Langsung ke konten utama

Unggulan

Back into Your Arms: Chapter Nine [ENG]

BiYA Chapter IX Joe stopped his car in front of a pecel lele tent. He fell silent for a moment, looking at Iona who was still smiling widely beside him. Iona had very rarely eaten pecel lele during her life because her Mother was quite strict about her eating rules. Thus, imagining eating it with her loved one made Iona feel giddy with joy. However, Iona tried to maintain her expression, thinking about what she should say later when facing Joe.  "Why? Were you expecting a five-star restaurant or other expensive food?" Joe asked flatly.  "No! I'm just happy, really." source: Gemini Joe rolled his eyes, took the keys, and opened the car door. Without waiting for Iona to get out, he had already stepped into the pecel lele tent and sat down on one of the wooden chairs there. With hurried steps, Iona managed to catch up with Joe, who still wore a cold expression. "You should be grateful I didn't lock you in there," Joe interrupted sharply just as Ion...

Back into Your Arms: Bagian Delapan [INA]

Back into Your Arms
BiYA Chapter VIII

Iona termenung memandang lukisan demi lukisan di hadapannya. Ia kini tengah berada di salah satu studio lukisan mewah milik maestro ternama. Lokasi di mana para kaum borjuis biasa melelang lukisan indah sehari kemudian setelah pameran. Iona dulu pernah punya mimpi untuk ke tempat ini bersama Joe, akan tetapi karena hubungan mereka yang backstreet, ia hampir tak bisa menghabiskan waktu berdua di tempat umum seperti ini.

Sejenak ia teringat percakapannya dengan Fiki yang mengarahkannya ke tempat ini.

"Aku tahu dia biasa menghabiskan waktu di mana. Laki-laki membosankan yang tergila-gila dengan seni. Weekend-nya selalu dia habiskan di museum, hobi membosankan. Kukira selera kau yang sebelas-dua belas dengan John Cena.”

“Aku tak memintamu berpendapat soal Joe.”

“Ah, terserah kau… tapi saranku berlagaklah jadi perempuan yang gila seni juga, barangkali kau akan menarik di matanya. Entahlah. Hanya saran. Harusnya kau bisa memikat siapa pun dengan wajah secantik itu.”

Iona menggeleng-gelengkan kepalanya, membuyarkan ingatan itu lalu berjalan maju. Namun dengan cerobohnya, dia menabrak pundak laki-laki yang tengah memandangi suatu lukisan. Iona membuka mulut, hendak mengucapkan permintaan maaf dengan cepat. Akan tetapi, malah matanya yang terbuka lebar. Bahkan mulai menitikkan air mata dengan cepat. Ia tak pernah menyangka tanpa perlu dicari pun dia sudah berhadapan langsung dengan kekasih jiwanya—Joe, yang tampak begitu menawan dengan jas abu-abunya.

Back into Your Arms
source: Gemini


“Sesakit itukah hantaman kita? Padahal kau yang menabrakku duluan.”

Iona cepat-cepat menyadarkan diri. Merutuki diri yang membuat kesan pertama begitu aneh di depan Joe. Anehnya, jantung Stella berdegup begitu kencang, seolah-olah setiap sel di tubuh ini bereaksi mengenali kehadiran Joe. Mungkin jiwanya sudah sangat menyatu dengan hati Stella, atau entahlah apa itu. Mungkin dia memang sudah berkuasa sepenuhnya atas tubuh ini.

“Eh—tidak, aku—”

“Maaf, tapi aku tidak ada waktu untuk apa pun itu tujuanmu—”

Joe sudah ingin melangkah pergi, yang jelas membuat Iona refleks menahan lengan lelaki itu. Tangan Joe terasa begitu hangat. Sama persis seperti sebagaimana ingatan itu terpatri di benak Iona. Gadis itu makin menangis saat menyadari lukisan apa yang Joe pandang sebelumnya—sepasang kekasih yang tengah terduduk di taman apel hijau. Apapun itu, mungkin dengan kepercayaan dirinya yang tinggi pula, tapi Iona yakin Joe menyukai lukisan itu karena kenangan mereka.

“Aku juga merindukanmu, Joe.”

Iona makin mengeratkan genggamannya pada Joe, membuat perhatian beberapa orang di sana terarah ke mereka berdua. Bukannya tak lazim melihat lawan jenis berduaan, melainkan orang itu adalah Joe dan Stella—yang mana diketahui khalayak umum tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Direktur Rena Company dengan anak Tuan Tanah? Jelas hal yang cukup besar di kalangan borjuis, meski umumnya mereka tak peduli satu sama lain.

