Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Sembilan [INA]
![]() |
| BiYA Chapter IX |
Joe menghentikan mobilnya di depan tenda pecel lele. Ia terdiam sejenak, memandang Iona yang masih tersenyum lebar di sampingnya. Sangat jarang Iona memakan pecel lele selama hidupnya karena Mamanya cukup ketat soal aturan makan. Maka, membayangkan makan itu bersama orang tersayangnya membuat Iona kegirangan sendiri. Namun, Iona berusaha menjaga ekspresinya, memikirkan apa yang harus ia katakan nanti saat berhadapan dengan Joe.
"Kenapa? Kau mengharapkan restoran bintang lima atau makanan mahal lainnya?" tanya Joe datar.
"Tidak! Aku senang saja, kok."
![]() |
| source: Gemini |
Joe memutar bola matanya, mengambil kunci lalu membuka pintu mobil. Tanpa menunggu Iona keluar, ia sudah lebih dahulu melangkah masuk ke tenda pecel lele dan terduduk di salah satu kursi kayu di sana. Dengan langkah tergesa, Iona berhasil menyusul Joe yang masih memasang wajah dingin.
"Sudah bersyukur kau tidak kukunci di sana," sela Joe ketus saat Iona baru saja membuka mulut untuk memprotes.
Iona akhirnya terduduk di hadapan Joe. Laki-laki itu tampak sibuk melihat menu yang ada di selebaran kertas dilaminating. Gadis itu sebal, tapi ada rasa bangga yang menyelinap; ia tak menyangka Joe yang sesukses ini masih berkenan makan sederhana di pinggir jalan, berbaur dengan orang-orang yang meramaikan suasana.
"Kamu sering ke tempat ini?" tanya Iona hati-hati.
"Cukup sering. Kenapa? Kau tidak betah ya di tempat seperti ini? Bagimu tempat ini kumuh dan menjijikkan?"
"Astaga... aku tidak pernah berpikir seperti itu." Entah kenapa rasanya sangat sakit mendengar tuduhan itu keluar dari mulut Joe, sosok yang sangat dikasihinya. "Aku hanya penasaran..."
Joe tak mengucapkan apa-apa, malah membuat gestur memanggil pegawai. Setelah memesan, keheningan kembali menyergap. Iona terdiam, sedikit terguncang melihat sisi dingin Joe yang mengingatkannya pada masa kritis—saat terakhir ia menemui Joe yang salah paham padanya sebelum segalanya berubah.
Makanan datang, lengkap dengan mangkuk cuci tangan. Baunya memang menggoda, tapi Iona mendadak kehilangan selera. Ia hanya memandangi piringnya dengan mata yang mulai menggenang; air mata menahan tangisan yang menyesak di dada.
Joe mendongak, dan gerakannya terhenti. Melihat binar air mata di mata gadis di hadapannya, ada sesuatu yang menusuk nuraninya—rasa bersalah yang asing.
"Maaf, mungkin aku terlalu kasar," gumam Joe, suaranya melunak beberapa nada. "Tapi makanlah. Aku yang bayar nanti."
"Tidak, biar aku yang bertanggung jawab—"
"Karena aku masih mau menemuimu lagi," potong Joe cepat.
Iona tertegun, memandang Joe lekat-lekat. Perubahan tiba-tiba ini membuatnya bertanya-tanya. "Kenapa?"
"Entah karena gesturmu atau entahlah... tapi kau mengingatkanku pada seseorang. Kau terasa sangat familiar bagiku. Aku... suka sensasi itu."
Iona tak tahu harus berekspresi apa. Ia sadar bahwa meski ia berada di tubuh Stella, aura jiwanya tak bisa disembunyikan dari Joe. Tanpa kata, Iona mulai menyentuh makanannya. Air mata di pelupuknya mengering, berganti binar bahagia.
"Hubungi aku setelah ini saat kau bebas. Aku akan memberimu nomor kantorku. Aku masih sibuk beberapa hari ke depan, tapi akan kusempatkan waktu untuk menemuimu. Apa kau mendengarku?"
"Ah... iya, tentu saja."
