Langsung ke konten utama

Unggulan

Back into Your Arms: Chapter Nine [ENG]

BiYA Chapter IX Joe stopped his car in front of a pecel lele tent. He fell silent for a moment, looking at Iona who was still smiling widely beside him. Iona had very rarely eaten pecel lele during her life because her Mother was quite strict about her eating rules. Thus, imagining eating it with her loved one made Iona feel giddy with joy. However, Iona tried to maintain her expression, thinking about what she should say later when facing Joe.  "Why? Were you expecting a five-star restaurant or other expensive food?" Joe asked flatly.  "No! I'm just happy, really." source: Gemini Joe rolled his eyes, took the keys, and opened the car door. Without waiting for Iona to get out, he had already stepped into the pecel lele tent and sat down on one of the wooden chairs there. With hurried steps, Iona managed to catch up with Joe, who still wore a cold expression. "You should be grateful I didn't lock you in there," Joe interrupted sharply just as Ion...

Back into Your Arms: Bagian Lima [INA]

Back into Your Arms
BiYA Chapter V


"Bisa... selidiki semua informasi terbaru tentang Joseph Banara?"

Pria berjanggut itu seperti ingin menanyakan sesuatu, tapi menahan diri dan tersenyum. “Tentu saja, Nona Iona. Akan saya kerjakan secepat mungkin.”

Iona hanya tersenyum sampai salah satu Mas Bro, sebutan untuk semua bodyguard-nya itu pergi. Sejenak ia benar-benar lupa jika Ayah Stella sudah berada di depan rumah. Malahan mungkin sudah berjalan  ke lantai tiga, di mana kamar Iona berada. Pikiran Iona mungkin tengah campur aduk sekarang. Namun setidaknya dia tahu jika dia sangat beruntung bisa bertransmigrasi ke tubuh Stella karena dia begitu ‘diagungkan’ dan berada di keluarga cukup berpengaruh. Mungkin tinggal penyesuaian untuk beradaptasi sekaligus perlahan-lahan mendapatkan hati Joe kembali.

“Tapi… bagaimana cara membuat Joe jatuh cinta pada Stella, ya?” gumam Iona sembari melihat wajahnya di depan cermin. Namun ia terkejut saat menemukan refleksi yang terlihat di cermin. Bukan iras Stella, melainkan wajah Iona yang tampak begitu cantik dan bersinar dalam balutan gaun putih.

Ilustrasi Back into Your Arms
Source: Gemini


“Itukah wujud rohku sesungguhnya?” Iona bermonolog sendiri. Menganggap dirinya mungkin tengah berhalusinasi sehingga melihat cermin pun seolah melihat refleksinya dahulu. Gadis itu tengah berpikir dan merenungkan kehidupan lamanya. Begitu ia menyayangkan nasibnya dahulu. Iona yang malang, yang gagal mengejar cinta sejatinya dan malah mati dihantam truk. Mengingat kejadian mengerikan itu hanya membuatnya bergidik ngeri.

“STELLA BINTANG HATIKU!”

Iona terlonjak kaget. Dia langsung berdiri dari kursi riasnya. Melihat ke sekeliling, mencari arah suara.

“STELLA? ANAKKU TERKASIH?”

Gadis itu bergetar saat sadar suara asing itu makin mendekat. Bahkan berhenti di depan pintu kamarnya. Belum sempat menyiapkan diri, pintu kayu jati dengan ukiran mewah itu terbuka lebar. Menampakkan laki-laki dengan tubuh kekar yang sedang menahan tangisan. Laki-laki itu membuka lebar kedua tangannya, seolah ingin memeluk. Lalu berjalan mendekati Iona dalam tubuh Stella yang bergetar hebat.

“Bagaimana keadaan tubuhmu sekarang, Sayang? Maafkan Ayah, ya, baru bisa mengunjungi kamu hari ini. Kemarin Ayah masih terjebak di Jepang, mengurus banyak hal. Pesawat Ayah juga di delay berkali-kali, entah kenapa sial betul!” rengek Ayah Stella yang sangat tidak sesuai dengan perawakan tubuhnya. “Tapi ketahuilah sayang, kamu ini memang keajaiban! Bagaimana mungkin dengan luka sebanyak itu kamu pulih hanya dalam seminggu, heii! Kamu ini memang anak Ayah!”

