Langsung ke konten utama

Unggulan

Back into Your Arms: Chapter Nine [ENG]

BiYA Chapter IX Joe stopped his car in front of a pecel lele tent. He fell silent for a moment, looking at Iona who was still smiling widely beside him. Iona had very rarely eaten pecel lele during her life because her Mother was quite strict about her eating rules. Thus, imagining eating it with her loved one made Iona feel giddy with joy. However, Iona tried to maintain her expression, thinking about what she should say later when facing Joe.  "Why? Were you expecting a five-star restaurant or other expensive food?" Joe asked flatly.  "No! I'm just happy, really." source: Gemini Joe rolled his eyes, took the keys, and opened the car door. Without waiting for Iona to get out, he had already stepped into the pecel lele tent and sat down on one of the wooden chairs there. With hurried steps, Iona managed to catch up with Joe, who still wore a cold expression. "You should be grateful I didn't lock you in there," Joe interrupted sharply just as Ion...

Back into Your Arms: Bagian Enam [INA]

Back into Your Arms
BiYA Chapter VI

Iona membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Ia perlahan mengikuti arah telunjuk Vana ke arah cermin besar di belakang mereka. Di sana, pantulan yang seharusnya adalah Stella—dengan rambut sebahu dan dress merahnya—justru menampilkan sosok Iona. Iona yang asli, dengan senyum tipisnya yang khas dan binar mata yang selalu dirindukan Vana.

“I... Iona?” suara Vana tercekat, nyaris seperti bisikan.

Vana melepaskan cengkeramannya pada bahu tubuh Stella berisikan jiwa Iona, lalu mundur selangkah. Matanya beralih cepat antara wajah Stella di depannya dan pantulan Iona di cermin. "Ini nggak mungkin... kamu... kenapa di cermin itu..."

Iona sadar dia tidak bisa bersembunyi lagi. Semua begitu jelas tapi tak masuk akal untuk dijelaskan. Entah apa alasannya, tapi wujud rohnya tampak begitu jelas di kaca besar itu. Akhirnya Iona menatap Vana lurus-lurus. Ya, jika ada satu orang di dunia ini yang bisa ia percaya selain Joe, itu adalah Vana.

“Van, dengerin aku,” Iona maju selangkah, mencoba meraih tangan sahabatnya. “Aku tahu ini gila. Aku tahu ini nggak masuk akal. Dan aku nggak tahu gimana cara jelasinnya karena kamu pasti pikir aku sudah mati.”

“Tapi kamu memang sudah mati!” seru Vana, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku datang ke pemakamanmu! Aku yang pegang payung untuk mamamu waktu itu! Lalu sekarang bagaimana ceritanya kamu—”

“Aku juga gak tahu alasannya, tapi sekarang aku ada di tubuh Stella.”

“Di tubuh Stella? Maksudmu, kamu sepenuhnya hidup tapi… di tubuh orang lain?”

Iona mengangguk cepat, air matanya sendiri mulai jatuh. “Aku nggak tahu kenapa Tuhan kasih aku kesempatan kedua di tubuh ini. Tapi Van, aku masih Iona. Sahabat kamu sedari dulu.”

Vana terisak, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Keajaiban di depan matanya terlalu besar untuk dicerna akal sehat. Namun, melihat sorot mata di tubuh Stella itu—sorot mata yang hanya dimiliki Iona—Vana tahu itu benar-benar sahabatnya.

“Jadi... Iona yang tidak bisa minum kopi, yang suka makan apel hijau ada di tubuh ini?”

“Iya, ini aku. Sahabat yang tahu betul akan hobi dan obsesimu soal fashion dan budaya western!”

Vana akhirnya luluh. Ia menerjang maju dan memeluk Stella—tidak, dia memeluk Iona—dengan sangat erat. “Kamu jahat, Na! Kamu pergi gitu aja! Kamu gak pernah cerita banyak lagi, menghilang, dan tahu-tahu hanya datang kabar buruk soal kematianmu! Kau tahu, kau bikin Joe hampir gila! Dann jelas bikin aku kehilangan separuh hidupku!”

