Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Sebelas [INA]
![]() |
| BiYA Chapter XI |
Harusnya Iona sadar, hidup di tubuh orang lain tidak semudah
dan seindah yang bisa dibayangkan. Selalu ada bayangan perih yang menyatakan
segamblang-gamblangnya jika semua perilaku baik atau hormat dari orang-orang
sejatinya ditujukan pada Stella Viviana, tak pernah dirinya. Mendengar
kata-kata Mas Bro yang mengharapkan Nona mereka kembali membuatnya merasa
sedih, baik ke diri sendiri maupun ke mereka. Karena sekeras apapun mereka
berharap, Nona mereka memang tak akan kembali. Hanya Iona yang tersisa kini.
“Kenapa kau di sini? Tampak menyedihkan.”
Iona menaikkan pandangan, melihat Fiki yang ada di tangga
atas. Gadis itu membiarkan Fiki turun untuk mendatanginya tanpa mendapat
jawaban sama sekali.
![]() |
| BiYA Chapter XI |
“Karena laki-laki itu lagi, kah? Bukannya dia mengajakmu
keluar lagi?”
“Kakak tahu dari mana?” tanya gadis itu terkejut.
“Pertanyaan itu tertuju untuk pertanyaanku yang mana?”
Iona menghela napas, memutuskan untuk menaiki tangga.
Meninggalkan kakaknya yang terus menyerukan namanya untuk kembali. Seorang
Stella mungkin akan menonjoknya baru beranjak, akan tetapi Iona tak sanggup
bahkan hanya untuk berdebat sebentar.
**✿❀ ❀✿**
Mobil biru tua itu terhenti, cukup jauh dari gerbang besar berwarna hitam yang tampak begitu menawan dan menakutkan dalam waktu yang bersamaan. Laki-laki itu menatap kediaman Buana dengan perasaan campur aduk. Cukup terkejut untuk menyadari dirinya sendiri menyetir sejauh ini hanya untuk menemuinya, memandang gerbang lebih tepatnya.
“Apa yang sesungguhnya menggerakkanku untuk kemari? Apa aku
sudah gila?”
Barangkali dua puluh menit hanya ia lalui untuk melamun
tanpa alasan jelas. Sampai saat ada sesuatu yang baru ia sadari dan cukup
mengusik benaknya. Berkali-kali ia melihat sosok dengan jersey abu dan celana
pendek yang berulang kali melalui kediaman Buana. Masalahnya wajar saja jika ia
kembali setelah memutari perumahan elite itu dalam beberapa menit, uniknya lima
menit sekali sosoknya berlari dari ujung ke ujung. Setelah cukup jauh, sosoknya
terdiam cukup lama. Membatu tak bergerak di ujung sana, lalu lari kembali dan
melakukan hal yang sama persis di ujung satunya.
![]() |
| BiYA Chapter XI |
Jelas hal ini cukup janggal bagi Joe, meski mungkin umum dan
sah-sah saja siapapun melalui jalan itu untuk berlari. Namun Joe cukup
penasaran mendapati fakta aneh itu. Baru hendak keluar, mungkin mendatangi
sosok itu dan menanyakan sesuatu, satu ketukan di jendela menyadarkan
lamunannya.
Dug!
Joe terperanjat, terutama saat menemui sosok dengan jersey
abu itu mendekatkan wajahnya, hampir menempel dengan jendelanya. Memang kaca
film Joe cukup tebal, barangkali sosok pria itu tak melihat wajahnya sama
sekali. Akan tetapi jantung Joe berdebar tidak tenang saat menyadari pria itu
melotot dan mulai menggedor-gedor kaca jendelanya dengan kedua kepalan
tangannya.
Tanpa pikir panjang, Joe menyalakan mesinnya dan menyetir
pergi dari sana dengan kecepatan kilat. Kini benaknya hanya penuh akan gadis
berambut pendek itu. Joe mengkhawatirkan keadaanya, entah kenapa ia rasa sosok
jersey abu itu… menginginkan sesuatu.
**✿❀ ❀✿**
“Ayah, biarkanlah Stella keluar sebentar saja. Aku akan
menjaganya. Dia juga butuh menghirup udara segar! Lihatlah dia hanya mendekam
terus di kamar. Ayah tidak sampai hati, bukan?”
“Terakhir kali aku membiarkannya pergi denganmu, dia
berakhir terkapar mengenaskan di rumah sakit selama beberapa bulan. Apa kau
lupa?”
Fiki terdiam, merenungkan ucapan Ayahnya.
“Bukan berarti Ayah menolak percaya denganmu lagi, Fiki.
Ayah hanya tidak mau hal buruk terjadi pada keluarga kita lagi. Setidaknya
sampai Ayah tahu siapa pelaku penyerangan itu.”