Ayah Stella tak kunjung melepaskan pelukannya. Justru terlihat begitu senang bisa memeluk anak bungsunya. Sedang Iona bingung harus mulai berkata apa. Memikirkan apa yang seharusnya Stella katakan.

“Kenapa diam, Sayang? Kamu tidak suka, ya, Ayah kemari?”

Alis Iona langsung bertaut, bagaimana mungkin Ayahnya bereaksi seperti itu? Bagaimana sih dinamika Ayah dan anak ini?

“B-bukan begitu, Ayah. Iona—eh, Stella hanya lelah.”

“Astagaaa, maaf Ayah lupa kalau kamu belum pulih sepenuhnya!” Buana, sang Ayah melepaskan pelukannya dan mendudukkan anaknya itu di ranjang. “Ini Ayah Stella, Ayah Buana. Stella sudah sehat? Atau masih ada bagian yang sakit? Perlu Ayah panggilkan dokter lagi?”

Iona memaksakan satu senyuman dan menggeleng.

“Aduh, harusnya Ayah tidak memaksamu berbicara, ya.” Buana tampak begitu sedih, membungkam mulutnya sendiri dengan dramatis. Namun matanya sungguh-sungguh memancarkan cinta yang besar kepada anaknya.

“Tidak apa, Ayah. Aku hanya sedikit bingung.”

“Kalau begitu Ayah akan membiarkan kamu istirahat. Nanti Ayah akan memanggil dokter untuk melihat keadaanmu, ya? Ayah akan keluar dari kamar. Setelah ini panggil dan minta apa pun yang kamu mau ke Ayah. Ayah ada di kamar, oke? Stella Sayang sehat-sehat terus, ya!” Buana mengecup lembut puncak kepala Iona lalu pergi dari sana.

Kini tersisa Iona sendiri yang segera merebahkan tubuh di ranjangnya. Seprainya sudah berubah warna menjadi putih meta, warna kesukaan Iona. Meski sempat pening, kini ia tersenyum lagi. Mengalihkan pikiran dengan mengagumi kamar Stella yang begitu megah. Pikiran Iona mungkin tengah campur aduk sekarang. Namun, di tengah kekacauan itu, terselip rasa syukur. Ia beruntung bertransmigrasi ke tubuh Stella; gadis yang begitu ‘diagungkan’ dalam keluarga berpengaruh. Sekarang, tugasnya hanya satu: beradaptasi dengan kemewahan ini sembari menyusun rencana untuk mendapatkan hati Joe kembali. Setidaknya sekarang ini semua memang miliknya. “Dekorasi ulang kali, yaa?" gumam Iona menahan tawa.

*✿❀ ❀✿*

Ilustrasi Back into Your Arms
Source: Gemini


Joe mengusap wajahnya kasar sampai kulitnya memerah. Dia tak mampu menghapus semus foto kenangannya dengan Iona. Ratusan foto yang sudah ia satukan dalam satu folder itu hanya diamatinya. Terus diurungkan untuk hapus permanen. Dia takut akan lebih menyesal karena tak ada satupun barang atau kenangan untuk mengenang mendiang Iona. Semua pikiran ini membuatnya gila. 

"Pak? Pak Joe?” Joe mendongak. Mendapati sekretarisnya yang datang dengan banyak folder map di dekapannya. “Bapak tidak apa apa?" tanya Tara sopan.

“Hanya sedikit pening, but I’m okay. Apa yang membuatmu kemari?”

“Saya hanya membawakan laporan keuangan bulan lalu, Pak. Bapak harus melihat detailnya.”

Joe menepuk pelan dahunya beberapa kali, berusaha menepis pikiran-pikiran tadi yang akhir-akhir ini makin mengganggunya. “Taruh saja di sana. Terima kasih Tara.”

“Sama-sama, Pak.”

“Tara, boleh buatkan saya kopi?”

“Ah, boleh, baik. Sebentar, ya, Pak!”

