Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Tujuh [INA]
![]() |
| BiYA Chapter VII |
“Kamu dari mana saja?”
Iona terlonjak begitu melihat Fiki
yang bersidekap menghadapnya dengan mata mendelik. Mas Bro yang melihatnya pun
bergidik ngeri dan segera kabur, meninggalkan Iona sendirian. Gadis itu hanya
menggaruk tengkuk karena bingung harus mengatakan apa. Dari cara Fiki memandangnya
pun tampak jika laki-laki itu sangat mengintimidasi.
“Kau mau balas dendam dalam
keadaan tubuh serapuh itu?”
“Tidak, aku—”
“Bilang saja jika kau tahu siapa
dalangnya, akan aku kirim seratus orang kalau perlu untuk menghabisinya—”
“Bukan kak!” Iona dengan panik
terus melambaikan kedua telapak
tangannya. Berusaha meredakan emosi Fiki yang membuncah. Laki-laki itu
tampak sangat marah karena dadanya naik turun tidak tenang.
“Lalu kenapa? Jangan sok jago
kamu!” Semakin Fiki meninggikan suaranya, makin lelaki itu melangkah mendekati
Iona seperti akan menerkamnya. “Hanya datang dengan dua orang saja! Kau pikir
kau aman karena—”
![]() |
| source: Gemini |
“Aku menemui cinta pertamaku, kak!”
seru Iona sembari menutup kedua matanya. Takut jika sedetik kemudian Fiki akan
melambungkan pukulan atau entahlah… Iona kan tidak tahu bagaimana sejatinya
keluarga Buana ini berdinamika. Namun tatapan Fiki itu memang menakutkan.
Iona memberanikan diri untuk
membuka mata, mengintip sedikit. Agak terkejut saat melihat Fiki tertegun dan
melamun, tapi pandangannya jauh ke arah depan. Seolah tidak pernah siap
mendapat jawaban itu dari bibir adik satu-satunya. Entah dia terkejut atau
terguncang mendengar itu karena butuh beberapa menit untuknya terdiam. Mencerna ucapan Iona yang dipandangannya adalah Stella—adik kandungnya.
“Cinta pertama?” Fiki bertanya
dengan suara lirih. Sedetik kemudian membekap mulutnya dirinya yang menganga
lebar. Kemudian menggeleng dramatis seakan berita itu begitu mustahil baginya. “KAU
BISA JATUH CINTA?”
Iona yang tadinya takut dan panik
menjadi tersinggung seketika. Enak saja! Maksudnya apa orang ini? Emang hati
Stella sedingin apa sampai reaksi Fiki sedramatis ini? Atau memang gadis ini
tidak pernah jatuh cinta sebelumnya?
“Gak… gak mungkin. Gak mungkin
ini cuma Disosiasi Identitas semata! Pasti ada gejala yang lebih parah dari
ini!” Fiki memutuskan. Dia berjalan mondar-mandir di depan Iona lalu mendadak
terdiam. “Ayo kita ke dokter!” Tiba-tiba Fiki menarik paksa tangan Iona, hendak
membawa gadis itu keluar dari rumah lagi. Menyeretnya ke rumah sakit.
“HAH? Kakak kenapa, sih? Normal
untukku jatuh cinta. Kakak kenapa, sih?”
“Tidak! Dulu kau bilang semua
laki-laki itu hama! Kau bahkan bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun, apa
pun yang terjadi!” seru Fiki penuh energi.
“Manusia pasti berubah, kak!
Siapa yang tahu akan garis takdir, bukan?”
“Kau sungguh-sungguh Stella, ‘kan?
Atau kau kerasukan roh?”
MATI AKU! desis Iona, terlebih
saat Fiki memandangnya tajam-tajam. Sampai mungkin menatap lurus-lurus ke roh
Iona yang ikut bergetar.
“Disosiasi Identitas macam apa
ini? Kau seperti krisis identitas—”
“Ada apa ini Fiki? Kenapa kau terus
bicara nada tinggi dengan adikmu terkasih ini?” Mendadak dari ruang tengah
datang Buana dengan wajah bingung serta panik. Terlebih saat melihat posisi
Fiki yang akan menyeret Iona paksa entah ke mana. “Kau pasti kehilangan akalmu,
ya? Kau kenapa sekasar itu dengan adikmu, hah? Kesalahan macam apa yang dia perbu—ah
tidak, kesalahan apa yang kau perbuat, hah?”
“Ayah….” Fiki berusaha membela
diri, menjelaskan maksudnya, akan tetapi Buana menggeleng tak mau tahu. Pria
paruh baya itu datang, melepas cengkraman Fiki pada tangan Iona lalu membawa
tubuh anak gadisnya pergi dari sana. “Ayah… setidaknya kau dengar dulu
alasanku, Yah!”
Buana tak menggubris seruan Fiki
yang hanya menjerit dari tempatnya berdiri. Tanpa beranjak. Sedang Iona hanya
terdiam dan mengamati kejadian dramatis yang baru saja menimpa dirinya. Dinamika
macam apa ini? Mungkin hanya keluarga Buana yang mengalami kejadian sepelik
ini.
**✿❀ ❀✿**
Joe melompat ke atas Kasur tanpa
melepas seluruh atribut kerjanya. Bahkan kedua Sepatu hitamnya masih menempel
di kaki. Joe menatap langit-langit kamarnya yang barangkali bisa bilang bosan
karena selalu jadi objek yang ia pandang. Ia mendadak teringat kejadian tadi
siang saat seorang satpam berani menghentikan laju mobilnya. Seumur hidupnya
menjadi direktur, baru kali ini ia diberhentikan dengan sangat tidak pantas
seperti itu.
![]() |
| source: Gemini |
Dipikir-pikir cukup janggal juga.
