Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Lima [INA]
![]() |
| BiYA Chapter V |
"Bisa... selidiki semua informasi terbaru tentang
Joseph Banara?"
Pria berjanggut itu seperti ingin menanyakan sesuatu, tapi
menahan diri dan tersenyum. “Tentu saja, Nona Iona. Akan saya kerjakan secepat
mungkin.”
Iona hanya tersenyum sampai salah satu Mas Bro, sebutan
untuk semua bodyguard-nya itu pergi. Sejenak ia benar-benar lupa jika Ayah
Stella sudah berada di depan rumah. Malahan mungkin sudah berjalan ke lantai tiga, di mana kamar Iona berada.
Pikiran Iona mungkin tengah campur aduk sekarang. Namun setidaknya dia tahu
jika dia sangat beruntung bisa bertransmigrasi ke tubuh Stella karena dia
begitu ‘diagungkan’ dan berada di keluarga cukup berpengaruh. Mungkin tinggal
penyesuaian untuk beradaptasi sekaligus perlahan-lahan mendapatkan hati Joe
kembali.
“Tapi… bagaimana cara membuat Joe jatuh cinta pada Stella,
ya?” gumam Iona sembari melihat wajahnya di depan cermin. Namun ia terkejut
saat menemukan refleksi yang terlihat di cermin. Bukan iras Stella, melainkan
wajah Iona yang tampak begitu cantik dan bersinar dalam balutan gaun putih.
![]() |
| Source: Gemini |
“Itukah wujud rohku sesungguhnya?” Iona bermonolog sendiri. Menganggap dirinya mungkin tengah berhalusinasi sehingga melihat cermin pun seolah melihat refleksinya dahulu. Gadis itu tengah berpikir dan merenungkan kehidupan lamanya. Begitu ia menyayangkan nasibnya
dahulu. Iona yang malang, yang gagal mengejar cinta sejatinya dan malah mati
dihantam truk. Mengingat kejadian mengerikan itu hanya membuatnya bergidik
ngeri.
“STELLA BINTANG HATIKU!”
Iona terlonjak kaget. Dia langsung berdiri dari kursi
riasnya. Melihat ke sekeliling, mencari arah suara.
“STELLA? ANAKKU TERKASIH?”
Gadis itu bergetar saat sadar suara asing itu makin
mendekat. Bahkan berhenti di depan pintu kamarnya. Belum sempat menyiapkan
diri, pintu kayu jati dengan ukiran mewah itu terbuka lebar. Menampakkan
laki-laki dengan tubuh kekar yang sedang menahan tangisan. Laki-laki itu
membuka lebar kedua tangannya, seolah ingin memeluk. Lalu berjalan mendekati
Iona dalam tubuh Stella yang bergetar hebat.
“Bagaimana keadaan tubuhmu sekarang, Sayang? Maafkan Ayah,
ya, baru bisa mengunjungi kamu hari ini. Kemarin Ayah masih terjebak di Jepang,
mengurus banyak hal. Pesawat Ayah juga di delay berkali-kali, entah kenapa sial
betul!” rengek Ayah Stella yang sangat tidak sesuai dengan perawakan tubuhnya.
“Tapi ketahuilah sayang, kamu ini memang keajaiban! Bagaimana mungkin dengan
luka sebanyak itu kamu pulih hanya dalam seminggu, heii! Kamu ini memang anak
Ayah!”
Ayah Stella tak kunjung melepaskan pelukannya. Justru
terlihat begitu senang bisa memeluk anak bungsunya. Sedang Iona bingung harus
mulai berkata apa. Memikirkan apa yang seharusnya Stella katakan.
“Kenapa diam, Sayang? Kamu tidak suka, ya, Ayah kemari?”
Alis Iona langsung bertaut, bagaimana mungkin Ayahnya
bereaksi seperti itu? Bagaimana sih dinamika Ayah dan anak ini?
“B-bukan begitu, Ayah. Iona—eh, Stella hanya lelah.”