Joe hanya mengangguk, menaruh ponsel lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Bahkan kesibukannya selagi jadi CEO di salah satu perusahaan milik keluarganya tidak membuatnya cepat melupakan Iona. Justru pikirannya makin keruh saja. Meski kenyataannya dia hanya mau menjadi orang yang berguna untuk Ibu juga keluarganya. 

Tak lama kemudian, Tara kembali dengan membawa kopi putih kesukaannya. Meskipun ia sendiri yang meminta kopi itu, tapi mencium aromanya saja dadanya mendadak terasa sesak.

'Sial!', umpatnya.

"Kamu mungkin memang kurang cocok main olahraga, bakatmu kan melukis!" ucap Joe. Menuang kopi putih hangat dari termos kecil ke mug putihnya.

“Tuh, ‘kan! Ih minum kopi terus! Kenapa gak teh aja, sih? Kan sama-sama kafein! Kopi memperpendek umur orang yang suka mengonsumsinya, loh!” omel Iona kesal. Namun Joe tak mengindahkan kalimat Iona dan tetap menyeruput kopi itu.

"Oh, gitu sekarang.”

“Iya, iyaa Iona Cantik yang Baweel! Kamu bicara seperti itu karena gak pernah bener-bener coba kopii! Coba, deh, sekali-kali minum kopi. Aku yakin seratus persen kamu akan ketagihan juga!” Joe mengucapkan pembelaan sekaligus menghasut kekasihnya untuk ikut mengonsumsi kopi.

“Kurang suka aja, gak cocok di lidah aku. Apalagi kopi putih! Gak suka.” desis Iona seolah tengah membicarakan hal yang menjijikkan.

"Iya, ya? Kamu kan sukanya aku.”

Iona tertawa begitu keras, membuat Joe ikut tertawa mengagumi kecantikan keasihnya itu. Namun gelak tawa yang begitu renyah itu hanya berputar-putar di kepalanya, tak lagi bisa didengarnya dengan nyata. Padahal dulu hampir tiap hari ia bisa mendengar suara favoritnya itu.

"Pak? Bapak kenapa?"

 Joe keluar dari jurang pikirannya sendiri, "Bukan apa-apa. Makasih banyak, Tara. Kamu boleh kembali ke ruanganmu."

"Terima kasih Pak."

Joe memejamkan mata rapat-rapat sembari berusaha mengatur napasnya.

“Ternyata susah melupakanmu, Na. Tak semudah yang aku kira."

*✿❀ ❀✿*

Dokter spesialis saraf itu merapikan kacamatanya, menatap Fiki dan Buana dengan raut wajah serius namun tenang. Di hadapannya, beberapa hasil pemindaian otak Stella terpajang.

"Begini, Tuan Fiki. Kasus Nona Stella ini memang cukup unik," dokter itu memulai. "Secara fisik, luka akibat pengeroyokan itu mulai pulih. Namun, secara psikis, Nona Stella mengalami apa yang kami sebut sebagai Disosiasi Identitas pasca-trauma."

Fiki mengernyitkan dahi. "Maksud Dokter? Dia merasa dirinya orang lain?"

"Benar. Dalam kasus amnesia retrograde yang berat, otak bisa melakukan mekanisme pertahanan diri yang ekstrem. Karena pengeroyokan itu melibatkan banyak orang, otaknya mencatat kejadian tersebut sebagai ancaman eksistensial—sebuah trauma yang terlalu besar untuk ditanggung identitas aslinya," jelas dokter itu sambil menunjuk area lobus temporal pada hasil pemindaian.

"Menjadi 'Stella' berarti menjadi korban yang tak berdaya. Maka, otaknya melahirkan 'Iona'—sosok yang dalam bawah sadarnya dianggap lebih aman, atau mungkin tidak memiliki memori akan rasa sakit tersebut."

"Tapi dia meminta kami memanggilnya 'Iona', Dok. Itu nama yang benar-benar asing bagi kami," sela Fiki, suaranya bergetar cemas.

Dokter itu mengangguk paham. "Itu disebut Konfabulasi. Pasien merasa sangat yakin akan sebuah identitas atau ingatan yang sebenarnya tidak ada dalam riwayat hidupnya. Bagi Nona Stella, sosok 'Iona' ini adalah tempat persembunyian yang aman. Dia merasa lebih nyaman menjadi 'Iona' yang lembut daripada kembali menjadi 'Stella' yang mungkin menyimpan beban emosional yang kita tidak tahu."

