Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Enam [INA]
![]() |
| BiYA Chapter VI |
Iona membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa
menyakitkan di dada. Ia perlahan mengikuti arah telunjuk Vana ke arah cermin
besar di belakang mereka. Di sana, pantulan yang seharusnya adalah
Stella—dengan rambut sebahu dan dress merahnya—justru menampilkan sosok Iona.
Iona yang asli, dengan senyum tipisnya yang khas dan binar mata yang selalu
dirindukan Vana.
“I... Iona?” suara Vana tercekat, nyaris seperti bisikan.
Vana melepaskan cengkeramannya pada bahu tubuh Stella
berisikan jiwa Iona, lalu mundur selangkah. Matanya beralih cepat antara wajah
Stella di depannya dan pantulan Iona di cermin. "Ini nggak mungkin...
kamu... kenapa di cermin itu..."
Iona sadar dia tidak bisa bersembunyi lagi. Semua begitu
jelas tapi tak masuk akal untuk dijelaskan. Entah apa alasannya, tapi wujud
rohnya tampak begitu jelas di kaca besar itu. Akhirnya Iona menatap Vana lurus-lurus.
Ya, jika ada satu orang di dunia ini yang bisa ia percaya selain Joe, itu
adalah Vana.
“Van, dengerin aku,” Iona maju selangkah, mencoba meraih
tangan sahabatnya. “Aku tahu ini gila. Aku tahu ini nggak masuk akal. Dan aku
nggak tahu gimana cara jelasinnya karena kamu pasti pikir aku sudah mati.”
“Tapi kamu memang sudah mati!” seru Vana, air mata mulai
menggenang di pelupuk matanya. “Aku datang ke pemakamanmu! Aku yang pegang
payung untuk mamamu waktu itu! Lalu sekarang bagaimana ceritanya kamu—”
“Aku juga gak tahu alasannya, tapi sekarang aku ada di tubuh
Stella.”
“Di tubuh Stella? Maksudmu, kamu sepenuhnya hidup tapi… di
tubuh orang lain?”
Iona mengangguk cepat, air matanya sendiri mulai jatuh. “Aku
nggak tahu kenapa Tuhan kasih aku kesempatan kedua di tubuh ini. Tapi Van, aku
masih Iona. Sahabat kamu sedari dulu.”
Vana terisak, menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
Keajaiban di depan matanya terlalu besar untuk dicerna akal sehat. Namun,
melihat sorot mata di tubuh Stella itu—sorot mata yang hanya dimiliki Iona—Vana
tahu itu benar-benar sahabatnya.
“Jadi... Iona yang tidak bisa minum kopi, yang suka makan
apel hijau ada di tubuh ini?”
“Iya, ini aku. Sahabat yang tahu betul akan hobi dan
obsesimu soal fashion dan budaya western!”
Vana akhirnya luluh. Ia menerjang maju dan memeluk
Stella—tidak, dia memeluk Iona—dengan sangat erat. “Kamu jahat, Na! Kamu pergi
gitu aja! Kamu gak pernah cerita banyak lagi, menghilang, dan tahu-tahu hanya
datang kabar buruk soal kematianmu! Kau tahu, kau bikin Joe hampir gila! Dann
jelas bikin aku kehilangan separuh hidupku!”
Di balik pundak Vana, Iona kembali menatap cermin. Sosok
rohnya di sana perlahan memudar, kembali menampilkan fisik Stella yang cantik.
Iona menghela napas lega, namun pikirannya kini beralih pada satu hal:
“Vana saja bisa melihatku di cermin... apakah Joe juga
akan melihat hal yang sama?”
“Tapi ini gila sih! Dari semua orang di dunia kamu masuk ke
tubuh seorang Stella Viviana, konglomerat yang berdarah dingin. Sungguh beda
180 derajat dengan sifat aslimu!” desis Vana sembari mengecek baju yang
digantung satu-persatu, mencarikan atasan untuk Iona.
“Kamu tahu banyak soal Stella?” tanya Iona yang terus
mengikuti langkah Vana.