Di balik pundak Vana, Iona kembali menatap cermin. Sosok rohnya di sana perlahan memudar, kembali menampilkan fisik Stella yang cantik. Iona menghela napas lega, namun pikirannya kini beralih pada satu hal:

“Vana saja bisa melihatku di cermin... apakah Joe juga akan melihat hal yang sama?”

“Tapi ini gila sih! Dari semua orang di dunia kamu masuk ke tubuh seorang Stella Viviana, konglomerat yang berdarah dingin. Sungguh beda 180 derajat dengan sifat aslimu!” desis Vana sembari mengecek baju yang digantung satu-persatu, mencarikan atasan untuk Iona.

“Kamu tahu banyak soal Stella?” tanya Iona yang terus mengikuti langkah Vana.

“Tidak juga, privasi mereka cukup kuat.” Vana melirik ke dua Mas Bro yang berdiri tegap cukup jauh dari mereka. Mata keduanya siap siaga dan terus mengamati pergerakan Iona alias Stella, tuan mereka. “Lihat saja, ke manapun kau akan diikuti oleh pria-pria raksasa itu. Sepertinya semenjak kejadian pengeroyokan, Tuan Buana jadi semakin protektif terhadap anak kesayangannya.”

“Jadi kejadian itu memang terdengar di mana-mana ya?” Iona menggaruk tengkuknya.

“Yaaa, seperti itulah. Karena tidak biasanya Stella tumbang begitu saja. Memang licik siapapun itu yang merencanakan kematian Stella,” bisik Vana lebih kecil dari sebelumnya. “Jujur saja aku tak pernah menyangka ada kehidupan seperti ini di dunia.”

Iona tersenyum, merasa senang dan energinya terbakar lagi. Setidaknya dia punya satu support system yang sungguh tahu jati dirinya.

“Kamu… bekerja untuk Manda, ya?”

Vana menghentikan gerakannya, memandang Iona yang sedari tadi berkomunikasi dengannya dengan cara bisik-bisik. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku melihatnya di depan, dia menyapaku dan Tuan Buana. Aku tahu saja dia pasti pemilik butik ini.” Iona berbohong. Jelas dia tahu karena saat ia masih hidup menjadi seorang Iona, ia sering menghabiskan waktunya untuk mencari tahu siapa itu Manda. Termasuk apa saja usaha yang keluarga Manda punya. Namun merk butik ini termasuk baru. Pasti keuntungan keluarga gadis itu begitu besar.

“Ah, jelas saja. Tuan Buana termasuk investor besar di butik Oceanna ini.” Iona mengangguk, mencerna informasi yang Vana sampaikan. “Dia dijodohkan dengan Joe, bukan? Kau pasti mencari tahu banyak hal tentang dia.”

Ilustrasi Back into Your Arms
Source: Gemini


Iona hanya terdiam. Ternyata mendengar nama Joe memberi getaran hebat di jantungnya. Bahkan saat di tubuh Stella, rasa sakit dan berdebarnya masih sama.

“Tenang saja, Manda akhirnya menolak perjodohan dan membatalkan pernikahan itu. Setelah kamu meninggal, pernikahan itu tidak pernah terlaksana. Joe maupun Vana sampai sekarang belum menikah. Aturan di kota Jodhokerto pun berubah total, tidak ada lagi tuntutan ke para laki-laki untuk menikah di umur 20 tahun.” Vana menghela napas lalu menaruh semua baju yang sudah dipilihnya di atas meja kasir. “Duduklah, aku akan menghitung dan membungkus semua belanjaanmu, Tuan Putri.”

“Ah, kamu memang yang terbaik! Terima kasih Vana!”

“Hubungi aku kalau perlu apa pun, ya. Nomorku ada di kartu nama ini,” bisik Vana sembari menyerahkan semua tote bag ke Mas Bro yang masih siap siaga sedari tadi.

“Tentu saja, terima kasih untuk semuanya hari ini. Kamu banyak sekali membantuku.”

*✿❀ ❀✿*

"Nona Iona—”

Iona teriak begitu kencang begitu keluar dari mobil dan disambut dengan Mas Bro. Lebih lagi wajah Mas Bro begitu dekat di hadapannya.

“Mas Bro kenapa di sini?!”

“Loh, saya kan memang ditugaskan untuk jaga di kediaman utama ini.”