"Lalu, apa yang harus kami lakukan?" tanya Buana heboh. Dia begitu sedih dan tak berdaya mendengar keadaan anak terkasihnya itu.

"Saran saya, ikuti saja dulu alurnya. Jangan dipaksa untuk mengingat atau dibantah identitas barunya. Jika kita menekannya terlalu keras untuk menjadi Stella, sarafnya bisa stres dan memicu trauma yang lebih dalam. Biarkan dia hidup sebagai 'Iona' untuk sementara waktu, sampai otaknya siap untuk merekonstruksi kembali jati diri aslinya."

Fiki terdiam, menatap pintu kamar adiknya dengan tatapan nanar. "Jadi, saya harus membiarkan adik saya menjadi orang asing di rumahnya sendiri?"

"Untuk kesembuhannya, ya. Anggap saja ini fase transisi," pungkas sang Dokter. Buana masih berupaya menahan tangisan. Ia bahkan tak sanggup untuk bertanya lebih lanjut. “Lebih baik ikuti saja alurnya. Sebisa mungkin turuti saja apa yang Nona ‘Iona’ ini inginkan.”

Keduanya mengangguk, Fiki dengan raut serius, sedang Buana dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.

“Sementara itu yang bisa saya analisis.”

“Terima kasih, Dokter. Biar saya antar untuk lanjut transaksi,” ucap Fiki bersamaan dengan perginya dua lelaki itu. Menyisakan Buana yang bersedih hati, terus memandang pintu kamar Iona yang tertutup.

Pskiater itu baru saja memeriksa keadaan Iona sekaligus menanyakan kondisi mentalnya. Tak disangka keadaan jiwa Iona yang bertransmigrasi ke tubuh Stella diterjemahkan seperti itu dalam bahasa medis. Untung bagi Iona yang sementara waktu bisa mudah beradaptasi, justru keluarga dan orang-orang di sekitar Stella yang beradaptasi dengan keadaan spesialnya saat ini.

“Ayah?” Buana terperanjat melihat Iona baru keluar dari kamar, dengan gaun merah lainnya. “Ayah kenapa?”

“Tidak apa-apa, Sayangku!” ucap Buana cepat-cepat mengusap air matanya. “Kenapa Tuan Putri Kecil Ayah ini keluar dari kamar? Ada yang Tuan Putri Kecil Ayah butuhkan?”

Iona tersenyum kecil, “Iona hanya berandai-andai kenapa lemari Iona hanya ada baju berwarna merah… Iona—”

“Iona mau baju baru? Mau beli baju beragam warna?” Ayahnya mengganguk senang. Mungkin itu ‘permintaan’ pertama Iona. Maka harus ia kabulkan. "Ayo! Ayah bakal beliin semua yang kamu mau!"

Iona menatap jendela mobil Bentley Mulsanne-nya. Melihat keseluruh bagian kota yang dibasahi oleh air hujan semalam. Banyak embun yang jatuh di pohon-pohon kecil. Suasana itu mengingatnya pada sosok tengil di suasana selepas hujan seperti ini, beberapa tahun yang lalu.

Joe berjalan mengendap-endap ke arah Iona yang sedang duduk di taman, menuliskan sesuatu. Dengan iseng, Joe menggoyangkan pohon yang tak begitu besar itu sehingga semua embunnya jatuh dan membasahi Iona. 

"Joe!" seru Iona sebagai refleks. Sebab, siapa lagi yang akan mengisenginya? Iona berdiri kesal dan mencari keberadaan sahabatnya itu. Dia lalu melempar tutup pulpen ke kepala Joe yang berdiri di balik pohon. Terlihat kekanak-kanakan memang karena saat itu mereka masih dikelas 9, SMP. 

Joe hanya menjulurkan lidahnya. Iona menghela napas kasar lalu kembali duduk di bangku taman itu. "Siapa suruh kemarin ngerjain aku pake kadal-kadalan?" ucap Joe sebagai pembelaan.