“Tidak juga, privasi mereka cukup kuat.” Vana melirik ke dua
Mas Bro yang berdiri tegap cukup jauh dari mereka. Mata keduanya siap siaga dan
terus mengamati pergerakan Iona alias Stella, tuan mereka. “Lihat saja, ke
manapun kau akan diikuti oleh pria-pria raksasa itu. Sepertinya semenjak kejadian
pengeroyokan, Tuan Buana jadi semakin protektif terhadap anak kesayangannya.”
“Jadi kejadian itu memang terdengar di mana-mana ya?” Iona
menggaruk tengkuknya.
“Yaaa, seperti itulah. Karena tidak biasanya Stella tumbang
begitu saja. Memang licik siapapun itu yang merencanakan kematian Stella,”
bisik Vana lebih kecil dari sebelumnya. “Jujur saja aku tak pernah menyangka
ada kehidupan seperti ini di dunia.”
Iona tersenyum, merasa senang dan energinya terbakar lagi.
Setidaknya dia punya satu support system yang sungguh tahu jati dirinya.
“Kamu… bekerja untuk Manda, ya?”
Vana menghentikan gerakannya, memandang Iona yang sedari
tadi berkomunikasi dengannya dengan cara bisik-bisik. “Bagaimana kau bisa tahu?”
“Aku melihatnya di depan, dia menyapaku dan Tuan Buana. Aku
tahu saja dia pasti pemilik butik ini.” Iona berbohong. Jelas dia tahu karena
saat ia masih hidup menjadi seorang Iona, ia sering menghabiskan waktunya untuk
mencari tahu siapa itu Manda. Termasuk apa saja usaha yang keluarga Manda
punya. Namun merk butik ini termasuk baru. Pasti keuntungan keluarga gadis itu
begitu besar.
“Ah, jelas saja. Tuan Buana termasuk investor besar di butik
Oceanna ini.” Iona mengangguk, mencerna informasi yang Vana sampaikan. “Dia dijodohkan
dengan Joe, bukan? Kau pasti mencari tahu banyak hal tentang dia.”
![]() |
| Source: Gemini |
Iona hanya terdiam. Ternyata mendengar nama Joe memberi
getaran hebat di jantungnya. Bahkan saat di tubuh Stella, rasa sakit dan
berdebarnya masih sama.
“Tenang saja, Manda akhirnya menolak perjodohan dan
membatalkan pernikahan itu. Setelah kamu meninggal, pernikahan itu tidak pernah
terlaksana. Joe maupun Vana sampai sekarang belum menikah. Aturan di kota
Jodhokerto pun berubah total, tidak ada lagi tuntutan ke para laki-laki untuk
menikah di umur 20 tahun.” Vana menghela napas lalu menaruh semua baju yang
sudah dipilihnya di atas meja kasir. “Duduklah, aku akan menghitung dan
membungkus semua belanjaanmu, Tuan Putri.”
“Ah, kamu memang yang terbaik! Terima kasih Vana!”
“Hubungi aku kalau perlu apa pun, ya. Nomorku ada di kartu
nama ini,” bisik Vana sembari menyerahkan semua tote bag ke Mas Bro yang masih
siap siaga sedari tadi.
“Tentu saja, terima kasih untuk semuanya hari ini. Kamu banyak
sekali membantuku.”
**✿❀ ❀✿**
"Nona Iona—”
Iona teriak begitu kencang begitu keluar dari mobil dan
disambut dengan Mas Bro. Lebih lagi wajah Mas Bro begitu dekat di hadapannya.
“Mas Bro kenapa di sini?!”
“Loh, saya kan memang ditugaskan untuk jaga di kediaman utama
ini.”
Iona memegang dadanya, berusaha mengatur napas lalu turun
dari mobil berwarna hitam itu. “Lebih lagi saya ‘kan memang pengawal pribadi
Nona Iona, kalau Nona ingat. Harusnya saya menemani Nona juga ke butik, akan
tetapi mengingat Nona menyuruh saya mencari tahu soal Tuan—”
Cepat-cepat gadis itu menarik lengan pria di depannya,
berusaha menutupi mulutnya akan tetapi tak sampai karena begitu tinggi pria berumur
itu.
