Langsung ke konten utama

Unggulan

Back into Your Arms: Chapter Nine [ENG]

BiYA Chapter IX Joe stopped his car in front of a pecel lele tent. He fell silent for a moment, looking at Iona who was still smiling widely beside him. Iona had very rarely eaten pecel lele during her life because her Mother was quite strict about her eating rules. Thus, imagining eating it with her loved one made Iona feel giddy with joy. However, Iona tried to maintain her expression, thinking about what she should say later when facing Joe.  "Why? Were you expecting a five-star restaurant or other expensive food?" Joe asked flatly.  "No! I'm just happy, really." source: Gemini Joe rolled his eyes, took the keys, and opened the car door. Without waiting for Iona to get out, he had already stepped into the pecel lele tent and sat down on one of the wooden chairs there. With hurried steps, Iona managed to catch up with Joe, who still wore a cold expression. "You should be grateful I didn't lock you in there," Joe interrupted sharply just as Ion...

Back into Your Arms: Bagian Tujuh [INA]

Back into Your Arms
BiYA Chapter VII

“Kamu dari mana saja?”

Iona terlonjak begitu melihat Fiki yang bersidekap menghadapnya dengan mata mendelik. Mas Bro yang melihatnya pun bergidik ngeri dan segera kabur, meninggalkan Iona sendirian. Gadis itu hanya menggaruk tengkuk karena bingung harus mengatakan apa. Dari cara Fiki memandangnya pun tampak jika laki-laki itu sangat mengintimidasi.

“Kau mau balas dendam dalam keadaan tubuh serapuh itu?”

“Tidak, aku—”

“Bilang saja jika kau tahu siapa dalangnya, akan aku kirim seratus orang kalau perlu untuk menghabisinya—”

“Bukan kak!” Iona dengan panik terus melambaikan kedua telapak  tangannya. Berusaha meredakan emosi Fiki yang membuncah. Laki-laki itu tampak sangat marah karena dadanya naik turun tidak tenang.

“Lalu kenapa? Jangan sok jago kamu!” Semakin Fiki meninggikan suaranya, makin lelaki itu melangkah mendekati Iona seperti akan menerkamnya. “Hanya datang dengan dua orang saja! Kau pikir kau aman karena—”

Back into Your Arms
source: Gemini


“Aku menemui cinta pertamaku, kak!” seru Iona sembari menutup kedua matanya. Takut jika sedetik kemudian Fiki akan melambungkan pukulan atau entahlah… Iona kan tidak tahu bagaimana sejatinya keluarga Buana ini berdinamika. Namun tatapan Fiki itu memang menakutkan.

Iona memberanikan diri untuk membuka mata, mengintip sedikit. Agak terkejut saat melihat Fiki tertegun dan melamun, tapi pandangannya jauh ke arah depan. Seolah tidak pernah siap mendapat jawaban itu dari bibir adik satu-satunya. Entah dia terkejut atau terguncang mendengar itu karena butuh beberapa menit untuknya terdiam. Mencerna ucapan Iona yang dipandangannya adalah Stella—adik kandungnya.

“Cinta pertama?” Fiki bertanya dengan suara lirih. Sedetik kemudian membekap mulutnya dirinya yang menganga lebar. Kemudian menggeleng dramatis seakan berita itu begitu mustahil baginya. “KAU BISA JATUH CINTA?”

Iona yang tadinya takut dan panik menjadi tersinggung seketika. Enak saja! Maksudnya apa orang ini? Emang hati Stella sedingin apa sampai reaksi Fiki sedramatis ini? Atau memang gadis ini tidak pernah jatuh cinta sebelumnya?

“Gak… gak mungkin. Gak mungkin ini cuma Disosiasi Identitas semata! Pasti ada gejala yang lebih parah dari ini!” Fiki memutuskan. Dia berjalan mondar-mandir di depan Iona lalu mendadak terdiam. “Ayo kita ke dokter!” Tiba-tiba Fiki menarik paksa tangan Iona, hendak membawa gadis itu keluar dari rumah lagi. Menyeretnya ke rumah sakit.

“HAH? Kakak kenapa, sih? Normal untukku jatuh cinta. Kakak kenapa, sih?”