Mengingat ekspresi Joe saat itu membuat kemarahannya sedikit reda. "Lagian kenapa hewan selucu kadal ditakutin?”

“Idih! Lucu apanya? Lucuan juga kamu."

Iona membelalakkan matanya dan memukul bahu Joe. "Gak ya!"

"Memang lucu, kok." Iona tak bisa menahan senyuman. Pipinya mendadak merah merona. "Itu pipi kenapa merah?" tanya Joe sengaja membuat Iona sebal.

“IH SAHABAT RESE!”

"Kok sahabat, sih? Siapa bilang kita sahabatan?”

Mata Iona makin mendelik sebal, "Terus?!"

Joe tertawa renyah, "Besok aja aku lanjutinnya! Sekarang kita belum cukup umur," ucap Joe sok misterius selagi berjalan mundur dan menjauh dari Iona. "Aku pulang ya! Dah, Pipi Apel!”

“DASAR PHOBIA KADAL!”

“Iona Sayang? Kita sudah sampai!” Buana berkali-kali melambaikan tangan di depan wajah Iona yang baru sadar dari lamunannya. Saking terkejutnya, ia sampai keluar dari mobil itu seorang diri sebelum Mas Bro membukakan pintu mobil untuknya.

“Ini kita mau ke mana, Yah?”

“Kamu bilang mau belanja baju, bukan?”

Mobil Bentley Mulsanne menghilang dari pandangan Iona yang segera menyajikan  pemandangan Gedung butik terkenal dengan sepuluh lantai itu. Hanya kalangan borjuis yang mampu membeli di tempat seperti ini. Bahkan Iona sendiri pun hanya beberapa kali ke sana karena begitu mahal dan berkualitas bahan yang digunakan.

“Makasih banyak, Ayah!” seru Iona yang tak sadar memeluk tubuh Buana kuat-kuat. Membuat hati pria dewasa itu makin remuk saja, mengingat jika dahulu Stella tidak akan pernah memeluknya dengan alasan apa pun.

"Oh ya, Yah. Ayah mau panggil aku ‘Iona’ juga?”

“Iya, Sayang. Apa pun yang anak Ayah inginkan.”

Ilustrasi Back into Your Arms
Source: Gemini


Iona begitu tersentuh mendengar ucapan Buana. Jauh berbeda dengan Ayahnya yang gila kerja dan jarang sekali berbicara dengannya. Seolah-olah Tuhan menjawab doanya ingin mendapat peran Ayah di hidupnya, sedang Buana juga memiliki anak perempuan  yang benar-benar mengasihinya.

“Yuk, kita mulai borong-borong bajunya!" ajak Buana, menggiring anaknya ke arah Gedung ekslusif itu. Keduanya langsung disambut dengan wangi bunga lavender yang menyeruak ketika pintu kaca terbuka otomatis.

'Nyaman sekali tempatnyaa!', batin Iona senang. 

"Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu Tuan Buana?" ucap seseorang yang tampak begitu rapih dan berpenampilan mahal. Bahkan tak tampak seperti pelayan atau penjaga toko. Sepertinya mereka disambut oleh owner butik itu. Iona melirik kaget ke arah orang yang barusan bicara tadi. 

"Manda?!" gumam Iona nyaris keluar dari bibir dan terdengar mereka semua.

"Maaf, Nona bicara sesuatu?" tanya Manda begitu santun.

Jelas dengan cepat Iona menggeleng.

“Uhm… bukan apa-apa.”

Tiba-tiba suara telepon masuk. Rupanya dari ponsel Buana yang kemudian segera disibukkan dengan pekerjaannya. “Ehm, sebentar ya Iona Sayang! Ayah harus menjawab telepon ini. Nanti kalau ada apa-apa minta tolong ke Mas Bro, ya!” Nampaknya urusan mendesak sampai ia menyuruh salah satu Mas Bro untuk mendampingi Iona belanja karena fokusnya benar-benar ia pusatkan kepada siapapun yang ada di balik telepon itu.

“Iona?” Jelas Manda terkejut mendengar nama itu disebut setelah selang lima tahun lamanya. Iona yang menyadari reaksi aneh Manda jelas mengamati gadis itu, menunggu reaksi apa yang akan Manda keluarkan. “Ah, pasti perasaanku saja,” desis Manda kemudian kembali  tersenyum formal.

