Langsung ke konten utama

Unggulan

Back into Your Arms: Chapter Twelve [ENG]

BiYA Chapter XII “Is it okay… if I just take a walk in the front yard?” Buana sighed, turning his office chair to face the young woman who had been trying to convince him so she wouldn’t rot from boredom all by herself. “What’s there to see? Is it really that interesting to make you step out there?” Iona, in Stella’s body, nodded happily, as if she had gained a glimmer of hope from her father’s response. “Fine, as long as the Mas Bros are always accompanying you—” “Thank you, Dad!” Without missing a beat, Iona immediately dashed out of the room in high spirits. She forcibly pulled the two Mas Bros standing outside the room to accompany her for a walk in the front yard. Even she didn't know why she was this happy. Well… at least she could catch some fresh air out there. “Since when did Miss like books? Didn’t Miss used to feel nauseous whenever reading a book?” Mas Bro watched as she grabbed a black-covered novel, witnessing firsthand a total miracle where their Miss was suddenly in...

Back into Your Arms: Bagian Dua Belas [INA]

Back into Your Arms
BiYA Chapter XII


“Kalau untuk sekadar berjalan-jalan di halaman depan apakah… boleh?”

Buana menghela napas, memutar kursi kantornya menghadap sosok perempuan yang sedari tadi berusaha membujuknya supaya ia tidak membusuk kebosanan seorang diri.

“Apa yang bisa dilihat? Memangnya cukup menarik untuk membuatmu melangkahkan kaki ke sana?” Iona dalam tubuh Stella mengangguk senang, seolah sudah mendapat harapan dari jawaban Ayahnya itu. “Baiklah, selagi Mas Bro selalu mendampingimu—”

“Terima kasih Ayah!”

Tanpa babibu, Iona segera berlari senang ke luar ruangan. Menarik paksa dua Mas Bro yang berdiri di luar ruangan untuk menemaninya berjalan-jalan di halaman depan. Ia sendiri pun tidak tahu kenapa ia sesenang itu. Yahh… setidaknya ia bisa menghirup udara segar di sana.

“Sejak kapan Nona suka buku? Bukankah Nona suka mual saat membaca buku?”

Mas Bro melihatnya menyambar satu buku novel dengan sampul hitam itu, menyaksikan langsung suatu keajaiban di mana Nona mereka tiba-tiba tertarik membaca rentetan huruf dalam ratusan lembar. Terdiam sesaat, Iona memandang novel di tangannya, lalu pelan-pelan membaca. Ia tidak merasakan dorongan apa pun yang bisa membuatnya mual atau tidak nyaman di tubuh Stella, hingga kemudian ia tertawa kecil. Baru menyadari jika sosok Stella ini kocak juga semasa hidupnya.

“Aku mungkin terlalu banyak berbual dulu...”

Tanpa menjelaskan lebih lanjut, meninggalkan Mas Bro yang menggaruk tengkuk, Iona berjalan menuruni tangga. Menuju halaman rumah yang belum pernah dijarahnya betul-betul selama ini.

“Nona….”

Iona yang masih membaca buku, terduduk di atas egg chair itu hanya bergumam. Malas melepaskan pandangan matanya dari novel tebal itu. Ia tengah membaca bagian terseru dari bab itu.

“Apakah menurut Nona… sosok itu cukup mencurigakan?” Fokus Iona buyar sejenak, matanya mulai terarah ke depan kemudian ke dua Mas Bro yang menatap satu titik selama beberapa saat. “Sudah sekitar 10 menit dia berkeliaran di jalanan depan, cukup berulang. Kali ini dia berdiri tepat di depan gerbang.”

Iona menaruh bukunya di atas kursi, beranjak dari sana kemudian mulai berjalan mendekat.

“Tidak perlu mendekat, Nona!” Mas Bro berusaha mencegah, akan tetapi Iona sudah melangkah lebih cepat. “Nona! Tetaplah di sini! Nona!?”