“Tidak! Dulu kau bilang semua laki-laki itu hama! Kau bahkan bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun, apa pun yang terjadi!” seru Fiki penuh energi.

“Manusia pasti berubah, kak! Siapa yang tahu akan garis takdir, bukan?”

“Kau sungguh-sungguh Stella, ‘kan? Atau kau kerasukan roh?”

MATI AKU! desis Iona, terlebih saat Fiki memandangnya tajam-tajam. Sampai mungkin menatap lurus-lurus ke roh Iona yang ikut bergetar.

“Disosiasi Identitas macam apa ini? Kau seperti krisis identitas—”

“Ada apa ini Fiki? Kenapa kau terus bicara nada tinggi dengan adikmu terkasih ini?” Mendadak dari ruang tengah datang Buana dengan wajah bingung serta panik. Terlebih saat melihat posisi Fiki yang akan menyeret Iona paksa entah ke mana. “Kau pasti kehilangan akalmu, ya? Kau kenapa sekasar itu dengan adikmu, hah? Kesalahan macam apa yang dia perbu—ah tidak, kesalahan apa yang kau perbuat, hah?”

“Ayah….” Fiki berusaha membela diri, menjelaskan maksudnya, akan tetapi Buana menggeleng tak mau tahu. Pria paruh baya itu datang, melepas cengkraman Fiki pada tangan Iona lalu membawa tubuh anak gadisnya pergi dari sana. “Ayah… setidaknya kau dengar dulu alasanku, Yah!”

Buana tak menggubris seruan Fiki yang hanya menjerit dari tempatnya berdiri. Tanpa beranjak. Sedang Iona hanya terdiam dan mengamati kejadian dramatis yang baru saja menimpa dirinya. Dinamika macam apa ini? Mungkin hanya keluarga Buana yang mengalami kejadian sepelik ini.

*✿❀ ❀✿*

Joe melompat ke atas Kasur tanpa melepas seluruh atribut kerjanya. Bahkan kedua Sepatu hitamnya masih menempel di kaki. Joe menatap langit-langit kamarnya yang barangkali bisa bilang bosan karena selalu jadi objek yang ia pandang. Ia mendadak teringat kejadian tadi siang saat seorang satpam berani menghentikan laju mobilnya. Seumur hidupnya menjadi direktur, baru kali ini ia diberhentikan dengan sangat tidak pantas seperti itu.

Back into Your Arms
source: Gemini


Dipikir-pikir cukup janggal juga. Sepenting itukah urusan yang ingin ‘seseorang’ itu sampaikan? Atau orang itu memang sangat mendesak pegawainya sampai-sampai seorang satpam pun berani menghadang laju mobilnya?

Joe meraup wajahnya, berusaha menghilangkan hal-hal kecil yang mungkin akan memperkeruh pikirannya sekarang. Tanpa mengubah arah pandangannya, Joe menghembuskan napas sekuat mungkin. Berharap dengan itu semua emosi dan rada rindunya menguap bersamaan dengan karbon dioksida yang keluar dari lubang hidungnya. Andai memang semudah itu membuang semua rasa rindunya pada Iona. Ia pasti tidak akan semenderita ini.

“Jadi kau sungguh-sungguh jatuh cinta?”

Iona mendelik, terkejut saat mendapati Fiki membuka paksa pintunya. Mendadak berdiri di samping meja belajarnya, menyejajari Iona yang tengah membaca setumpuk kertas soal Joe. Gadis itu tampak seperti stalker sejati yang haus akan keinginan bertemu Joe. Lebih lagi dengan kedatangan Fiki tiba-tiba ini membuatnya malu. Pipinya bersemu merah tak bisa menahan malu. 

Back into Your Arms
source: Gemini


“Ah? Uhm….”

“Kau bahkan menyuruh Mas Bro untuk mencari tahu banyak hal tentang laki-laki itu? Wuah… sejak kapan kau menyukainya?”

Iona langsung menutup semua tumpukan kertas yang berantakan di hadapannya dengan kepalanya. Gadis itu merebahkan kepalanya, mengarahkan pandangan ke Fiki yang terus menatap meja yang penuh akan kertas yang sudah dicoret sana-sini itu. Tanda di mana Iona pikir itu penting untuk dilingkari atau garis bawahi.

