"Lima hari lagi kamu ulang tahun, Joe. Sebagaimana tradisi sudah digariskan, kamu harus segera menikah. Bagaimana kesepakatanmu soal penjodohan dengan Manda? Atau kamu akan—"
"Oke, Ma. Aku setuju sama perjodohan ini," desis Joe tanpa pikir panjang.
Jena mendelik kegirangan. Tak menyangka jawaban itu akhirnya keluar dari bibir anak bungsunya. Padahal wajahnya begitu murung dan penuh amarah, bahkan Jena sudah mempersiapkan diri jika Joe akan menyentaknya lagi.
"Kamu serius setuju?" tanya Jena meyakinkan, bibirnya tersenyum lebar. Baru kali ini Jena akhirnya tersenyum kepada Joe setelah perdebatan yang selalu jadi sarapan mereka tiap paginya. "Kalau begitu akan Mama atur sesegera mungkin."
Jena berlari kecil ke arah telepon rumah. Mengetik nomor yang dikenalnya pasti kemudian mulai menjelaskan semua dengan ceria. Tak tanggung-tanggung, ia pun menelepon pihak wedding planner untuk membuat janji temu. Membuat Joe yang masih terduduk di sofa mengepalkan lengannya kuat-kuat. Ia menegaskan ke diri sendiri bila tak ada jalan untuk kembali dan dia harus memantapkan pilihan gegabahnya itu. Meski faktanya Joe sudah bersumpah sampai kapanpun tidak akan menerima perjodohan itu.
Alasannya menolak? Tentu saja karena Iona. Lantas alasannya menerima tiba-tiba? Juga karena Iona. Lebih tepatnya karna kesalahpahaman malam itu. Sejak saat itu keduanya tidak pernah bertemu lagi. Joe memilih untuk tidak menanggapi panggilan dari Iona, entah sudah yang berapa ratus kali. Mahasiswa semester tiga itu pun tak lagi mengunjungi kelas Iona seperti biasa. Wajar bila ia merasa dikhianati oleh Iona, satu-satunya orang yang Joe percaya.
Jena termasuk sosok Ibu yang sangat keras dan pemaksa. Meski faktanya Joe adalah anak bungsu dari dua bersaudara, tapi Joe bukanlah anak kesayangan. Laki-laki itu sering diperlakukan tidak adil atau berbeda dengan kakaknya, Sammuel. Seakan semua yang terbaik untuk Sammuel dan sisanya untuk Joe. Seperti yang dikisahkan pula sebelumnya, Papa Joe sudah meninggal lama karena kecelakaan saat liburan bersama keluarga Iona.
Dulu keluarga Joe dan Iona sangatlah dekat dan akrab. Namun karena kelalaian Papa Iona, Nando, mobil besar yang dia kemudikan oleng dan tertabrak truk. Semua anggota keluarga Iona maupun Joe di mobil itu luka-luka dan tak sadarkan diri. Namun sayangnya, hanya Ayah Joe yang tidak selamat karena duduk di kiri depan, di mana titik truk menghantam dengan kecepatan tinggi. Sejak itulah keluarga Joe sangat membenci keluarga Iona dan tak pernah sudi bertemu.
"Mengingat ulang tahunmu akan datang lima hari lagi, maka Mama memutuskan untuk kamu dan Manda bertunangan besok. Kamu setuju?"
Joe memandang kosong ke arah depan. Namun seolah kontras dengan hatinya, bibirnya bersuara, "Kalau perlu adakan pernikahannya seminggu dari sekarang, Ma. Biar semua selesai dan aku bisa fokus dengan masa depanku."
"Serius kamu?" Jena melonjak kegirangan. Segera menyambungkan telepon dengan keluarga Manda. "Halo, Jeng! Iya, Joe bahkan tidak masalah jika pernikahannya di selenggarakan minggu depan. Bagaimana menurutmu? Oh, ya? Baik... baik, baik."
Joe menghela napas dan hendak beranjak dari situ, bersamaan dengan Jena yang menaruh telepon rumah dengan penuh semangat.
"Keluarga Manda senang sekali mendengarnya. Terima kasih, ya, Joe! Ini kali pertama kamu benar-benar mengikuti apa kata Mama."
Joe hanya menoleh tidak suka dan beranjak dari sana. Merasa miris karena sikap mamanya mendadak berubah setelah ia menerima penjodohan itu. Tentu saja hal ini lantaran Manda adalah semata wayang keluarga terkaya di Jodhokerto. Hampir semua butik dan perusahaan tekstil dimikiki oleh keluarga Manda. Maka dari itu Jena begitu bahagia.