Meski tak ada percakapan lagi setelah itu, Iona merasa sangat bahagia. Harapannya untuk kembali ke dekapan Joe terasa selangkah lebih dekat.
**✿❀ ❀✿**
"Bagaimana hasilnya?" tanya Fiat saat Iona tiba di rumah.
"Dia memberiku nomor kantornya."
"Nomor kantor?!" Fiat menyambar kartu nama itu. Matanya membelalak ngeri. "Laki-laki macam apa yang memberi nomor kantor ke perempuan? Dia minta kau menghubunginya dan kau bersedia? Kau ini memang sedang kecintaan, ya? Harusnya dia yang menghubungimu!"
Iona hanya merespons dengan anggukan kecil yang membuat Fiat makin gemas.
"Lalu kau kemari naik apa?"
![]() |
| source: Gemini |
"Dia... mengantarku."
"Hm... awalan yang bagus. Makan di mana kalian?"
"Pecel... lele."
"PECEL LELE?!" Fiat berteriak, wajahnya pucat pasi. "Kau gila? Kau yakin itu aman dikonsumsi? Kau itu baru saja pulih dari pengeroyokan, Stella! Luka dalammu belum sepenuhnya kering. Bagaimana kalau ada bakteri? Bagaimana kalau kau drop lagi karena makanan pinggir jalan?!"
Blamm!
Iona membanting dan mengunci pintu kamarnya agar tak perlu mendengar ocehan kakaknya yang protektif berlebihan. Suara jeritan panik Fiat segera tersamarkan oleh perangkat white noise di kamarnya. Iona tersenyum lebar, mereview kembali setiap detik bersama Joe hari ini.
Di tempat lain, Joe menjatuhkan dirinya di ranjang. Ia memandang langit-langit dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia heran kenapa ia merasa sudah mengenal Stella begitu lama. Bukan wajahnya, tapi sesuatu yang tak bisa ia deskripsikan. Kepalanya yang sering pening pun mendadak terasa lega. Mengingat noda kecap di wajah Stella tadi membuat Joe tersenyum kecil tanpa sadar.
**✿❀ ❀✿**
Keesokan paginya, suasana kembali tegang.
"Iona sayang, apa benar kau menyuruh Mas Bro untuk pergi semalam?" tanya Buana, ayahnya.
Iona yang tengah melahap roti selai hanya mengangguk tipis, bersiap menerima omelan.
"Kau tahu mereka punya tugas menjaga keselamatanmu? Apalagi kau pergi dengan laki-laki asing yang belum Ayah cari bibit, bebet, bobot-nya! Kau kenal dia dari mana? Ayah merasa tidak pernah menjodohkanmu dengan orang itu!"
"Cuma makan, Yah. Lalu langsung pulang. Aku aman."
"Kamu lupa saat itu kamu dan Fiat hanya pulang dari kantor? Lalu kamu dijebak, dipisahkan dari Fiat, dan..." Buana tak sanggup melanjutkan. Ia terisak.
Iona terkejut. Ia segera mendekat dan merangkul ayahnya yang gemetar menahan tangis.
![]() |
| source: Gemini |
"Ayah hanya tidak mau kamu kenapa-kenapa lagi... Orang yang mencelakaimu itu masih berkeliaran. Polisi belum menemukan apa-apa. Ayah hanya tenang jika kau pergi bersama Mas Bro... itu saja."
Iona mengangguk paham. Ia lupa bahwa hidup di tubuh Stella Viviana berarti hidup dalam bahaya. Kekuasaan keluarga Buana di dunia ekonomi membuat mereka jadi sasaran empuk saingan bisnis yang kotor.
"Jadi tolong, jangan temui laki-laki itu sampai Ayah tahu banyak soal dirinya, ya? Hanya itu permohonan Ayah."
Iona mengangguk patuh, meski batinnya jelas memberontak. Ia tak akan membiarkan kesempatan kembali pada Joe hilang begitu saja.![]() |
| BiYA Chapter IX |
Postingan Populer
Back into Your Arms: Bagian Satu [INA]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Satu [ENG]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
.png)




Komentar
Posting Komentar