Buana kembali mengetik sesuatu di komputernya, membuat Fiki
mau tak mau melangkah keluar dari ruang kerja Ayahnya. Bahasa tubuh itu
menegaskan bila Keputusan Buana sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat. Iona
dalam tubuh Stella pun segera jalan berjinjit menjauh dari pintu ruangan itu,
berlagak jalan seolah-olah berpapasan dengan Fiki yang keluar dari ruangan.
“Bagaimana, kak? Aku boleh ikut?”
Fiki menggeleng, tapi sejenak kemudian tersenyum. “Tidak
apa, yaa. Nanti kakak belikan spicy wings kesukaan kamu. Tiga porsi jumbo,
yaa?”
Senyum Iona memudar. Banyak sekali hal asing yang harus ia
sesuaikan atau adaptasikan di kehidupan kali ini. Kali ini apalagi? Spicy
wings? Iona bahkan tidak suka bumbu pedas semacam itu, bagaimana mungkin
berselera untuk makan tiga porsi besar? Memang perutnya sanggup menghabiskan
sebanyak itu?
“Aku… tidak yakin bisa memakannya.”
“BAGAIMANA MUNGKIN KAMU BISA BICARA SEPERTI ITU? Dulu kau
selalu excited saat aku mention spicy wings, bahkan kau bisa menghabiskan
banyak tanpa minum air sedikitpun. Apa kau sudah bosan memakannya? Kamu tidak
menyukainya lagi?”
Iona terdiam, “Aku tidak pernah menyukainya.”
“Iona… tidak… Stella, janganlah begitu! Jangan membuatku
sedih! Jangan terus berbicara seolah kau ini orang lain! Kamu ini Stella, anak
bungsu keluarga Buana dan adikku satu-satunyaa! Hiburlah aku dan bilang bahwa
kau masih di sanaa, Stella!”
![]() |
| BiYA Chapter XI |
Fiki menarik tubuh adiknya dengan lain jiwa itu ke
pelukannya. Menangis tersedu dengan bibir bergetar. Iona yang jiwanya
menggerakkan tubuh itupun hanya menangis, kesedihannya tersampaikan pada tiap
syaraf tubuh Stella hingga matanya menitikkan air mata. Membanjiri bibirnya.
Jauh di sana, di dalam ruangan yang hening itu, Buana juga menangis tersedu.
Kesedihan menyerangnya tiba-tiba, terlebih akan fakta kekayaannya ini hanya
membuatnya merasa terancam bahaya bukannya bahagia. Padahal yang diinginkannya
hanya hidup sejahtera bersama keluarga tercinta.
**✿❀ ❀✿**
“Bagaimana, Pak? Mencari data pribadi orang?” Pak Ben, kepala divisi IT Security yang biasa menangani enkripsi data jaringan, sudah cukup terkejut kedatangan CEOnya langsung di mejanya. Terlebih saat mengucapkan hal-hal aneh di hadapannya, soal meminta data seseorang lewat social media. “Dari client atau siapa ya, Pak?”
“B-bukan client. Hanya… orang random.” Joe berdeham
sebentar. Membuat senyuman kaku saat orang yang berlalu-lalang di sana
menyadari kehadirannya. Ia mulai merutuki diri karena sudah membiarkan kakinya
melangkah ke titik ini. Jelas pemandangan langka bagi pegawai biasa di
kantornya. “Jika aku memberimu sembarang nama apa kamu bisa melacak mungkin
lebih jauh tentang keluarganya atau informasi penting tentang dia?”
Pegawai lelaki paruh baya itu tersenyum singkat, menggaruk
tengkuk lalu mengangguk. “Iya, bisa. Mungkin butuh dua, tiga hari Pak. Terutama
kerjaan saya—”
“Khusus untuk mengerjakan tugas ini, sementara kamu boleh
menunda tugas kamu dari kantor.” Pak Ben tersenyum begitu lebar, seolah bahagia
dan lega di saat yang bersamaan. “Tapi saya minta maksimal besok pagi data itu
sudah harus ada di meja saya.” Raut wajah pria paruh baya itu langsung berubah,
jelas saja permintaan itu sama buruknya dengan tumpukkan tugas yang malah akan
ditundanya semalaman.
“Anu—”
“Bulan ini saya kasih bonus.”
“Baik, atas nama siapa, Pak?”
Karya ini adalah hak milik intelektual Alinea Aneyla. Mohon untuk tidak menyalin, mendistribusikan, atau mempublikasikan ulang tanpa izin tertulis dari penulis.
Postingan Populer
Back into Your Arms: Bagian Satu [INA]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Satu [ENG]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
.png)




Komentar
Posting Komentar