Langsung ke konten utama

Unggulan

Back into Your Arms: Chapter Nine [ENG]

BiYA Chapter IX Joe stopped his car in front of a pecel lele tent. He fell silent for a moment, looking at Iona who was still smiling widely beside him. Iona had very rarely eaten pecel lele during her life because her Mother was quite strict about her eating rules. Thus, imagining eating it with her loved one made Iona feel giddy with joy. However, Iona tried to maintain her expression, thinking about what she should say later when facing Joe.  "Why? Were you expecting a five-star restaurant or other expensive food?" Joe asked flatly.  "No! I'm just happy, really." source: Gemini Joe rolled his eyes, took the keys, and opened the car door. Without waiting for Iona to get out, he had already stepped into the pecel lele tent and sat down on one of the wooden chairs there. With hurried steps, Iona managed to catch up with Joe, who still wore a cold expression. "You should be grateful I didn't lock you in there," Joe interrupted sharply just as Ion...

Back into Your Arms: Bagian Empat [INA]

Di lain tempat dalam rentang waktu yang sama, terdapat seorang laki-laki tampan yang tengah terduduk di meja makan besar. Tangannya tergerak untuk mengambil apel dari tumpukan buah dalam keranjang. Mencuci lalu menggigitnya perlahan. Matanya kosong, menatap ke asal arah. Menyecap betapa manisnya apel itu mengingatkannya pada senyuman indah perempuan yang masih sangat dirindukannya. Perempuan yang tak lagi dilihatnya selama lima tahun berselang. 
Kembali terduduk, Joe meraup wajahnya kasar. Lagi-lagi otaknya memutar rentetan kalimat penyesalan akan apa yang ia lakukan. Mungkin semua takkan terjadi jika dia tak merestui perjodohan itu. Meski muak karena hampir semua benda di sekitar selalu mengingatkannya pada Iona, Joe mulai terbiasa. Sejauh ini, tak bisa dipungkiri, ia belum mengikhlaskan kepergian cinta pertamanya itu. 
"Nih."
Iona mengulurkan sebuah apel hijau yang baru dipetiknya dari pohon kebun. Setelah Joe menerima, gadis itu segera terduduk di karpet kecil kotak-kota itu. Menjajari kekasihnya dan segera menyenderkan kepalanya di bahu lebar Joe. 
(Sumber: Gemini) 
"Makasih, manis banget! Enak," ucap Joe selepas menggigit apel itu. 
"Joe... kalau besok kita nikah, kita bikin taman kayak gini ya. Jadi kalau mau apel tinggal petik aja!" ucap Iona mulai berangan-angan soal masa depan. 
Karena merasa kekasihnya menggemaskan, Joe mencubit hidung Iona. "Udah mikir masa depan aja! Hadapin dulu yang sekarang!"
Iona tertawa lalu mencubit perut Joe. 
"Jangan cubit hidungku! Nanti tambah pesek!" jerit Iona karena Joe tak kunjung melepas cubitannya. 
Mereka tak peduli sekeras apa pun mereka berteriak karena faktanya mereka berada di kebun apel hijau milik keluarga Iona. Tanah seluas dua puluh hektar itu adalah salah satu tempat favorit untuk mereka menghabiskan waktu bersama. Selain karna udara yang sejuk, mereka juga bisa bersama tanpa diketahui kedua orangtua mereka. Berangan-angan ataupun membicarakan hal tak penting disana. 
"Biar aja! Biar nanti kamu yang paling pesek di keluarga kita!"
Iona menatap sebal ke arah Joe dan memukul pundaknya keras. 
"Gak apa-apa dong! Pesek-pesek gini calon istri kamu!"
Tersenyumlah laki-laki itu dibuatnya, "Dih, pede juga ya perempuan ini!" ujarnya sembari menyembunyikan semburat kemerahan di pipinya. 
"Ih, sialan! Gitu kamu sekarang?"
"Ampun Kanjeng Ratu!"
Mengingat renyahnya tawa Iona hanya membuat dada Joe sesak. Segera ia menengak segelas air putih dengan harapan pikirannya jernih kembali. Berharap bayang-bayang soal Iona menghilang sejenak, supaya ia bisa sedikit tenang. 
"Sayaaang!" seru seseorang dari atas tangga. Kini langkah kaki hak tinggi yang terdengar menuruni tangga. Makin besarlah suaranya, pertanda perempuan itu sudah melangkah mendekatinya. "Aduh, kamu ini... masih melamunkan Iona? Iona sudah tidak ada, Joseph."
Joe menoleh malas, "Mama ada perlu apa?"
Jena menghela napas. Menatap prihatin anak bungsunya yang tampak begitu menyedihkan. 
"Ya ampun, Mama cuma mau lihat keadaan kamu. Ternyata kamu sadar, toh, Mama sudah di sini?"
"Jelas saja. Siapa lagi yang memakai hak tinggi di sini?" desis Joe masih dengan raut masamnya. 