“Shushh, jangan disebut namanya!” bisik Iona gemas.
“Eh, maafkan saya, Non!”
“Tolong bawakan semua belanjaan saya ke kamar, ya! Terima
kasih,” ucap Iona pada dua Mas Bro di belakangnya. Begitu dua pria itu menghilang,
Iona kembali fokus pada Mas Bro berjanggut itu, “Bagaimana, bagaimana? Kamu
berhasil dapat info?”
“Iya, ini info terbaru tentang Joseph Banara,” ujar pria
berjanggut itu. Mengulurkan setumpuk kertas dengan halaman yang cukup tebal
berisikan data tentang Joseph Banara. Jelas Iona langsung melompat kegirangan,
menyambar kumpulan kertas yang sudah dijilid itu secepat mungkin.
“Tapi Mas Bro sudah membaca Sebagian besar soal dia, ‘kan?
Dia tinggal di mana, sama siapa, kerja di mana?”
Mas Bro mengangguk, akan tetapi ekspresi wajahnya penuh
tanda tanya.
“Coba dikte itu semua ke saya!”
“Dia direktur sebuah usaha saham dengan nama Irena Company,
sudah jalan selama tiga tahun dan cukup sukses di pasaran bersaing dengan usaha
lain. Sekarang dia tinggal seorang diri di perumahan Azure, 40 km dari sini—”
“Gimana Mas Bro?! 40 km saja dari sini?!”
Mas Bro mengangguk cepat, cukup terkejut karena diinterupsi.
“Itu musuh baru Nona Iona atau bagaimana? Perlukah saya
kirim pembunuh misterius ke alamat dia?”
“EH?! Sembarangan! Jangan berani-berani lukai dia ya kamu!”
seru Iona cepat, menunjuk Mas Bro tepat di depan hidung pria itu. Matanya
melotot memperingati. “Kamu tak perlu tahu dia siapa, yang pasti dia alasan aku
bisa pulih secepat ini.”
Iona memandang tumpukan keras di dekapannya. Memandang foto
demi foto yang diambil, entah oleh mata-mata jenis apa yang Mas Bro bayar, akan
tetapi Iona begitu bahagia bisa melihat gambar Joe terbaru. Seolah mengobati rindu
yang terus ia serukan dalam hati. Meski ia tak merasakan lambatnya rotasi waktu
di bumi, akan tetapi mungkin hatinya merasakan ilusi rindu seolah tak bertemu
sekian tahun oleh lelaki tampan itu.
“Sejauh apa aku boleh pergi hari ini?”
**✿❀ ❀✿**
Joe menarik napas, menyandarkan tubuh ke kursi hitam di
belakang tubuhnya begitu computer di depannya mati.
“Tara!”
Tara yang mendengar panggilan itu segera berjalan cepat,
menghampiri atasannya, “Bagaimana, Pak?”
“Saya sedang merasa tidak enak badan dan ingin pulang.
Tolong kosongkan semua jadwal saya tiga hari ke depan, saya ingin istirahat.
Untuk client yang mau meeting ataupun agreement, tolong tunda dan ubah
jadwalnya.”
“Tapi, Pak, Pak Pandu ingin bertemu Bapak besok. Kalau tidak
segera—”
“Kalaupun dia membatalkan perjanjian atau mengambil sahamnya
lagi tidak masalah. Lagipula aku hidup bukan untuk uang.” Seolah tak mau
peduli, Joe bahkan sudah mengemas barangnya. “Terima kasih atas bantuanmu. Tak
perlu repot untuk mengurusi semua kerjaan. Kalaupun kamu mau istirahat selama
tiga hari ini, aku tidak keberatan.”
Tara tak berani menyanggah lagi. Membiarkan atasannya keluar
dari ruangan. Melihat keadaan Joe yang makin buruk dari hari ke hari membuat
Tara jadi penasaran seindah apa sosok Iona sampai-sampai kematiannya mematikan
harapan di hidup Joe.
