan. Artinya mereka harus berpisah. Joe tersenyum kemudian berlari ke lapangan sembari terus melambaikan tangan ke Iona. Bibir tebal itu membuat gerakan kata 'Call me!' lengkap dengan isyarat telepon di samping wajahnya. Gadis dengan posisi sama persis itu ikut melambaikan tangan. Ia tersenyum pedih dan terus berharap bila semuanya akan baik-baik saja. Semoga tidak ada kesalahpahaman nantinya.
**✿❀ ❀✿**
Mendengar bunyi bel rumah, mau tak mau Iona segera keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan cepat. Vigeno pasti sudah tiba dengan senyum yang Iona anggap menyebalkan. Benar saja, lelaki tampan itu sudah berdiri tegap dengan tuxedo putihnya. Seolah tahu cara memukau Iona yang terobsesi dengan warna putih. Sayangnya hati Iona hanya ia jatuhkan pada Joe, maka mau bagaimanapun laki-laki itu berpakaian, di mata Iona ia hanya lelaki pintar yang dijodohkan dengannya
"Mau ke mana kali ini?" sungut Iona tidak suka.
Vigeno tersenyum memandangi kecantikan Iona yang tubuhnya dibalut gaun putih sepanjang lutut tanpa lengan itu. Namun pandangan matanya tetap hangat dan menghargai Iona sepenuhnya.
"Kita makan malam dulu, ya... Setelah itu kita bicarakan lagi mau ke mana."
Iona menatap Vigeno tajam-tajam. Dalam hati dia tidak enak juga karena terus bersikap kasar dan seenaknya dengan laki-laki di depannya ini. Padahal dia hanya anak baik yang tegas. Kadang pula bagi Iona membosankan karena tidak punya selera humor. Iona hanya berharap Vigeno bisa mendapatkan perempuan lain yang memang mencintainya sepenuh hati, sehingga Vigeno tak lagi ia anggap penghalang hubungannya dengan Joe.
"Kamu mau makan apa?"
"Apa aja, gratis, 'kan ini? Pilih menu terbaik untukku!" seru Iona, sengaja agar Vigeno ilfeel dengan sikapnya. Namun Vigeno tidak pernah mengindahkan soal itu. "Aku alergi makanan murah."
"Baik, berarti menu terfavorit saja? Atau perlu yang paling mahal? Tak masalah, akan kusuruh mereka menyajikan dengan bahan yang terbaik—"
"Eh, uhm... spaghetti saja."
Vigeno memandang Iona, mencari kesungguhan di mata gadis itu lalu mengangguk. Pelayan menulis satu-persatu pesanan keduanya lalu pergi dari meja tersebut. Suasana pun kembali canggung. Tak ada yang memulai percakapan. Iona bahkan enggan melihat wajahnya.
"Sampai kapan kita harus kayak gini? Aku banyak kurangnya, ya? Usahaku masih tidak terlihat di matamu?" tanya Vigeno tulus, tanpa nada membentak atau menuntut sekalipun.
Iona yang sedaritadi hanya mengaduk-aduk spaghetti di depannya lalu menggeleng berkali-kali.
"Tidak akan ada yang berubah." desis Iona sedih. "Kamu sendiri pun tahu aku... punya kekasih."
Vigeno mengangguk. Kali ini ada kesedihan di matanya, Iona sendiri pun tidak sanggup untuk melihatnya. Pikirannya makin kacau. Namun rasa benci sudah lebih dulu mengakar di batin Iona. Rasanya pun tak akaan berubah, sekuat apa pun ia coba untuk jatuh cinta.
"Aku akan coba bilang sama Mama soal pernikahan kita. Yang pasti aku gak mau, gak pernah setuju juga untuk menikahi kamu."
"Aku tahu, kok. Aku juga tahu kamu terpaksa menemui aku tiap harinya."
"Jangan berlagak memelas gitu, deh! Gak ada yang mau terjebak di situasi kayak gini!" desis Iona. Membanting sendok di hadapannya. "Dari semua orang di kota ini gak ada opsi perempuan lain? Kakak udah hampir 21 tahun, tahu!"
"Apa yang bisa aku perbuat kalau aku sendiripun memang jatuh cinta sama kamu?"
Dengan kesedihan mendalam Vigeno menatap mata Iona yang tengah melotot tidak suka. Hal itu membuatnya tidak nyaman sampai menenggak habis segelas anggur di sebelahnya. Iona kemudian pura-pura sibuk menyantap spaghetti yang menjadi begitu hambar di lidahnya.
Kenapa semua jadi begini, sih?! Kira-kira itulah kalimat yang selalu berputar di otaknya beberapa hari belakangan.
Padahal tadi Vigeno begitu semringah, berhubung ini kali petama Iona berkenan diajak keluar. Setelah diingat-ingat Vigeno memang selalu memprioritaskan kebahagiaannya, selalu sabar menghadapinya.
"Dimakan spaghetti-nya.. kalau belum habis aku gak akan pulangin kamu," perintah Vigeno tanpa memindahkan pandangan dari piringnya.
Iona tak menjawab, tapi lebih cepat mengunyah makanannya. Ia sangat canggung dan ingin segera pergi dari situ. Selera makannya makin hilang saat mengingat ia tak pernah berdadan serapih itu saat pergi dengan Joe. Selain kurang suka memakai gaun, Ira pasti akan curiga saat Iona berdandan rapi, berakhir interogasi yang lalu hanya dilarang keluar rumah. Maka dari itu, ia merasa mengkhianati Joe yang sekarang entah ada di mana.