“…. JOE?!”

Iona berlari melesat, mendekati gerbang tanpa rasa takut atau terancam sedikit pun. Jelas kedua Mas Bro yang mengawalnya langsung ikut berlari, menyodorkan senjata api untuk jaga-jaga. Jelas sosok pria itu terkejut bukan main saat tiga sosok mengerubunginya, bahkan menyodorkan senjata tanpa keraguan.

“Kamu ngapain?”

Joe kehabisan kata. Dia hanya mendelik, bingung harus menimpali dengan apa. Niat awalnya berpakaian persis seperti pria misterius semalam untuk memancing sosok aslinya keluar atau menguji reaksi penjaga kediaman Buana justru malah membuatnya berada di ujung tanduk seperti ini.

“Kamu menguntit?”

“H-HAH? J-JELAS TIDAK! UNTUK APA?” Joe melihat ke kanan dan kiri dengan cepat, Mas Bro kini dengan mantap mengarahkan senjata api tepat ke kepalanya. Meski posisi Joe saat ini ada di luar kawasan Keluarga Buana, akan tetapi jelas pelurunya bisa melesat di antara jeruji gerbang dan memecahkan otaknya. “Apakah aku harus angkat tangan sekarang?”

“Turunkan senjatanya! Dia temanku!”

“Jika dia teman Nona, kenapa tidak menghubungi Nona dan meneleponnya alih-alih muncul dengan jersey abu, celana pendek, dan topi hitam seperti ini?” tanya Mas Bro yang berdiri di sebelah kiri.

“Setuju! Jika dia tidak berniat buruk pun kenapa dia bicara terbata-bata dan teriak seperti itu?” timpal Mas Bro sebelah kanan.

Iona menghela napas kemudian mendorong jauh kedua Mas Bro-nya, “Orang normal mana yang tetap tenang saat disodori senjata api, hah?!” Iona berdecak sebal. “Sekarang bukakan gerbang itu untukku! Biarkan temanku masuk!”

Mungkin karena jeritannya yang kuat dan membawa trauma masa lalu—ketika Nona mereka masih dalam masa prima, alias 100% Stella—para pengawal keluarga Buana itu langsung berlari. Membuka gerbang segera atas perintah Nona mereka.

*✿❀ ❀✿*

“Siapa namamu tadi?”

“J-joe… Om…?”

Buana melirik tajam, sekarang mendekatkan tubuhnya ke wajah Joe yang bergetar tidak nyaman. Sangat dekat. Mungkin hanya satu milimeter dari Joe.

“Ayah! Ayah jangan buat Joe tidak nyaman!” Entah keberanian dari mana, Iona menarik Buana supaya menjauhi Joe yang mulai keringat dingin.

“Memang dia siapa? Ayah tidak ingat kamu punya teman seperti dia! Memangnya kamu pernah punya teman?”

“Ayah!” Iona mencubit Buana supaya lelaki paruh baya—yang di kehidupan ini menjadi Ayahnya—terdiam. “Jangan permalukan aku di depan dia!” Kali ini Iona berbisik geram tepat di telinga kiri Ayahnya.

“Memangnya dia siapa? Hanya karena dia CEO Irena Company jadi kita harus hormat dan santun?!” Buana mungkin berniat bisik-bisik, hanya saja suaranya terlampau keras. Joe yang didudukkan paksa di kursi pun bisa mendengarnya.

“Iya, Ayah tahu. Ayah sedikit menyelidikinya kemarin!” tambah Buana lagi saat melihat raut kebingungan anak bungsunya.

“Maaf Ayah… aku memang tidak pernah cerita ke Ayah tentang dia selama ini.”

Di waktu yang bersamaan, alis Buana dan Joe bertaut keheranan. Sama-sama bingung akan maksud Stella yang dihidupkan oleh jiwa Iona.

“Bohong! Ayah pasti tahu siapa dia jika kamu sudah mengenalnya lama!”