“Security? Tolong usir perempuan gila ini.”

Lagi-lagi Iona merutuki dirinya sendiri yang dengan lancang menyentuh dan berbicara ambigu di hadapan Joe. Aduh, dia harusnya sadar ia kembali ke dunia dengan fisik yang jauh berbeda, betul-betul asing di hadapan kekasihnya. Bahkan mungkin tak pantas untuk menyebut Joe kekasihnya lagi.

“Eh, Joe… dengar penjelasanku dulu, Joe—”

Sebelum dua satpam yang berjaga depan pintu menyeret Iona keluar, dua pengawal Stella sudah datang dan memasang benteng menghadang mereka. Joe menarik tangannya dari genggaman gadis itu dengan kasar, memandang tajam Iona di dalam tubuh Stella itu.

“Sudah kubilang kalian tunggu saja di parkiran! Kalian ini bikin heboh saja!” desis Iona cukup keras sampai terdengar di telinga Joe.

“Siapa sebenarnya kau ini?”

“Aku Io—Stella. Stella Viviana.” Iona tersenyum lebar dan menyodorkan tangannya, berharap Joe menjabatnya. Namun rupanya lelaki itu hanya memandangi tubuh barunya tajam-tajam. Mungkin berusaha mengingat siapa gerangan perempuan ini. Dari caranya berkenalan seolah-olah memang orang asing, akan tetapi kenapa tadi dia bicara soal merindukannya?

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Uhm… mungkin?”

Joe berdecak sebal. Jawaban dari gadis ini makin membuatnya jengkel. Maka Joe benar-benar melangkah meninggalkannya. Langkah yang begitu cepat dan tegas, baru sekejap pria itu sudah menghilang. Percuma saja untuk mengejarnya, karena dua satpam itu menghalangi langkahnya.

“Lupakan saja!” perintah Iona begitu melihat dua pengawalnya hendak menyingkirkan satpam tadi. “Aku akan menemuinya lain kali.”

“Apa-apaan kau ini?! Kamu sungguh mengenalinya tidak, sih? Di mana kau menemukan makhluk itu? Kau memang memilih pria secara acak, ya?”

Iona begitu terkejut mendapati Fiki, dengan setelan serba hitamnya, muncul di hadapannya.

“Kakak menguntitku, ya?!”

“Apa salahnya hanya memastikan adikku aman? Hei, kau jangan mengalihkan pertanyaan-pertanyaanku ya!” Iona membuang mukanya. “Lalu apa-apaan maksudnya akan menemuinya lain kali? Tidak, aku tidak akan mengizinkan!” Fiki menggeleng-geleng tegas, seolah ucapannya adalah mutlak.

“Siapa memangnya kakak bisa memutuskan seperti itu?”

“Hei, dia sudah membuatmu tampak konyol! Laki-laki arogan! Bisa-bisanya dia memanggil satpam untuk mengusirmu! Lagipula perkenalan konyol macam apa itu tadi? Kau memang payah ya soal percintaan? Pantas kau jomblo seumur hidup!”

Iona menolak untuk menjawab satu pun ucapan Fiki dan melangkah pergi. Namun sebelum melaluinya, Fiki langsung menahan adiknya itu. “Kau ini memang tidak peka, ya? Kau sungguh menyerah begitu saja? Aku ini sedang membakar semangatmu supaya kau menemuinya lagi. Ayolah, sebelum kau menjadi perawan tua kau harus mencoba lagi!”

Gadis itu merenungkan ucapan Fiki selama beberapa detik. Memandang kakaknya lalu mengangguk beberapa kali. “Ke mana biasanya ia pergi setelah mengunjungi pameran?”

*✿❀ ❀✿*

Joe menyesap segelas champagne di hadapannya. Memandang kosong ke depan. Membuang jauh-jauh bayangan Iona yang terus mampir ke ingatannya. Mungkin jika Iona masih ada di sini, ingatan itu tak akan menjadi hal ‘menyebalkan’ di matanya. Namun nyatanya gadis itu sudah lama meninggal, tak lagi bisa ia melihat paras mungil manisnya itu. Maka itu semua hanya semakin menyiksa benaknya.

Ia harus membasuh wajahnya. Mungkin dengan ini, pikirannya bisa jauh lebih segar.