“Astagaaa, maaf Ayah lupa kalau kamu belum pulih
sepenuhnya!” Buana, sang Ayah melepaskan pelukannya dan mendudukkan anaknya itu
di ranjang. “Ini Ayah Stella, Ayah Buana. Stella sudah sehat? Atau masih ada
bagian yang sakit? Perlu Ayah panggilkan dokter lagi?”
Iona memaksakan satu senyuman dan menggeleng.
“Aduh, harusnya Ayah tidak memaksamu berbicara, ya.” Buana
tampak begitu sedih, membungkam mulutnya sendiri dengan dramatis. Namun matanya
sungguh-sungguh memancarkan cinta yang besar kepada anaknya.
“Tidak apa, Ayah. Aku hanya sedikit bingung.”
“Kalau begitu Ayah akan membiarkan kamu istirahat. Nanti
Ayah akan memanggil dokter untuk melihat keadaanmu, ya? Ayah akan keluar dari
kamar. Setelah ini panggil dan minta apa pun yang kamu mau ke Ayah. Ayah ada di
kamar, oke? Stella Sayang sehat-sehat terus, ya!” Buana mengecup lembut puncak
kepala Iona lalu pergi dari sana.
Kini tersisa Iona sendiri yang segera merebahkan tubuh di
ranjangnya. Seprainya sudah berubah warna menjadi putih meta, warna kesukaan
Iona. Meski sempat pening, kini ia tersenyum lagi. Mengalihkan pikiran dengan
mengagumi kamar Stella yang begitu megah. Pikiran Iona mungkin tengah campur
aduk sekarang. Namun, di tengah kekacauan itu, terselip rasa syukur. Ia
beruntung bertransmigrasi ke tubuh Stella; gadis yang begitu ‘diagungkan’ dalam
keluarga berpengaruh. Sekarang, tugasnya hanya satu: beradaptasi dengan
kemewahan ini sembari menyusun rencana untuk mendapatkan hati Joe kembali.
Setidaknya sekarang ini semua memang miliknya. “Dekorasi ulang kali, yaa?"
gumam Iona menahan tawa.
**✿❀ ❀✿**
![]() |
| Source: Gemini |
Joe mengusap wajahnya kasar sampai kulitnya memerah. Dia tak
mampu menghapus semus foto kenangannya dengan Iona. Ratusan foto yang sudah ia
satukan dalam satu folder itu hanya diamatinya. Terus diurungkan untuk hapus
permanen. Dia takut akan lebih menyesal karena tak ada satupun barang atau
kenangan untuk mengenang mendiang Iona. Semua pikiran ini membuatnya
gila.
"Pak? Pak Joe?” Joe mendongak. Mendapati sekretarisnya
yang datang dengan banyak folder map di dekapannya. “Bapak tidak apa apa?"
tanya Tara sopan.
“Hanya sedikit pening, but I’m okay. Apa yang membuatmu
kemari?”
“Saya hanya membawakan laporan keuangan bulan lalu, Pak.
Bapak harus melihat detailnya.”
Joe menepuk pelan dahunya beberapa kali, berusaha menepis
pikiran-pikiran tadi yang akhir-akhir ini makin mengganggunya. “Taruh saja di
sana. Terima kasih Tara.”
“Sama-sama, Pak.”
“Tara, boleh buatkan saya kopi?”
“Ah, boleh, baik. Sebentar, ya, Pak!”
Joe hanya mengangguk, menaruh ponsel lalu kembali fokus pada
pekerjaannya. Bahkan kesibukannya selagi jadi CEO di salah satu perusahaan
milik keluarganya tidak membuatnya cepat melupakan Iona. Justru pikirannya
makin keruh saja. Meski kenyataannya dia hanya mau menjadi orang yang berguna
untuk Ibu juga keluarganya.
Tak lama kemudian, Tara kembali dengan membawa kopi putih
kesukaannya. Meskipun ia sendiri yang meminta kopi itu, tapi mencium aromanya
saja dadanya mendadak terasa sesak.
'Sial!', umpatnya.
"Kamu mungkin memang kurang cocok main olahraga,
bakatmu kan melukis!" ucap Joe. Menuang kopi putih hangat dari termos
kecil ke mug putihnya.