Sepenting itukah urusan yang ingin ‘seseorang’ itu sampaikan? Atau orang itu
memang sangat mendesak pegawainya sampai-sampai seorang satpam pun berani
menghadang laju mobilnya?
Joe meraup wajahnya, berusaha
menghilangkan hal-hal kecil yang mungkin akan memperkeruh pikirannya sekarang. Tanpa
mengubah arah pandangannya, Joe menghembuskan napas sekuat mungkin. Berharap
dengan itu semua emosi dan rada rindunya menguap bersamaan dengan karbon
dioksida yang keluar dari lubang hidungnya. Andai memang semudah itu membuang
semua rasa rindunya pada Iona. Ia pasti tidak akan semenderita ini.
“Jadi kau sungguh-sungguh jatuh
cinta?”
Iona mendelik, terkejut saat
mendapati Fiki membuka paksa pintunya. Mendadak berdiri di samping meja belajarnya,
menyejajari Iona yang tengah membaca setumpuk kertas soal Joe. Gadis itu tampak
seperti stalker sejati yang haus akan keinginan bertemu Joe. Lebih lagi dengan kedatangan Fiki tiba-tiba ini membuatnya malu. Pipinya bersemu merah tak bisa menahan malu.
![]() |
| source: Gemini |
“Ah? Uhm….”
“Kau bahkan menyuruh Mas Bro
untuk mencari tahu banyak hal tentang laki-laki itu? Wuah… sejak kapan kau menyukainya?”
Iona langsung menutup semua tumpukan
kertas yang berantakan di hadapannya dengan kepalanya. Gadis itu merebahkan
kepalanya, mengarahkan pandangan ke Fiki yang terus menatap meja yang penuh
akan kertas yang sudah dicoret sana-sini itu. Tanda di mana Iona pikir itu
penting untuk dilingkari atau garis bawahi.
“Kenapa tiba-tiba masuk—”
“Maaf, aku pikir kamu benar-benar
orang yang berbeda sekarang… makannya aku cukup bingung dengan perubahanmu.
Rupanya kau jatuh cinta dengannya, makannya kau banyak berubah? Tapi di mana
kau menemuinya? Café? Bar? Atau apa? Sejak kapan pula? Atau di hari yang sama
dengan kau koma?”
Iona menggaruk tengkuknya lagi. Kakaknya
ini memang tidak memberinya kesempatan untuk menjawab. Justru membombardir
dengan puluhan pertanyaan yang mendetail. Sepertinya Jodhokerto tak serewel itu
untuk menanyakan segala sesuatu seolah perjodohan dan pernikahan yang akan
diselenggarakan.
“Tapi mana mungkin kau hanya ingat
dia jika kau hanya amnesia? Cintamu
sebesar itukah? Atau selama koma kau berimajinasi jadi alam bawah sadarmu terus
menyerukan namanya? Atau setelah kau pergi ke butik dengan Ayah kau ke kencan buta, kah?”
“Kak… kau sungguh tak memberiku kesempatan untuk menjawab?”
Fiki tak balas menjawab, justru
kembali membekap mulutnya lagi yang jauh lebih menganga. Kali ini sorot matanya
percaya, bahkan cukup berkaca-kaca karena terharu saat mengetahui betul jika Iona
benar-benar mencintai seseorang. Setidaknya yang ia tahu, Stella lah yang jatuh
cinta karena Iona hidup di tubuhnya.
“Apa ada yang bisa kulakukan
untukmu mendapatkan hatinya? Kau perlu bantuan?”
Iona memandang Fiki tajam-tajam.
Fiki pun masih di posisinya—membekap mulut dengan mata melotot tanpa kedip
sedikitpun.
“Sebelumnya Stella benar-benar
tidak pernah mencintai seorang pun?” tanya Iona, menunjuk dirinya sendiri.
Masih di posisi yang sama, Fiki
mengangguk, anggukan kepala yang begitu pelan dan patah-patah.
“Di hari pertama kau boleh keluar,
kau langsung berpikir untuk ikut kencan buta? Wah… kau memang visioner ya, Stell—uhm…
maksudku Iona. Koma itu menyadarkan kearogananmu hingga kau pasti ingin merasakan cinta sebelum kau mati, kan? Akui saja. Itu takkan membuatmu terlihat
lemah, kok.”
Iona tak mengatakan apa-apa.
Hanya menumpu kepalanya dengan telapak tangan. Frustasi harus menjawab apa. Fiki
yang begitu dramatis ini membuatnya bingung harus bereaksi apa. Ia juga takut
salah bicara dan semua identitasnya terbongkar. Harusnya kan ia tetap hidup
sebagai seorang Stella, sebagaimana tugasnya saat bertransmigrasi ke tubuh ini.
“Kau mau aku membantumu? Aku bisa
membuatmu bertemu dengan siapa pun itu yang kau kehendaki—”
“Sungguh, kak?!” Iona hampir
melonjak kegirangan saat Fiki menawarkan bantuan seperti itu.
“Tapi kau harus jujur padaku!" Iona mengangguk semangat, bersungguh-sungguh dalam hati apapun itu yang akan Fiki tanyakan, akan dia jawab sejujur-jujurnya. "Pasti
kemarin Ayah menjodohkanmu dengan seseorang, bukan? Makannya tiba-tiba kau
menemukan laki-laki semudah itu!?”
Mendengar itu, Iona langsung memasang
raut masam dan terduduk kembali di kursi belajarnya. Kembali menumpu kepalanya
dengan telapak tangan. Tak habis pikir ternyata sosok kakak Stella sebodoh dan selugu ini.
![]() |
| BiYA Chapter VII |
Postingan Populer
Back into Your Arms: Bagian Satu [INA]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Satu [ENG]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya





Komentar
Posting Komentar