(Sumber: Gemini) 
"Mama cuma khawatir kamu melukai dirimu lagi atau mencoba bunuh diri. Mama juga memastikan anak bungsu Mama ini hidup dengan baik. Tidak cuma gila kerja dan menghabiskan hari dengan segala pekerjaannya."
"Tak perlu khawatir, Ma. Joe akan hidup demi Iona. Pasti itu yang Iona mau dari atas sana."
Jena begitu sedih mendengarnya. Dipeluknya anak bungsunya itu sembari membelai lembut pundaknya. Joe menerima sentuhan dari Ibunya yang begitu hangat itu. Setidaknya dengan kematian Iona, dinamika keluarganya menjadi jauh berbeda. Hangat dan penuh cinta, bukan sebaliknya. 
"Sekali lagi Mama minta maaf atas semua yang terjadi, ya. Perlu kamu ketahui Mama tidak akan mendesakmu untuk segera menikah atau mencari kekasih. Mama menghargai pilihanmu, seburuk apa pun itu."
Joe tak mengucapkan apa-apa. Hanya mengangguk dan merenungkan kembali kehidupannya. Sejauh apa pun dia pergi—memutuskan pindah rumah, pindah kota—kenangan tentang Iona masih terus mengejarnya. Padahal di kota ini semua terasa baru dan setiap sudut terasa asing. Namun benaknya terus membawa Iona ke mana-mana. Joe sendiri pun bingung ia harus bagaimana ke depannya. 
Mungkin ia akan mencoba untuk melupakan Iona. Pelan-pelan membuka hati untuk orang baru, lalu melanjutkan hidup sebagaimana mestinya. Mungkin. Joe tidak pernah tahu. Dalam lubuk hatinya, meski konyol, ia hanya ingin Iona kembali. 
**✿❀ ❀✿**
Iona membuka perlahan pintu kamarnya. Mengintip ke kanan lalu ke kiri. Mulutnya tak bisa bohong jika ia takjub dengan apa yang ada di hadapannya. Rumah bergaya classic luxury dengan banyak furnitur dan desain keren, jauh lebih enak dipandang daripada kamar yang harus dia tempati entah sampai kapan. 
Tak melihat satu orang pun, Iona dengan hati-hati membuka pintu kamar lebih lebar. Kali ini bukan hanya kepala yang celinguk keluar, melainkan seluruh tubuhnya. Langkahnya sedikit tertatih-tatih tapi pasti. Menjelajah ruang demi ruang yang ada. Iona jadi heran sendiri. Rumah sebesar itu tak ada orang sedikitpun? 
"Tuan Putri Nona Stella!"
Iona terkejut bukan main saat beberapa orang menjerit begitu keras di belakang tubuhnya. Makin terkejutlah ia kala mendapati delapan, ah tidak, sepuluh laki-laki gagah perkasa berlari ke arahnya. Namun raut mereka begitu gembira dan terharu. Iona bingung sendiri mendeskripsikan situasi ini bagaimana. Maka Iona memeluk tubuhnya sendiri, takut kalau-kalau mereka ingin menghabisinya atau bagaimana. 
Namun ia hanya bisa melongo saat rombongan lelaki bertubuh kekar itu sujud di hadapannya. Mereka semua menunduk hormat dengan isakan terharu. Beberapa dari mereka saling rangkul, menguatkan. 
(Sumber: Gemini) 
"Tuan Putri Nona Stella sudah kembali! Tuan Putri Nona Stella masih hidup!"
Iona menatap datar orang-orang yang masih memandanginya tanpa berkedip. Ia bingung kenapa ia didudukkan di kursi merah yang tampak seperti singgasana itu—salah satu orang dengan badan paling kekar yang membuatnya terduduk di sana. 
"Tuan Putri Nona Stella, bolehkah kami bertanya-tanya?"