“Kenapa tiba-tiba masuk—”

“Maaf, aku pikir kamu benar-benar orang yang berbeda sekarang… makannya aku cukup bingung dengan perubahanmu. Rupanya kau jatuh cinta dengannya, makannya kau banyak berubah? Tapi di mana kau menemuinya? Café? Bar? Atau apa? Sejak kapan pula? Atau di hari yang sama dengan kau koma?”

Iona menggaruk tengkuknya lagi. Kakaknya ini memang tidak memberinya kesempatan untuk menjawab. Justru membombardir dengan puluhan pertanyaan yang mendetail. Sepertinya Jodhokerto tak serewel itu untuk menanyakan segala sesuatu seolah perjodohan dan pernikahan yang akan diselenggarakan.

“Tapi mana mungkin kau hanya ingat dia jika kau hanya amnesia?  Cintamu sebesar itukah? Atau selama koma kau berimajinasi jadi alam bawah sadarmu terus menyerukan namanya? Atau setelah kau pergi ke butik dengan Ayah kau ke kencan buta, kah?”

“Kak…  kau sungguh tak memberiku kesempatan untuk menjawab?”

Fiki tak balas menjawab, justru kembali membekap mulutnya lagi yang jauh lebih menganga. Kali ini sorot matanya percaya, bahkan cukup berkaca-kaca karena terharu saat mengetahui betul jika Iona benar-benar mencintai seseorang. Setidaknya yang ia tahu, Stella lah yang jatuh cinta karena Iona hidup di tubuhnya.

“Apa ada yang bisa kulakukan untukmu mendapatkan hatinya? Kau perlu bantuan?”

Iona memandang Fiki tajam-tajam. Fiki pun masih di posisinya—membekap mulut dengan mata melotot tanpa kedip sedikitpun.

“Sebelumnya Stella benar-benar tidak pernah mencintai seorang pun?” tanya Iona, menunjuk dirinya sendiri.

Masih di posisi yang sama, Fiki mengangguk, anggukan kepala yang begitu pelan dan patah-patah.

“Di hari pertama kau boleh keluar, kau langsung berpikir untuk ikut kencan buta? Wah… kau memang visioner ya, Stell—uhm… maksudku Iona. Koma itu menyadarkan kearogananmu hingga kau pasti ingin merasakan cinta sebelum kau mati, kan?  Akui saja. Itu takkan membuatmu terlihat lemah, kok.”

Iona tak mengatakan apa-apa. Hanya menumpu kepalanya dengan telapak tangan. Frustasi harus menjawab apa. Fiki yang begitu dramatis ini membuatnya bingung harus bereaksi apa. Ia juga takut salah bicara dan semua identitasnya terbongkar. Harusnya kan ia tetap hidup sebagai seorang Stella, sebagaimana tugasnya saat bertransmigrasi ke tubuh ini.

“Kau mau aku membantumu? Aku bisa membuatmu bertemu dengan siapa pun itu yang kau kehendaki—”

“Sungguh, kak?!” Iona hampir melonjak kegirangan saat Fiki menawarkan bantuan seperti itu.

“Tapi kau harus jujur padaku!" Iona mengangguk semangat, bersungguh-sungguh dalam hati apapun itu yang akan Fiki tanyakan, akan dia jawab sejujur-jujurnya. "Pasti kemarin Ayah menjodohkanmu dengan seseorang, bukan? Makannya tiba-tiba kau menemukan laki-laki semudah itu!?”

Mendengar itu, Iona langsung memasang raut masam dan terduduk kembali di kursi belajarnya. Kembali menumpu kepalanya dengan telapak tangan. Tak habis pikir ternyata sosok kakak Stella sebodoh dan selugu ini.

Back into Your Arms
BiYA Chapter VII


Karya ini adalah hak milik intelektual Alinea Aneyla. Mohon untuk tidak menyalin, mendistribusikan, atau mempublikasikan ulang tanpa izin tertulis dari penulis.

Komentar

Postingan Populer

About Us   |   Contact   |   Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 ALINEA ANEYLA. Tiap kata miliki jiwa.