Langsung ke konten utama

Unggulan

Back into Your Arms: Chapter Twelve [ENG]

BiYA Chapter XII “Is it okay… if I just take a walk in the front yard?” Buana sighed, turning his office chair to face the young woman who had been trying to convince him so she wouldn’t rot from boredom all by herself. “What’s there to see? Is it really that interesting to make you step out there?” Iona, in Stella’s body, nodded happily, as if she had gained a glimmer of hope from her father’s response. “Fine, as long as the Mas Bros are always accompanying you—” “Thank you, Dad!” Without missing a beat, Iona immediately dashed out of the room in high spirits. She forcibly pulled the two Mas Bros standing outside the room to accompany her for a walk in the front yard. Even she didn't know why she was this happy. Well… at least she could catch some fresh air out there. “Since when did Miss like books? Didn’t Miss used to feel nauseous whenever reading a book?” Mas Bro watched as she grabbed a black-covered novel, witnessing firsthand a total miracle where their Miss was suddenly in...

Back into Your Arms: Bagian Sebelas [INA]

Back into Your Arms
BiYA Chapter XI


Harusnya Iona sadar, hidup di tubuh orang lain tidak semudah dan seindah yang bisa dibayangkan. Selalu ada bayangan perih yang menyatakan segamblang-gamblangnya jika semua perilaku baik atau hormat dari orang-orang sejatinya ditujukan pada Stella Viviana, tak pernah dirinya. Mendengar kata-kata Mas Bro yang mengharapkan Nona mereka kembali membuatnya merasa sedih, baik ke diri sendiri maupun ke mereka. Karena sekeras apapun mereka berharap, Nona mereka memang tak akan kembali. Hanya Iona yang tersisa kini.

“Kenapa kau di sini? Tampak menyedihkan.”

Iona menaikkan pandangan, melihat Fiki yang ada di tangga atas. Gadis itu membiarkan Fiki turun untuk mendatanginya tanpa mendapat jawaban sama sekali.

Back into Your Arms
BiYA Chapter XI

“Karena laki-laki itu lagi, kah? Bukannya dia mengajakmu keluar lagi?”

“Kakak tahu dari mana?” tanya gadis itu terkejut.

“Pertanyaan itu tertuju untuk pertanyaanku yang mana?”

Iona menghela napas, memutuskan untuk menaiki tangga. Meninggalkan kakaknya yang terus menyerukan namanya untuk kembali. Seorang Stella mungkin akan menonjoknya baru beranjak, akan tetapi Iona tak sanggup bahkan hanya untuk berdebat sebentar.

*✿❀ ❀✿*

Mobil biru tua itu terhenti, cukup jauh dari gerbang besar berwarna hitam yang tampak begitu menawan dan menakutkan dalam waktu yang bersamaan. Laki-laki itu menatap kediaman Buana dengan perasaan campur aduk. Cukup terkejut untuk menyadari dirinya sendiri menyetir sejauh ini hanya untuk menemuinya, memandang gerbang lebih tepatnya.

“Apa yang sesungguhnya menggerakkanku untuk kemari? Apa aku sudah gila?”

Barangkali dua puluh menit hanya ia lalui untuk melamun tanpa alasan jelas. Sampai saat ada sesuatu yang baru ia sadari dan cukup mengusik benaknya. Berkali-kali ia melihat sosok dengan jersey abu dan celana pendek yang berulang kali melalui kediaman Buana. Masalahnya wajar saja jika ia kembali setelah memutari perumahan elite itu dalam beberapa menit, uniknya lima menit sekali sosoknya berlari dari ujung ke ujung. Setelah cukup jauh, sosoknya terdiam cukup lama. Membatu tak bergerak di ujung sana, lalu lari kembali dan melakukan hal yang sama persis di ujung satunya.

Back into Your Arms
BiYA Chapter XI


Jelas hal ini cukup janggal bagi Joe, meski mungkin umum dan sah-sah saja siapapun melalui jalan itu untuk berlari. Namun Joe cukup penasaran mendapati fakta aneh itu. Baru hendak keluar, mungkin mendatangi sosok itu dan menanyakan sesuatu, satu ketukan di jendela menyadarkan lamunannya.

Dug!

Joe terperanjat, terutama saat menemui sosok dengan jersey abu itu mendekatkan wajahnya, hampir menempel dengan jendelanya. Memang kaca film Joe cukup tebal, barangkali sosok pria itu tak melihat wajahnya sama sekali. Akan tetapi jantung Joe berdebar tidak tenang saat menyadari pria itu melotot dan mulai menggedor-gedor kaca jendelanya dengan kedua kepalan tangannya.

Tanpa pikir panjang, Joe menyalakan mesinnya dan menyetir pergi dari sana dengan kecepatan kilat. Kini benaknya hanya penuh akan gadis berambut pendek itu. Joe mengkhawatirkan keadaanya, entah kenapa ia rasa sosok jersey abu itu… menginginkan sesuatu.

*✿❀ ❀✿*

“Ayah, biarkanlah Stella keluar sebentar saja. Aku akan menjaganya. Dia juga butuh menghirup udara segar! Lihatlah dia hanya mendekam terus di kamar. Ayah tidak sampai hati, bukan?”