"Gimana?" Iona menyadarkan dirinya yang sempat melamun panjang. "Kenapa gak dimakan? Gak menarik ya? Mau aku pesenin yang lain?" tanya Vigeno sangat perhatian.
Iona menggeleng lemas. "Ini baru mau makan kok. Makasih, No."
"Habis ini mau ke Mall? Atau ke Butik?"
Iona segera memotong ucapannya, "Gak perlu. Baju aku udah banyak. Aku mau langsung pulang." Iona merasa semakin tidak nyaman.
"Yaudah ... habisin dulu makannya."
Iona sempat kagum akan bagaimana Vigeno yang super sabar menghadapi sikap menyebalkan atau jawabannya yang kasar dan menyakitkan. Sebenarnya dalam lubuk hati Iona, ia juga tidak enak mengatakan itu. Namun, itu salah satu cara supaya Vigeno yakin Iona bukanlah untuknya.
Akhirnya selesailah makan malam singkat penuh paksaan dan suasana canggung itu. Iona segera keluar dari restaurant dan berdiri di depan mobil mewah Vigeno, Porsche 911.
"Keren sumpah Joe, kamu smash segampang itu gila!" puji Billy saat mereka, Joe dan Billy keluar dari minimarket yang berada di seberang restaurant tempat Iona dinner itu. Joe hanya tersenyum, lalu tak sengaja matanya menangkap Iona yang menunggui Vigeno di depan mobil mewah itu. Ia sempat heran kenapa gadis itu tak menjawab pesan atau teleponnya sedari sore.
"Lihat apa, Joe?"
"Itu... Iona. Dia cantik banget pake gaun itu. Dia lagi makan bareng keluarganya kali, ya?" gumam Joe senang. Menunjuk kekasihnya dengan bangga. Namun, betapa kagetnya Joe saat melihat seorang laki-laki menyusul Iona dan bahkan membukakan pintu mobil untuk kekasihnya. Penampilan Vigeno jelas bukan seperti seorang pelayan atau supir yang membukakan pintu mobil untuk tuannya, tapi lebih pantas dilihat menjadi seorang kekasih. Lebih lagi setelah dari restaurant.
"Loh, emang Iona punya kakak, ya, Joe?"
"Dia anak sulung, bego!"
Joe resah dengan kesalahpahaman itu. Benaknya segera mengingat peringai aneh Iona siang tadi, atau bahkan percakapan-percakapan soal kehilangan. Ditambah fisiknya yang kelelahan, dia termakan emosi sendiri. Tanpa berpikir panjang, Joe segera menyebrang jalan, meninggalkan Billy yang kebingungan.
"Iona!" panggil Joe, sudah berdiri tepat di depan mobil Porsche 911 yang sudah menyala itu. Betapa terkejutnya Iona melihat kekasihnya di depan mata. Sontak ia melepas sabuk pengaman dan segera keluar dari mobil itu. "Siapa dia?"
"Joe ..?"
Iona bingung setengah mati harus bicara apa ke Joe yang sedang naik darah itu. Joe menatap Iona penuh tanda tanya. Lebih banyak rasa kecewa yang terpatri di kedua manik mata yang sudah berkaca-kaca itu. Iona, satu satunya orang yang diberi Joe kepercayaan menghianatinya hari itu. Perasaannya sangat hancur seakan dia baru saja dihantam gada besi tepat di dadanya yang mulai terasa sesak.
"Kamu bilang kamu gak mau kehilangan aku, Na. Aku paham maksudmu sekarang. Dan sekarang kamu sukses kehilangan aku."
Joe segera meninggalkan Iona yang terkejut setengah mati mendengar ucapan dingin dari kekasihnya.
"Joe! Bukan gitu Joe!"
Iona berusaha mengejar Joe yang semakin jauh, akan tetapi karena hak tingginya yang tiba-tiba patah, dia jatuh dan kakinya bengkak, memar di mana-mana. Ia tak sanggup mengejar langkah Joe yang bahkan sudah menghilang dari tatapannya.
"Iona!" Vigeno segera membantu Iona berdiri dengan merangkul pinggang ramping gadis itu. Sementara Iona hanya menangis mengingat kekecewaan dan bagaimana raut wajah Joe yang tampak hancur saat meninggalkannya. Ketakutan dan kekhawatiran Iona terjadi juga, tapi tak secepat ini. Dia bahkan tak menyangka akan begini jadinya.
Ikut tersulut emosi, Iona menoleh kesal ke arah Vigeno yang tampak ikut kebingungan. Laki-laki itu merasa bersalah juga. "Ini semua karena kamu! Kenapa sih kamu harus datang di hidupku? Di tengah-tengah hubunganku sama Joe?!" jerit Iona sembari menepis tangan calon tunangannya itu.
"Aku gak butuh bantuanmu! Sekarang kamu pergi! Pergiii!" teriak Iona frustrasi.
"Na... aku harus antar kamu pulang."
"Gak perlu. Aku gak mau lihat wajahmu lagi. Aku juga bisa jalan kaki sendiri." Vigeno menatap Iona prihatin. "Pergi!" perintahnya sekali lagi. "Pergi atau kamu sama sekali gak bisa ketemu aku lagi!" teriak Iona penuh penekanan.
Pada akhirnya, Vigeno menghela nafas lalu segera pergi dari situ. Meninggalkan Iona yang kini mulai menangis dan menyesali semuanya.
Komentar
Posting Komentar