Iona memegang dadanya, berusaha mengatur napas lalu turun dari mobil berwarna hitam itu. “Lebih lagi saya ‘kan memang pengawal pribadi Nona Iona, kalau Nona ingat. Harusnya saya menemani Nona juga ke butik, akan tetapi mengingat Nona menyuruh saya mencari tahu soal Tuan—”

Cepat-cepat gadis itu menarik lengan pria di depannya, berusaha menutupi mulutnya akan tetapi tak sampai karena begitu tinggi pria berumur itu.

“Shushh, jangan disebut namanya!” bisik Iona gemas.

“Eh, maafkan saya, Non!”

“Tolong bawakan semua belanjaan saya ke kamar, ya! Terima kasih,” ucap Iona pada dua Mas Bro di belakangnya. Begitu dua pria itu menghilang, Iona kembali fokus pada Mas Bro berjanggut itu, “Bagaimana, bagaimana? Kamu berhasil dapat info?”

“Iya, ini info terbaru tentang Joseph Banara,” ujar pria berjanggut itu. Mengulurkan setumpuk kertas dengan halaman yang cukup tebal berisikan data tentang Joseph Banara. Jelas Iona langsung melompat kegirangan, menyambar kumpulan kertas yang sudah dijilid itu secepat mungkin.

“Tapi Mas Bro sudah membaca Sebagian besar soal dia, ‘kan? Dia tinggal di mana, sama siapa, kerja di mana?”

Mas Bro mengangguk, akan tetapi ekspresi wajahnya penuh tanda tanya.

“Coba dikte itu semua ke saya!”

“Dia direktur sebuah usaha saham dengan nama Irena Company, sudah jalan selama tiga tahun dan cukup sukses di pasaran bersaing dengan usaha lain. Sekarang dia tinggal seorang diri di perumahan Azure, 40 km dari sini—”

“Gimana Mas Bro?! 40 km saja dari sini?!”

Mas Bro mengangguk cepat, cukup terkejut karena diinterupsi.

“Itu musuh baru Nona Iona atau bagaimana? Perlukah saya kirim pembunuh misterius ke alamat dia?”

“EH?! Sembarangan! Jangan berani-berani lukai dia ya kamu!” seru Iona cepat, menunjuk Mas Bro tepat di depan hidung pria itu. Matanya melotot memperingati. “Kamu tak perlu tahu dia siapa, yang pasti dia alasan aku bisa pulih secepat ini.”

Iona memandang tumpukan keras di dekapannya. Memandang foto demi foto yang diambil, entah oleh mata-mata jenis apa yang Mas Bro bayar, akan tetapi Iona begitu bahagia bisa melihat gambar Joe terbaru. Seolah mengobati rindu yang terus ia serukan dalam hati. Meski ia tak merasakan lambatnya rotasi waktu di bumi, akan tetapi mungkin hatinya merasakan ilusi rindu seolah tak bertemu sekian tahun oleh lelaki tampan itu.

“Sejauh apa aku boleh pergi hari ini?”

*✿❀ ❀✿*

Joe menarik napas, menyandarkan tubuh ke kursi hitam di belakang tubuhnya begitu computer di depannya mati.

“Tara!”

Tara yang mendengar panggilan itu segera berjalan cepat, menghampiri atasannya, “Bagaimana, Pak?”

“Saya sedang merasa tidak enak badan dan ingin pulang. Tolong kosongkan semua jadwal saya tiga hari ke depan, saya ingin istirahat. Untuk client yang mau meeting ataupun agreement, tolong tunda dan ubah jadwalnya.”

“Tapi, Pak, Pak Pandu ingin bertemu Bapak besok. Kalau tidak segera—”

“Kalaupun dia membatalkan perjanjian atau mengambil sahamnya lagi tidak masalah. Lagipula aku hidup bukan untuk uang.” Seolah tak mau peduli, Joe bahkan sudah mengemas barangnya. “Terima kasih atas bantuanmu. Tak perlu repot untuk mengurusi semua kerjaan. Kalaupun kamu mau istirahat selama tiga hari ini, aku tidak keberatan.”