“Tuh, ‘kan! Ih minum kopi terus! Kenapa gak teh aja, sih? Kan
sama-sama kafein! Kopi memperpendek umur orang yang suka mengonsumsinya, loh!”
omel Iona kesal. Namun Joe tak mengindahkan kalimat Iona dan tetap menyeruput
kopi itu.
"Oh, gitu sekarang.”
“Iya, iyaa Iona Cantik yang Baweel! Kamu bicara seperti itu
karena gak pernah bener-bener coba kopii! Coba, deh, sekali-kali minum kopi.
Aku yakin seratus persen kamu akan ketagihan juga!” Joe mengucapkan pembelaan
sekaligus menghasut kekasihnya untuk ikut mengonsumsi kopi.
“Kurang suka aja, gak cocok di lidah aku. Apalagi kopi
putih! Gak suka.” desis Iona seolah tengah membicarakan hal yang menjijikkan.
"Iya, ya? Kamu kan sukanya aku.”
Iona tertawa begitu keras, membuat Joe ikut tertawa
mengagumi kecantikan keasihnya itu. Namun gelak tawa yang begitu renyah itu
hanya berputar-putar di kepalanya, tak lagi bisa didengarnya dengan nyata.
Padahal dulu hampir tiap hari ia bisa mendengar suara favoritnya itu.
"Pak? Bapak kenapa?"
Joe keluar dari
jurang pikirannya sendiri, "Bukan apa-apa. Makasih banyak, Tara. Kamu
boleh kembali ke ruanganmu."
"Terima kasih Pak."
Joe memejamkan mata rapat-rapat sembari berusaha mengatur
napasnya.
“Ternyata susah melupakanmu, Na. Tak semudah yang aku
kira."
**✿❀ ❀✿**
Dokter spesialis saraf itu merapikan kacamatanya, menatap
Fiki dan Buana dengan raut wajah serius namun tenang. Di hadapannya, beberapa
hasil pemindaian otak Stella terpajang.
"Begini, Tuan Fiki. Kasus Nona Stella ini memang cukup
unik," dokter itu memulai. "Secara fisik, luka akibat pengeroyokan
itu mulai pulih. Namun, secara psikis, Nona Stella mengalami apa yang kami
sebut sebagai Disosiasi Identitas pasca-trauma."
Fiki mengernyitkan dahi. "Maksud Dokter? Dia merasa
dirinya orang lain?"
"Benar. Dalam kasus amnesia retrograde yang berat, otak
bisa melakukan mekanisme pertahanan diri yang ekstrem. Karena pengeroyokan itu
melibatkan banyak orang, otaknya mencatat kejadian tersebut sebagai ancaman
eksistensial—sebuah trauma yang terlalu besar untuk ditanggung identitas
aslinya," jelas dokter itu sambil menunjuk area lobus temporal pada hasil
pemindaian.
"Menjadi 'Stella' berarti menjadi korban yang tak
berdaya. Maka, otaknya melahirkan 'Iona'—sosok yang dalam bawah sadarnya
dianggap lebih aman, atau mungkin tidak memiliki memori akan rasa sakit
tersebut."
"Tapi dia meminta kami memanggilnya 'Iona', Dok. Itu
nama yang benar-benar asing bagi kami," sela Fiki, suaranya bergetar
cemas.
Dokter itu mengangguk paham. "Itu disebut Konfabulasi.
Pasien merasa sangat yakin akan sebuah identitas atau ingatan yang sebenarnya
tidak ada dalam riwayat hidupnya. Bagi Nona Stella, sosok 'Iona' ini adalah
tempat persembunyian yang aman. Dia merasa lebih nyaman menjadi 'Iona' yang
lembut daripada kembali menjadi 'Stella' yang mungkin menyimpan beban emosional
yang kita tidak tahu."
"Lalu, apa yang harus kami lakukan?" tanya Buana
heboh. Dia begitu sedih dan tak berdaya mendengar keadaan anak terkasihnya itu.