![]() |
| Source: Gemini |
Joe turun dari lantai teratas ke basement tempat ia parkir dengan
lift pribadinya. Begitu dia berjalan keluar sembari membenarkan dasinya, ia tak
tahu ada seseorang yang menunggu berjam-jam untuk menemuinya di suatu titik tak
jauh dari sana. Begitu dia keluar dari basement, mendadak salah satu satpam
menghadang laju mobilnya.
Joe mengkerutkan dahinya. Segera membuka kaca mobil begitu
satpam itu berdiri di samping pintu kemudi. “Ada apa ya, Pak?” tanya Joe tak
suka. Karena apa gerangan yang membuat seorang satpam menghentikan laju mobilnya?
“Ada yang ingin bertemu dengan Bapak!" ucap satpam itu
hormat. Pasti dia takut dan tertekan menghadapi Joe, akan tetapi dia lebih
takut tak menyampaikan pesan itu kepada atasannya. “Orangnya sudah menunggu
sedaritadi di lobi, Pak, tapi rupanya Bapak langsung ke basement—”
“Jelas, saya ingin segera istirahat—maka dari itu tujuan
saya memang untuk segera pulang,” jelas Joe dengan datar.
Namun siapa pun sosok yang ingin bertemu dengannya ini
membuat Joe penasaran. Biasanya jika ada orang yang ingin bertemu atau
berbicara dengan Joe, lebih lagi soal pekerjaan, mereka harus membuat janji dan
harus memiliki urusan penting. Joe lelah, tapi entah kenapa dia penasaran juga dengan
sosok yang ingin menemuinya tersebut.
“Di mana dia?”
“Depan lobi, Pak. Mau saya panggilkan orangnya?”
Joe menghembuskan napas lelah. Terdiam cukup lama lalu tiba-tiba
menggeleng.
“Bilang sama orang itu untuk buat janji lebih dulu sebelum
menemui saya. Saya tidak bisa diganggu gugat tiga hari ini. Terima kasih.”
Tak mau peduli dengan apa pun yang akan satpam itu katakan,
Joe sudah menutup jendela mobil Mercedes-Benz E-Class berwarna biru itu dan
melanju pergi meninggalkan Gedung utama kantor Irena Company. Ia sudah membulatkan
tekad untuk rehat sepenuhnya soal kerjaan selama tiga hari ke depan.
Iona, dengan dua Mas Bro di belakang tubuhnya, yang sudah
menunggu sedari tadi begitu bahagia saat melihat satpam itu kembali. Namun
rautnya kembali masam saat melihat tak ada siapapun yang datang menyusul.
![]() |
| Source: Gemini |
“Tuan Joe tidak bisa bertemu jika Nona tidak membuat janji
sebelumnya. Sepertinya Tuan Joe juga sedang terburu-buru—”
“Kami sudah menunggu dua jam, loh!” seru Iona spontan.
“Maaf, tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membu—”
Iona melangkah pergi dengan kaki menghentak kesal,
meninggalkan si satpam yang hanya bisa mengelus dada sambil menatap sisa asap
knalpot dua mobil mewah di depannya. "Nasib, nasib," gumamnya sambil
membetulkan posisi topi yang miring, "gaji UMR tapi tiap hari disuruh jadi
penengah urusan orang penting yang sama-sama keras kepala. Satunya bos irit
ngomong, satunya nona muda tukang melotot. Mending lanjut makan gorengan
daripada pusing mikirin kenapa orang-orang kaya ini hobi banget bikin janji
tapi nggak mau ketemu!" Ia pun kembali ke pos jaga dengan lesu, merasa
jadi orang paling tidak dianggap di tengah ego para borjuis tersebut.
![]() |
| BiYA Chapter VI |
Postingan Populer
Back into Your Arms: Bagian Satu [INA]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Back into Your Arms: Bagian Satu [ENG]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
.png)

.jpg)


Komentar
Posting Komentar