Kini Iona tahu, mereka pasti anak buah Ayah Stella—yang kini juga ayahnya, Tuan Buana. Iona hanya merasa takjub akan fakta laki-laki itu berbadan besar dan berpenampilan sangar, akan tetapi nada bicaranya dengan Stella, alias kepadanya begitu lemah lembut.
"B-boleh...."
"Tuan Putri Nona Stella yang Menawan bener-bener tidak mengenali saya?" tanya seorang yang paling nyentrik dengan banyak jenggot di wajah lebarnya "Kami anak buah sekaligus penjaga Tuan Putri Nona Stella yang Menawan! Tolong katakan kalau Tuan Putri Nona Stella yang Menawan masih mengingatnya!"
Alih-alih menjawab, Iona hanya tertawa. Membuat semua orang di sana bingung seketika. 
"Siapa, sih, yang perintahkan kalian memanggilku sepanjang itu?" tanya Iona setelah sekuat tenaga menahan tawa. 
"Nona sendiri, 'kan, waktu itu? Atau Nona sudah tidak suka dengan panggilan itu?"
Iona menggeleng geli, masih menahan tawa. 
"Berarti Nona Stella ini benar-benar amnesia, ya?"
Iona mengangguk meski sedikit ragu. 
"Sudah, Stella jangan dibombardir pertanyaan terus!" Fiki mendadak ada di tengah-tengah mereka. "Stella butuh istirahat Mas-Mas Bro sekalian... sabar, ya!" ujar Fiki selagi berjalan mendatangi tubuh adiknya yang berisi jiwa Iona. 
Secara tiba-tiba, mereka semua menunduk lagi dari berseru, "Tuan Putri Nona Stella yang Menawan, maafkan kami Tuan Putri Nona Stella yang Menawan!" 
"Iya, terutama kebodohan kami untuk mengizinkan Tuan Putri Nona Stella yang Menawan pergi seorang diri malam itu!" ujar pria dengan jenggot yang mencolok tadi. 
Iona memandang pria yang terus mencuri perhatiannya. Karena tubuh Stella ini seperti memberi refleks nyaman sehingga Iona berspekulasi pria berjenggot ini adalah anak buah yang paling dekat dengan Stella dibanding yang lainnya. 
"Tidak apa, itu semua murni kecelakaan. Tidak ada yang mau Stella celaka. Sekarang kita berdoa saja untuk kesembuhan Stella agar cepat pulih," ujar Fiki lembut. Semua pria di sana mengangguk semangat. Menyetujui ucapan Fiki, tuan mereka juga. 
"Apa ada yang bisa kami lakukan untuk Tuan Putri Nona Stella yang Menawan?" tanya pria berjenggot sembari menunjuk orang lain yang berdiri di belakangnya. 
"Aku ada permintaan.... "
Semua orang memandang Iona dengan seksama, menunggu apa pun yang gadis itu katakan berikutnya. Tak terkecuali Fiki yang penasaran. Permintaan apa yang gadis itu pinta pertama kali setelah sadar dan masih dalam keadaan amnesia. 
"Uhm... boleh panggil aku Iona saja? Nona Iona?" ujar Iona ragu-ragu. 
"Siapa Iona?" tanya Fiki spontan. 
"Itu—
"Siap, Nona Iona!" seru mereka penuh semangat, tanpa pikir panjang atau memikirkan siapa itu Iona. Atau apa itu arti Iona. Karena mereka anak buah yang taat, mereka menyetujui dan mengabulkan semua permintaan tuannya. 
Fiki dan Iona sama-sama menggeleng heran, lalu tertawa bersamaan. Terima kasih kepada Mas Bro sekalian yang membuatnya tak perlu menjelaskan siapa atau apa itu Iona kepada Fiki. Setidaknya sementara ini. 
Sepertinya Iona akan suka tempat ini. Sepertinya pula dia bisa dengan mudah mendapatkan hati Joe kembali. Setidaknya, itu yang dia harapkan. 
**✿❀ ❀✿**
"Stella? Kamu ngapain?"