"Saran saya, ikuti saja dulu alurnya. Jangan dipaksa
untuk mengingat atau dibantah identitas barunya. Jika kita menekannya terlalu
keras untuk menjadi Stella, sarafnya bisa stres dan memicu trauma yang lebih
dalam. Biarkan dia hidup sebagai 'Iona' untuk sementara waktu, sampai otaknya
siap untuk merekonstruksi kembali jati diri aslinya."
Fiki terdiam, menatap pintu kamar adiknya dengan tatapan
nanar. "Jadi, saya harus membiarkan adik saya menjadi orang asing di
rumahnya sendiri?"
"Untuk kesembuhannya, ya. Anggap saja ini fase
transisi," pungkas sang Dokter. Buana masih berupaya menahan tangisan. Ia
bahkan tak sanggup untuk bertanya lebih lanjut. “Lebih baik ikuti saja alurnya.
Sebisa mungkin turuti saja apa yang Nona ‘Iona’ ini inginkan.”
Keduanya mengangguk, Fiki dengan raut serius, sedang Buana
dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
“Sementara itu yang bisa saya analisis.”
“Terima kasih, Dokter. Biar saya antar untuk lanjut
transaksi,” ucap Fiki bersamaan dengan perginya dua lelaki itu. Menyisakan
Buana yang bersedih hati, terus memandang pintu kamar Iona yang tertutup.
Pskiater itu baru saja memeriksa keadaan Iona sekaligus
menanyakan kondisi mentalnya. Tak disangka keadaan jiwa Iona yang
bertransmigrasi ke tubuh Stella diterjemahkan seperti itu dalam bahasa medis.
Untung bagi Iona yang sementara waktu bisa mudah beradaptasi, justru keluarga
dan orang-orang di sekitar Stella yang beradaptasi dengan keadaan spesialnya
saat ini.
“Ayah?” Buana terperanjat melihat Iona baru keluar dari
kamar, dengan gaun merah lainnya. “Ayah kenapa?”
“Tidak apa-apa, Sayangku!” ucap Buana cepat-cepat mengusap
air matanya. “Kenapa Tuan Putri Kecil Ayah ini keluar dari kamar? Ada yang Tuan
Putri Kecil Ayah butuhkan?”
Iona tersenyum kecil, “Iona hanya berandai-andai kenapa
lemari Iona hanya ada baju berwarna merah… Iona—”
“Iona mau baju baru? Mau beli baju beragam warna?” Ayahnya
mengganguk senang. Mungkin itu ‘permintaan’ pertama Iona. Maka harus ia
kabulkan. "Ayo! Ayah bakal beliin semua yang kamu mau!"
Iona menatap jendela mobil Bentley Mulsanne-nya. Melihat
keseluruh bagian kota yang dibasahi oleh air hujan semalam. Banyak embun yang
jatuh di pohon-pohon kecil. Suasana itu mengingatnya pada sosok tengil di
suasana selepas hujan seperti ini, beberapa tahun yang lalu.
Joe berjalan mengendap-endap ke arah Iona yang sedang duduk
di taman, menuliskan sesuatu. Dengan iseng, Joe menggoyangkan pohon yang tak
begitu besar itu sehingga semua embunnya jatuh dan membasahi Iona.
"Joe!" seru Iona sebagai refleks. Sebab, siapa
lagi yang akan mengisenginya? Iona berdiri kesal dan mencari keberadaan sahabatnya
itu. Dia lalu melempar tutup pulpen ke kepala Joe yang berdiri di balik pohon.
Terlihat kekanak-kanakan memang karena saat itu mereka masih dikelas 9,
SMP.
Joe hanya menjulurkan lidahnya. Iona menghela napas kasar
lalu kembali duduk di bangku taman itu. "Siapa suruh kemarin ngerjain aku
pake kadal-kadalan?" ucap Joe sebagai pembelaan.
Mengingat ekspresi Joe saat itu membuat kemarahannya sedikit
reda. "Lagian kenapa hewan selucu kadal ditakutin?”
“Idih! Lucu apanya? Lucuan juga kamu."
Iona membelalakkan matanya dan memukul bahu Joe. "Gak
ya!"