Mereka masih melanjutkan bisik-bisik dengan volume keras itu. Joe ikut menyimak, karena jujur saja ia penasaran kenapa tiba-tiba seorang Stella Viviana—yang sekali lagi, sejatinya hidup karena roh Iona—datang di hidupnya seolah tanpa alasan jelas dan tidak pernah pergi dari benaknya. Joe membenarkan posisi duduknya, akan tetapi dua Mas Bro yang mengawasinya mendelik karena ia bergerak tanpa seizin mereka. Joe menelan ludah dan kembali ke posisi semula.

“Aku… melihatnya di mimpi.” Iona ingin memukuli keningnya sendiri karena hanya itu alasan yang bisa keluar dari mulutnya. Sangat tidak masuk akal! Akan tetapi hanya itu alasan yang muncul di benaknya.

“Lalu? Kau melihat sosoknya di mimpi dan memutuskan mendekatinya? Ingin mengenalnya lebih jauh? Ingin memacarinya?” Buana semakin meninggikan nadanya, merasa jawaban anaknya tidak masuk akal. “Ternyata setelah koma kau masih sama, Stella sayang… tidak masuk akal—”

“Tidak sesederhana itu, Ayah… aku… selalu melihatnya di mimpi panjangku saat koma.” Iona seolah mengumpamakan hidupnya dalam tidur panjang yang Stella alami. Entah kenapa darah Joe berdesir, ia tertegun mendengarnya. “Aku adalah temannya dari kecil hingga kemudian menjadi kekasihnya, satu-satunya… aku menemaninya bermain badminton, kita menghabiskan waktu di kebun apel hijau, mengerjakan tugas bersama-sama….”

Iona terhenti karena mulutnya tak sanggup lagi berkata, air mata sudah menetes deras di kedua pipi. Badannya bergetar. Joe yang mendengarnya pun ikut merinding, bahkan semua bayangan soal masa-

masa bahagianya dengan Iona terputar jelas di otaknya saat bibir Stella—sosok yang dilihatnya secara kasat mata—mengucapkan memori yang memang pernah dialaminya.

“Sayangku, kasihku… apa yang kau rasakan sekarang.” Buana langsung mendekap anaknya yang tak bergerak selain bergetar sedih. Hati lelaki paruh baya itu pun hancur saat menyaksikan tubuh anaknya itu bergetar penuh kesedihan, tanpa pernah tahu di dalam sana tidak lagi anak perempuannya. Melainkan sosok Iona yang putus asa dengan garis takdirnya.

*✿❀ ❀✿*

“Kau sungguh… melihat itu semua di mimpi panjangmu?”

Iona mendelik, menoleh ke arah Joe yang tengah menatapnya lamat-lamat. Tatapan dalam, teduh, penuh kesedihan. Iona tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya laki-laki itu pikirkan. Hanya saja ia merasa sedih karena tatapan itu adalah tatapan yang sama persis dengan adegan terakhir di hidupnya sebagai seorang Iona. Tepat sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya.

Sesungguhnya, keinginan Iona pertama kali saat berhasil menemui Joe adalah untuk memukulnya, berteriak dan bertanya kenapa ia tidak percaya padanya. Bahkan dengan keji Joe menerima penjodohan dengan perempuan lain. Tidak pernah mengucapkan apa pun, tidak mencoba menghubunginya. Lalu ajaibnya, cinta Iona lebih besar untuk meluapkan semua amarah itu. Justru yang ingin dilakukannya adalah memeluknya erat dan memohon padanya untuk kembali ke pelukannya. Kembali ke dekapannya.

Back into Your Arms
BiYA Chapter XII

   Karya ini adalah hak milik intelektual Alinea Aneyla. Mohon untuk tidak menyalin, mendistribusikan, atau mempublikasikan ulang tanpa izin tertulis dari penulis.

Komentar

Postingan Populer

About Us   |   Contact   |   Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 ALINEA ANEYLA. Tiap kata miliki jiwa.