“Terakhir kali aku membiarkannya pergi denganmu, dia berakhir terkapar mengenaskan di rumah sakit selama beberapa bulan. Apa kau lupa?”

Fiki terdiam, merenungkan ucapan Ayahnya.

“Bukan berarti Ayah menolak percaya denganmu lagi, Fiki. Ayah hanya tidak mau hal buruk terjadi pada keluarga kita lagi. Setidaknya sampai Ayah tahu siapa pelaku penyerangan itu.”

Buana kembali mengetik sesuatu di komputernya, membuat Fiki mau tak mau melangkah keluar dari ruang kerja Ayahnya. Bahasa tubuh itu menegaskan bila Keputusan Buana sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat. Iona dalam tubuh Stella pun segera jalan berjinjit menjauh dari pintu ruangan itu, berlagak jalan seolah-olah berpapasan dengan Fiki yang keluar dari ruangan.

“Bagaimana, kak? Aku boleh ikut?”

Fiki menggeleng, tapi sejenak kemudian tersenyum. “Tidak apa, yaa. Nanti kakak belikan spicy wings kesukaan kamu. Tiga porsi jumbo, yaa?”

Senyum Iona memudar. Banyak sekali hal asing yang harus ia sesuaikan atau adaptasikan di kehidupan kali ini. Kali ini apalagi? Spicy wings? Iona bahkan tidak suka bumbu pedas semacam itu, bagaimana mungkin berselera untuk makan tiga porsi besar? Memang perutnya sanggup menghabiskan sebanyak itu?

“Aku… tidak yakin bisa memakannya.”

“BAGAIMANA MUNGKIN KAMU BISA BICARA SEPERTI ITU? Dulu kau selalu excited saat aku mention spicy wings, bahkan kau bisa menghabiskan banyak tanpa minum air sedikitpun. Apa kau sudah bosan memakannya? Kamu tidak menyukainya lagi?”

Iona terdiam, “Aku tidak pernah menyukainya.”

“Iona… tidak… Stella, janganlah begitu! Jangan membuatku sedih! Jangan terus berbicara seolah kau ini orang lain! Kamu ini Stella, anak bungsu keluarga Buana dan adikku satu-satunyaa! Hiburlah aku dan bilang bahwa kau masih di sanaa, Stella!”

Back into Your Arms
BiYA Chapter XI

Fiki menarik tubuh adiknya dengan lain jiwa itu ke pelukannya. Menangis tersedu dengan bibir bergetar. Iona yang jiwanya menggerakkan tubuh itupun hanya menangis, kesedihannya tersampaikan pada tiap syaraf tubuh Stella hingga matanya menitikkan air mata. Membanjiri bibirnya. Jauh di sana, di dalam ruangan yang hening itu, Buana juga menangis tersedu. Kesedihan menyerangnya tiba-tiba, terlebih akan fakta kekayaannya ini hanya membuatnya merasa terancam bahaya bukannya bahagia. Padahal yang diinginkannya hanya hidup sejahtera bersama keluarga tercinta.

*✿❀ ❀✿*


“Bagaimana, Pak? Mencari data pribadi orang?” Pak Ben, kepala divisi IT Security yang biasa menangani enkripsi data jaringan, sudah cukup terkejut kedatangan CEOnya langsung di mejanya. Terlebih saat mengucapkan hal-hal aneh di hadapannya, soal meminta data seseorang lewat social media. “Dari client atau siapa ya, Pak?”

“B-bukan client. Hanya… orang random.” Joe berdeham sebentar. Membuat senyuman kaku saat orang yang berlalu-lalang di sana menyadari kehadirannya. Ia mulai merutuki diri karena sudah membiarkan kakinya melangkah ke titik ini. Jelas pemandangan langka bagi pegawai biasa di kantornya. “Jika aku memberimu sembarang nama apa kamu bisa melacak mungkin lebih jauh tentang keluarganya atau informasi penting tentang dia?”

Pegawai lelaki paruh baya itu tersenyum singkat, menggaruk tengkuk lalu mengangguk. “Iya, bisa. Mungkin butuh dua, tiga hari Pak. Terutama kerjaan saya—”

“Khusus untuk mengerjakan tugas ini, sementara kamu boleh menunda tugas kamu dari kantor.” Pak Ben tersenyum begitu lebar, seolah bahagia dan lega di saat yang bersamaan. “Tapi saya minta maksimal besok pagi data itu sudah harus ada di meja saya.” Raut wajah pria paruh baya itu langsung berubah, jelas saja permintaan itu sama buruknya dengan tumpukkan tugas yang malah akan ditundanya semalaman.

“Anu—”

“Bulan ini saya kasih bonus.”

“Baik, atas nama siapa, Pak?”


 

Back into Your Arms
BiYA Chapter XI

Karya ini adalah hak milik intelektual Alinea Aneyla. Mohon untuk tidak menyalin, mendistribusikan, atau mempublikasikan ulang tanpa izin tertulis dari penulis.





Komentar

Postingan Populer

About Us   |   Contact   |   Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 ALINEA ANEYLA. Tiap kata miliki jiwa.