Fiki mendapati niatnya tengah membuka-buka file keluarga mereka. Terutama data kartu keluarga, ataupun surat-surat berharga. Iona ingin tahu dari mana ia berasal. Barangkali dengan pengetahuannya, meski terakhir update lima tahun lalu, ia bisa tahu siapa keluarga Buana ini. Dari kegiatan mencarinya tadi, ia dapat tahu jika Keluarga Buana memiliki banyak restoran, penginapan, bahkan toserba di penjuru kota. 
"A-aku... "
"Astagaa, Laa... kamu kalau ada pertanyaan atau butuh sesuatu kan bisa tanya aku. Aku udah bilang juga, 'kan, ke kamu? Ini udah kewajibanku juga untuk jaga kamu."
Iona tak mengatakan apa-apa, hanya menggaruk tengkuknya. 
"Gimana? Apa yang kamu bingung? Ada yang belum aku jelasin, ya?"
"Ayah itu... mafia?"
Fiki terdiam sejenak, agak mendelik. Akan tetapi tiba-tiba kakaknya itu tertawa sangat renyah. Bahkan dua menit ia masih sibuk tertawa. 
"Siapa yang buat pernyataan konyol seperti itu?"
"Aku kan bertanya, memang lucu, ya?"
"Stella... Ayah itu tuan tanah di mana-mana, dia punya banyak usaha dan perusahaan tambang. Namun mungkin karena kesuksesannya, dia jadi punya banyak saingan bahkan ada yang menganggap Ayah musuh bebuyutannya karena mematikan usaha mereka. Jadi bukan berarti dia adalah mafia." 
Iona menyimak. Pikirannya ke mana-mana. 
"Gimana? Sudah cukup menjelaskan? Atau ada pertanyaan lain?"
Meski ragu, Iona sangat penasaran soal ini. Bibirnya terbuka, lalu melontarkan pertanyaan lain lagi, "Aku punya pacar gak?"
Kali ini pertanyaan Iona mampu membuat Fiki tertawa begitu kerasnya. Laki-laki itu sampai tidak sanggup berdiri. Ia tertawa sepuas-puasnya, mungkin kedua matanya sudah menitikkan air mata. 
"Laki-laki macam apa yang bisa bertahan menghadapi kamu, La?"
Iona menggaruk tengkuknya. Sebrutal itukah seorang Stella sampai tak ada lelaki tertarik padanya? Apa Stella semenakutkan itu? Atau bagaimana sebenarnya? 
"Sebenarnya sejauh apa kamu amnesia? Sepertinya aku harus menanyakan dokter soal ini." Bukannya menjelaskan lebih lanjut, Fiki berjalan pergi dan masih tertawa sepanjang langkahnya. "Oh ya, Ayah bentar lagi balik. Kamu tunggu sini ya, aku bikinin kopi kesukaanmu dulu."
Iona mendelik tajam. Ayah Stella akan balik?! Seperti apa wujud Pak Buana ini? Bagaimana ya interaksi Pak Buana dengan Stella ini? Entah kenapa mikirkan semua pertanyaan itu mwmbuat Iona panik sendiri. Ia tidak bisa tenang, tapi bingung juga harus melangkah ke mana.
"T-tunggu, kak!"
Iona berlari mengikuti langkah Fiki ke dapur utama mereka. Dibuatlah dia terpana oleh indahnya dapur keluarga Buana itu. Semua furniturnya dilapisi marmer Calacatta Gold dengan desain yang begitu cantik dan elegan. Perpaduan warna putih bersih dan urat emas dari marmer itu menyatu sempurna dengan aksen hitam, menambah kesan mewah yang tak terbantahkan. Sudah dapat dipastikan kekayaan keluarga Iona tak sebanding dengan keluarga Buana ini. Pasti miliarder.
(Sumber:Gemini) 
"Haha, gak terbiasa aku, dengan Stella yang seperti ini."
"Memang Stella—ehm, maksudku, tadinya aku bagaimana?"
"Galak, bossy, suka sendiri, kritikus, bawel... mungkin semua sifat negatif dari manusia." Iona mendelik, sungguh berbeda 180° dengannya. "Enggak, enggak... enggak seburuk itu, kok. Lagipula mau bagaimanapun kamu, kamu tetaplah adikku." Fiki tersenyum begitu manis kemudian kembali fokus untuk menuang krimer ke dua cangkir gelas. 