Tara tak berani menyanggah lagi. Membiarkan atasannya keluar dari ruangan. Melihat keadaan Joe yang makin buruk dari hari ke hari membuat Tara jadi penasaran seindah apa sosok Iona sampai-sampai kematiannya mematikan harapan di hidup Joe.

Ilustrasi Back into Your Arms
Source: Gemini


Joe turun dari lantai teratas ke basement tempat ia parkir dengan lift pribadinya. Begitu dia berjalan keluar sembari membenarkan dasinya, ia tak tahu ada seseorang yang menunggu berjam-jam untuk menemuinya di suatu titik tak jauh dari sana. Begitu dia keluar dari basement, mendadak salah satu satpam menghadang laju mobilnya.

Joe mengkerutkan dahinya. Segera membuka kaca mobil begitu satpam itu berdiri di samping pintu kemudi. “Ada apa ya, Pak?” tanya Joe tak suka. Karena apa gerangan yang membuat seorang satpam menghentikan laju mobilnya?

“Ada yang ingin bertemu dengan Bapak!" ucap satpam itu hormat. Pasti dia takut dan tertekan menghadapi Joe, akan tetapi dia lebih takut tak menyampaikan pesan itu kepada atasannya. “Orangnya sudah menunggu sedaritadi di lobi, Pak, tapi rupanya Bapak langsung ke basement—”

“Jelas, saya ingin segera istirahat—maka dari itu tujuan saya memang untuk segera pulang,” jelas Joe dengan datar.

Namun siapa pun sosok yang ingin bertemu dengannya ini membuat Joe penasaran. Biasanya jika ada orang yang ingin bertemu atau berbicara dengan Joe, lebih lagi soal pekerjaan, mereka harus membuat janji dan harus memiliki urusan penting. Joe lelah, tapi entah kenapa dia penasaran juga dengan sosok yang ingin menemuinya tersebut.

“Di mana dia?”

“Depan lobi, Pak. Mau saya panggilkan orangnya?”

Joe menghembuskan napas lelah. Terdiam cukup lama lalu tiba-tiba menggeleng.

“Bilang sama orang itu untuk buat janji lebih dulu sebelum menemui saya. Saya tidak bisa diganggu gugat tiga hari ini. Terima kasih.”

Tak mau peduli dengan apa pun yang akan satpam itu katakan, Joe sudah menutup jendela mobil Mercedes-Benz E-Class berwarna biru itu dan melanju pergi meninggalkan Gedung utama kantor Irena Company. Ia sudah membulatkan tekad untuk rehat sepenuhnya soal kerjaan selama tiga hari ke depan.

Iona, dengan dua Mas Bro di belakang tubuhnya, yang sudah menunggu sedari tadi begitu bahagia saat melihat satpam itu kembali. Namun rautnya kembali masam saat melihat tak ada siapapun yang datang menyusul.

Ilustrasi Back into Your Arms
Source: Gemini


“Tuan Joe tidak bisa bertemu jika Nona tidak membuat janji sebelumnya. Sepertinya Tuan Joe juga sedang terburu-buru—”

“Kami sudah menunggu dua jam, loh!” seru Iona spontan.

“Maaf, tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membu—”

Iona melangkah pergi dengan kaki menghentak kesal, meninggalkan si satpam yang hanya bisa mengelus dada sambil menatap sisa asap knalpot dua mobil mewah di depannya. "Nasib, nasib," gumamnya sambil membetulkan posisi topi yang miring, "gaji UMR tapi tiap hari disuruh jadi penengah urusan orang penting yang sama-sama keras kepala. Satunya bos irit ngomong, satunya nona muda tukang melotot. Mending lanjut makan gorengan daripada pusing mikirin kenapa orang-orang kaya ini hobi banget bikin janji tapi nggak mau ketemu!" Ia pun kembali ke pos jaga dengan lesu, merasa jadi orang paling tidak dianggap di tengah ego para borjuis tersebut.

Back into Your Arms
BiYA Chapter VI

Karya ini adalah hak milik intelektual Alinea Aneyla. Mohon untuk tidak menyalin, mendistribusikan, atau mempublikasikan ulang tanpa izin tertulis dari penulis.

Komentar

Postingan Populer

About Us   |   Contact   |   Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 ALINEA ANEYLA. Tiap kata miliki jiwa.