"Memang lucu, kok." Iona tak bisa menahan
senyuman. Pipinya mendadak merah merona. "Itu pipi kenapa merah?"
tanya Joe sengaja membuat Iona sebal.
“IH SAHABAT RESE!”
"Kok sahabat, sih? Siapa bilang kita sahabatan?”
Mata Iona makin mendelik sebal, "Terus?!"
Joe tertawa renyah, "Besok aja aku lanjutinnya!
Sekarang kita belum cukup umur," ucap Joe sok misterius selagi berjalan
mundur dan menjauh dari Iona. "Aku pulang ya! Dah, Pipi Apel!”
“DASAR PHOBIA KADAL!”
“Iona Sayang? Kita sudah sampai!” Buana berkali-kali
melambaikan tangan di depan wajah Iona yang baru sadar dari lamunannya. Saking
terkejutnya, ia sampai keluar dari mobil itu seorang diri sebelum Mas Bro
membukakan pintu mobil untuknya.
“Ini kita mau ke mana, Yah?”
“Kamu bilang mau belanja baju, bukan?”
Mobil Bentley Mulsanne menghilang dari pandangan Iona yang
segera menyajikan pemandangan Gedung
butik terkenal dengan sepuluh lantai itu. Hanya kalangan borjuis yang mampu
membeli di tempat seperti ini. Bahkan Iona sendiri pun hanya beberapa kali ke
sana karena begitu mahal dan berkualitas bahan yang digunakan.
“Makasih banyak, Ayah!” seru Iona yang tak sadar memeluk
tubuh Buana kuat-kuat. Membuat hati pria dewasa itu makin remuk saja, mengingat
jika dahulu Stella tidak akan pernah memeluknya dengan alasan apa pun.
"Oh ya, Yah. Ayah mau panggil aku ‘Iona’ juga?”
“Iya, Sayang. Apa pun yang anak Ayah inginkan.”
![]() |
| Source: Gemini |
Iona begitu tersentuh mendengar ucapan Buana. Jauh berbeda
dengan Ayahnya yang gila kerja dan jarang sekali berbicara dengannya.
Seolah-olah Tuhan menjawab doanya ingin mendapat peran Ayah di hidupnya, sedang
Buana juga memiliki anak perempuan yang
benar-benar mengasihinya.
“Yuk, kita mulai borong-borong bajunya!" ajak Buana,
menggiring anaknya ke arah Gedung ekslusif itu. Keduanya langsung disambut
dengan wangi bunga lavender yang menyeruak ketika pintu kaca terbuka otomatis.
'Nyaman sekali tempatnyaa!', batin Iona senang.
"Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu Tuan Buana?"
ucap seseorang yang tampak begitu rapih dan berpenampilan mahal. Bahkan tak
tampak seperti pelayan atau penjaga toko. Sepertinya mereka disambut oleh owner
butik itu. Iona melirik kaget ke arah orang yang barusan bicara tadi.
"Manda?!" gumam Iona nyaris keluar dari bibir dan terdengar
mereka semua.
"Maaf, Nona bicara sesuatu?" tanya Manda begitu
santun.
Jelas dengan cepat Iona menggeleng.
“Uhm… bukan apa-apa.”
Tiba-tiba suara telepon masuk. Rupanya dari ponsel Buana
yang kemudian segera disibukkan dengan pekerjaannya. “Ehm, sebentar ya Iona
Sayang! Ayah harus menjawab telepon ini. Nanti kalau ada apa-apa minta tolong
ke Mas Bro, ya!” Nampaknya urusan mendesak sampai ia menyuruh salah satu Mas
Bro untuk mendampingi Iona belanja karena fokusnya benar-benar ia pusatkan
kepada siapapun yang ada di balik telepon itu.
“Iona?” Jelas Manda terkejut mendengar nama itu disebut
setelah selang lima tahun lamanya. Iona yang menyadari reaksi aneh Manda jelas
mengamati gadis itu, menunggu reaksi apa yang akan Manda keluarkan. “Ah, pasti
perasaanku saja,” desis Manda kemudian kembali
tersenyum formal.