Iona termenung sesaat, sampai akhirnya dia baru sadar akan sesuatu. Dia anti kopi! 
"Eh, kak... tapi aku—"
Fiki berjalan mendekat dengan dua cangkir di tangannya. Bahkan salah satu cangkir tidak bisa lagi disebutnya cangkir, melainkan mug besar! 
'Buset dah, ini mau buatin minum buat satu orang atau satu kampung?! Besar banget gelasnya!' gumam Iona memandang mug itu ngeri. 
"Berhubung kamu udah gak perlu konsumsi obat pil lagii, nih, kakak buatin kopi kesukaanmu. Double creamer, loh! Minum sampai habis, ya!" Iona menelan salivanya sendiri. Membayangkan satu teguk saja tidak sanggup, apalagi harus menghabiskan gelas sebesar itu. "Hei? Kok diem?"
"Eh, iya, Kak. Makasih." Anehnya saat ia mengulurkan tangan, begitu mantap jari itu mencengkeram mugnya. Sepertinya muscle memory tubuh Stella jauh lebih kuat dari kesadaran Iona. Terbukti dari bagaimana responsnya dengan segelas kopi. Iona bisa merasakan tubuhnya tergiur dengan aroma kopi yang begitu kuat itu. 
Pelan-pelan Iona mencoba menyeruputnya. Namun tak disangka, tangannya mengangkat mug itu tinggi-tinggi sehingga mulutnya mau tak mau menengak kopi itu cepat-cepat sampai habis. Iona begitu terkejut dengan respons tubuhnya. Dapat dibuktikan bila Stella memanglah maniak kopi. 
(Sumber: Gemini) 
"Seneng banget lihat kamu minum senapsu itu. Ya sudah kakak ke kantor dulu, ya. Ada urusan. Ayah juga udah di depan rumah." Fiki menaruh cangkirnya kemudian mengacak lembut pucuk kepala Stella alias Iona. "Kakak pergii! Hei, jangan bentak Ayah, ya!"
Iona masih tidak terbiasa mendapat perlakuan itu. Meskipun kenyataannya Fiki adalah kakak dari Stella, yang secara tidak langsung juga menjadi kakaknya, Iona tidak suka mendapat sentuhan seperti itu. Dia jadi makin merindukan sosok Joe, karena gerakan-gerakan kecil seperti itu membuat ingatan soal Joe terputar lagi di otaknya. 
"Nona Stella!" Iona menoleh, memandang salah satu pegawai perempuannya yang menunduk hormat saat menghadapnya. "Kamar Nona Stella sudah saya bersihkan, jadi Nona bisa beristirahat jika Nona mau. Saya juga sudah mengganti warna sprei seperti yang Nona mau."
"Ah... iya. Terima kasih banyak, Bi."
"Sama-sama, Non! Ah ini, gelas sama cangkirnya biar saya yang cuci." 
Iona membiarkan pegawai perempuannya mengambil mug dari tangannya. Kemudian pegawainya itu sudah sibuk untuk mencuci piring. Sedang ia beranjak dari sana. Sebelum benar-benar sampai ke kamarnya, ia melihat pria berjenggot—salah satu dari Mas Bro berjalan hampir melaluinya. Iona begitu excited bahkan melambaikan tangan ke pria itu. 
"Mas! Mas Bro!"
Pria itu dengan cekatan menoleh dan berlari menghadap Iona. "Bagaimana Nona Iona? Ada yang perlu saya bantu?"
(Sumber: Gemini) 
Iona tersenyum. Menoleh ke kanan-kiri lalu tiba-tiba mendekatkan kepalanya ke Mas Bro itu. 
"Bisa... selidiki semua informasi terbaru tentang Joseph Banara?"

Komentar

Postingan Populer

About Us   |   Contact   |   Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 ALINEA ANEYLA. Tiap kata miliki jiwa.