Bulir-bulir air masih tampak di wajah, juga di kelopak matanya yang menghitam karena enggan tertidur pulas. Joe memandangi refleksi dirinya di cermin luxury lounge yang ratusan kali dikunjunginya. Menatap betapa menyedihkannya sorot mata cokelat itu membuatnya ingin tertawa. Ia menyayangkan masa depannya karena ia tahu betul ia tak akan bisa melupakan Iona secepat itu. Memang ada perempuan semenakjubkan Iona yang akan dikirim Tuhan kepadanya lagi?

“Hi! Boleh aku mengulang perkenalanku?”

Back into Your Arms
source: Gemini


Joe rasa jantungnya sempat melompat begitu mendengar sapaan mendadak itu. Entah ia yang terlalu fokus melamun atau langkah perempuan itu yang terlalu ringan, akan tetapi ia sungguh terkejut dibuatnya. Masih dengan tangan memegang dadanya yang terbalut kemeja putih dan jas kelabu, Joe melangkah mundur. Ia mendelik menatap Iona, dalam tubuh Stella, yang kini tersenyum begitu lebar.

Lelaki itu membuang napas kuat-kuat. Berdecak, tapi kali ini tidak langsung beranjak. Cara gadis itu tersenyum terasa familiar entah kenapa, meski nyatanya ini baru kali kedua ia memandangnya setelah kejadian konyol di pameran lukisan tadi.

“Jangan-jangan… kau orang yang ingin menemuiku dua hari lalu di kantor?”

Iona mengedipkan kedua matanya berkali-kali. Mengingat kejadian di mana ia menunggu berjam-jam di lobi dan memaksa seorang satpam untuk menahan laju mobil Joe kala itu. Jika dia mengaku, bisa-bisa Joe makin ilfeel dengannya. Maka lebih baik ia berdusta saja.

“Hah? Me-memang kau bekerja di mana?”

Joe menghela napas, sangat enggan menghadapi gadis itu. Kali ini ia yakin betul memang Stella ini yang memaksa untuk menemuinya dua hari lalu. Sebenarnya mau apa perempuan ini?

“Apa maumu?”

“Aku… hanya ingin berkenalan pantas denganmu.” Iona memandang cermin di hadapannya. Secara ajaib, refleksi jiwanya sendiri—wajah asli Iona—tampak di cermin itu. Gadis itu begitu senang dan menunjuk-nunjuk ke arah cermin di hadapan mereka dengan antusias, berharap Joe menyadari hal yang sama. Joe yang merasa tidak nyaman hanya menoleh enggan ke arah cermin. “Iya, bukan, Joe?”

“Iya, aku tahu kau cukup cantik. Lalu kenapa? Apa aku harus memujimu sekarang?”

Iona melongo. Ia memandang cermin lagi, lalu ke arah Joe yang memberi tatapan tak ramah. Jiwanya masih tampak jelas di sana bagi matanya, akan tetapi jelas Joe tak menangkap itu. Mengapa reaksi pria itu begitu datar seolah tak tertarik?

“Kau bisa lihat rambutku di cermin itu? Sepanjang apa?” tanya Iona, sembari jemarinya tanpa sadar meraba bahunya seolah sedang menyisir rambut panjangnya yang dulu.

“Sebahu—pertanyaan macam apa itu? Memang kau tak bisa melihat sendiri rambutmu?”

Ya, jelas sudah. Joe tak sanggup melihat wujud aslinya di cermin itu. Iona jadi bingung sendiri: ia harus apa supaya cermin itu menampakkan sosok Iona bukannya Stella? Lalu kenapa saat itu Vina bisa langsung mengenalinya?

“Lupakan, lupakan. Aku hanya ingin meminta maaf dengan pantas karena sudah menabrakmu tadi. Tolong izinkan aku untuk menggantinya dengan… makan malam mungkin?”

Joe memandang Iona dari atas sampai bawah, terdiam beberapa detik untuk menimbang-nimbang, lalu akhirnya mengangguk kecil. “Boleh. Jika itu bisa membuatmu berhenti menemuiku lagi. Aku bebas memilih tempat, bukan?”


Back into Your Arms
BiYA Chapter VIII



Karya ini adalah hak milik intelektual Alinea Aneyla. Mohon untuk tidak menyalin, mendistribusikan, atau mempublikasikan ulang tanpa izin tertulis dari penulis.

Komentar

Postingan Populer

About Us   |   Contact   |   Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 ALINEA ANEYLA. Tiap kata miliki jiwa.