“Pakaian dengan spesifikasi apa yang Nona cari? Mungkin saya
bisa bantu arahkan.”
Iona masih mengamati Manda dalam-dalam. Menunggu barangkali
ada pertanyaan lain yang lebih mengarah ke ‘Iona’ atau apa pun yang
mencurigainya. Namun Manda tak menanyakan apa pun lagi. Membuat Iona tersenyum
canggung.
“Bisa lihat kumpulan short dress feminism dengan warna polos?"
Manda mengganguk, "Di sebelah sini, Kak. Ini ada varian
modelnya. Ada yang bebas lengan, ada yang..." Tak satupun perkataan Manda
yang benar-benar Iona dengarkan. Gadis itu sibuk menatap dan mengamati Manda
yang semakin cantik dan menawan. Melihat badannya yang sedikit lebih berisi itu
buatnya banyak bertanya-tanya dalam hati.
'Apa mungkin dia udah punya anak sama Joe?' batin Iona
sedih. Kemungkinan terburuk yang mau tak mau bisa saja Iona hadapi dalam
beberapa saat ke depan.
"Jadi mau yang seperti apa modelnya, Nona?"
Iona menggelengkan kepalanya. "Ambil satu dari setiap
jenis dengan ukurannya M. Warna apa pun kecuali merah, ya, Kak. Terima kasih."
Iona memejamkan mata sesaat. Berusaha membuang jauh lebih dulu kemungkinan
buruk yang mungkin akan membuatnya menangis. Ia terus melangkah menjauh, bahkan
tak mau dengar reaksi Manda ketika ia mengucapkan seperti itu. Iona mengalihkan
diri dengan mulai berjalan ke tempat sepatu.
"Permisi, Kak!" panggil Iona pada seseorang yang
sedang duduk di kursi sebelah kasir. Orang itu bergegas setengah lari dan
mendekati Iona.
"Iya Kak, ada yang bisa kami bantu?"
Lagi lagi Iona membelalakkan mata, bahkan menggangga tak
percaya. Dia menutup mulutnya dengan dramatis. "Vana?!" seru Iona tak
sadar. Kali ini terdengar jelas bahkan cukup keras. Orang itu tampak bingung
dan mengangguk setuju.
"Iya Kak… itu nama saya. Ada yang bisa saya bantu?"
Iona menatap orang di hadapannya, Vana, sahabatnya saat di
bangku SMP juga SMA. Iona tak sanggup berkata-kata karena sangat terkejut melihat
Vana yang banyak berubah. Seolah tak mau peduli dengan keadaannya kini, bahkan
dengan dua bodyguard keluarga yang dijuluki Mas Bro, Iona menarik Vana ke ruang
Ganti lalu bergegas memeluknya.
“Vana… aku tahu kamu bingung, tapi—”
“Iona?!”
Iona menggantungkan kalimatnya. Mulai mengurai pelukan
keduanya karena tiba-tiba Vana memanggil namanya sungguh-sungguh, bukan Stella
seperti bagaimana penampilannya sekarang.
![]() |
| Source: Gemini |
Iona begitu terkejut saat mendapati Vana mendelik, menunjuk
tak percaya ke arah kaca di belakang tubuh mereka. Mendapati penampakan roh
Iona yang begitu cantik di hadapannya, meski sesungguhnya raga yang dipeluknya
adalah tubuh Stella. Kaca itu memantulkan iras Iona begitu jelasnya, sampai
Vana bingung sendiri dan mengusap matanya berulang-ulang.
Iona bingung harus bagaimana karena ia tak tahu jika orang lain bisa melihat wujud aslinya dalam cermin. Bisa jadi ini merupakan kabar baik, akan tetapi bisa juga permulaan dari mimpi buruk tak berujung.
![]() |
| BiYA Chapter V |
Karya ini adalah hak milik intelektual Alinea Aneyla. Mohon untuk tidak menyalin, mendistribusikan, atau mempublikasikan ulang tanpa izin tertulis dari penulis.
Postingan Populer
Back into Your Arms: Bagian Satu [INA]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Satu [ENG]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya






Komentar
Posting Komentar