“Pakaian dengan spesifikasi apa yang Nona cari? Mungkin saya bisa bantu arahkan.”

Iona masih mengamati Manda dalam-dalam. Menunggu barangkali ada pertanyaan lain yang lebih mengarah ke ‘Iona’ atau apa pun yang mencurigainya. Namun Manda tak menanyakan apa pun lagi. Membuat Iona tersenyum canggung.

“Bisa lihat kumpulan short dress feminism dengan warna polos?"

Manda mengganguk, "Di sebelah sini, Kak. Ini ada varian modelnya. Ada yang bebas lengan, ada yang..." Tak satupun perkataan Manda yang benar-benar Iona dengarkan. Gadis itu sibuk menatap dan mengamati Manda yang semakin cantik dan menawan. Melihat badannya yang sedikit lebih berisi itu buatnya banyak bertanya-tanya dalam hati.

'Apa mungkin dia udah punya anak sama Joe?' batin Iona sedih. Kemungkinan terburuk yang mau tak mau bisa saja Iona hadapi dalam beberapa saat ke depan.

"Jadi mau yang seperti apa modelnya, Nona?"

Iona menggelengkan kepalanya. "Ambil satu dari setiap jenis dengan ukurannya M. Warna apa pun kecuali merah, ya, Kak. Terima kasih." Iona memejamkan mata sesaat. Berusaha membuang jauh lebih dulu kemungkinan buruk yang mungkin akan membuatnya menangis. Ia terus melangkah menjauh, bahkan tak mau dengar reaksi Manda ketika ia mengucapkan seperti itu. Iona mengalihkan diri dengan mulai berjalan ke tempat sepatu.

"Permisi, Kak!" panggil Iona pada seseorang yang sedang duduk di kursi sebelah kasir. Orang itu bergegas setengah lari dan mendekati Iona.

"Iya Kak, ada yang bisa kami bantu?"

Lagi lagi Iona membelalakkan mata, bahkan menggangga tak percaya. Dia menutup mulutnya dengan dramatis. "Vana?!" seru Iona tak sadar. Kali ini terdengar jelas bahkan cukup keras. Orang itu tampak bingung dan mengangguk setuju.

"Iya Kak… itu nama saya. Ada yang bisa saya bantu?"

Iona menatap orang di hadapannya, Vana, sahabatnya saat di bangku SMP juga SMA. Iona tak sanggup berkata-kata karena sangat terkejut melihat Vana yang banyak berubah. Seolah tak mau peduli dengan keadaannya kini, bahkan dengan dua bodyguard keluarga yang dijuluki Mas Bro, Iona menarik Vana ke ruang Ganti lalu bergegas memeluknya.

“Vana… aku tahu kamu bingung, tapi—”

“Iona?!”

Iona menggantungkan kalimatnya. Mulai mengurai pelukan keduanya karena tiba-tiba Vana memanggil namanya sungguh-sungguh, bukan Stella seperti bagaimana penampilannya sekarang.

Ilustrasi Back into Your Arms
Source: Gemini


Iona begitu terkejut saat mendapati Vana mendelik, menunjuk tak percaya ke arah kaca di belakang tubuh mereka. Mendapati penampakan roh Iona yang begitu cantik di hadapannya, meski sesungguhnya raga yang dipeluknya adalah tubuh Stella. Kaca itu memantulkan iras Iona begitu jelasnya, sampai Vana bingung sendiri dan mengusap matanya berulang-ulang.

Iona bingung harus bagaimana karena ia tak tahu jika orang lain bisa melihat wujud aslinya dalam cermin. Bisa jadi ini merupakan kabar baik, akan tetapi bisa juga permulaan dari mimpi buruk tak berujung.


Back into Your Arms
BiYA Chapter V


Karya ini adalah hak milik intelektual Alinea Aneyla. Mohon untuk tidak menyalin, mendistribusikan, atau mempublikasikan ulang tanpa izin tertulis dari penulis.

Komentar

Postingan Populer

About Us   |   Contact   |   Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 ALINEA ANEYLA. Tiap kata miliki jiwa.