Berpikir dalam-dalam membuat Joe mengepalkan tangannya kuat-kuat. Baru beberapa menit dia menerima perjodohan itu. Namun entah kenapa dia rasanya sangat menyesal.
"Harusnya aku gak segila ini...." gumam Joe menahan tangisan.
**✿❀ ❀✿**
Setelah malam kacau itu, Iona kembali dengan keadaan sangat buruk. Tubuhnya mendadak demam dengan kedua kaki yang bengkak parah. Ia tak berhasil menghubungi kekasih hati berkali-kali. Ratusan teleponnya tak pernah diangkat, puluhan pesan yang dikirimnya tak kunjung dibaca. Beberapa kali pula ia coba menemui Joe di area kampus, akan tetapi selalu nihil. Iona pun tidak bisa nekat untuk mendatangi kediaman Joe, karena bisa-bisa dia langsung diusir karena keluarga mereka tahu ia anak sulung Nando.
Semua kenyataan itu membuatnya menghabiskan waktu untuk terdiam dan merenung. Enggan makan dan mengurung diri dalam kamar. Jadilah ia sakit parah saat ia sudah membulatkan tekad ingin menemui Joe apapun yang terjadi. Maka dengan kondisi ia saat ini, Iona hanya bisa berbaring di kamar dan menyesali semuanya. Harusnya Iona bilang sedari dulu bahwa dia dijodohkan dengan Vigeno. Apapun itu hasilnya, pasti tidak akan seburuk saat ini.
Setelah berhasil membuka pintu kamar dengan bantuan tukang, Ira masuk. Eskpresi wajah Ira tak dapat dideskripsikan, tapi yang pasti semurung dan semenyedihkan anak sulungnya itu. Matanya menyorotkan rasa iba dan bersalah. Ira sudah mendengar semuanya dari Vigeno, bahkan tahu soal pernikahan Joe yang akan terlaksana hari ini juga. Maka dari itu, Ira memutuskan untuk membiarkan Iona tahu daripada membiarkan anaknya hidup dalam penyesalan.
"Iona...."
Iona menoleh lemas, "Aku lagi mau sendiri, Ma."
Ira menggelengkan kepala sedih.
"Ini tentang Joe, Sayang...."
Seolah mendapat semangat hidup, Iona terduduk dalam satu entakan. Matanya berbinar seolah ada harapan lagi. Benaknya sudah terbang ke mana-mana membayangkan kabar baik apa yang mendatanginya pagi ini.
"Joe di mana? Atau dia titip pesan apa?" tanyanya antusias.
Ira terdiam, tangannya hanya menyodorkan kertas fedrigoni berwarna beige itu. Di mana terdapat susunan kata demi kata yang mampu merenggut semua harapan yang tersisa dari mata Iona begitu ia membaca semuanya. Bibir Iona bergetar kecewa, tangan dingin itu terus membolak-balikan undangan pernikahan untuk memastikan kenyataan.
"Candaan macam apa ini, Ma?" Air mata sudah menghujani pipi mungil itu. Tubuhnya bergetar tidak tenang, hatinya terasa begitu sesak dan perih. "Tolong bilang ini cuma siasat Mama, 'kan? Iya, 'kan, Ma?"
"Kemarin Joe sendiri yang datang menghantar undangan itu. Tapi Mama gak sanggup membiarkan kamu menemuinya yang menghantar undangan itu. Jadi—"
"Kenapa, sih, Mama gak segera bilang ke aku? Mama sengaja, 'kan, buat aku menderita? Mama mau aku hidup menyedihkan, ya?" jerit Iona frustasi. Gadis itu membaca lagi undangan di hadapannya. "Pernikahan dilangsungkan... setengah jam lagi?!"
Merasa tak banyak waktu lagi, Iona segera berdiri dan menyambar outer cokelatnya. Sama sekali tak mengindahkan penampilannya yang tampak begitu berantakan juga menyedihkan. Ditambah dengan fakta berat badannya yang turun drastis karena sakit berhari-hari. Seolah mendapat kekuatan pula, ia bisa berlari sampai keluar dari gerbang rumahnya.
"Iona! Kamu belum pulih!"
Ira berhenti berlari mengikuti langkah Iona. Ia memutuskan membiarkan anak sulungnya mengejar cinta sejatinya. Maka alih-alih menyeret Iona kembali ke kamarnya, Ira menelepon Vigeno untuk menyusul Iona di gedung tempat Joe akan menikahi tunangannya.
Namun, entah kenapa Ira punya firasat tidak baik seketika.
Iona terus berlari. Memaksa keadaan tubuhnya yang belum pulih itu. Dari kanan jalan, Iona bisa melihat mobil pernikahan mewah milik Joe melintas. Rolls-Royce Phantom berisi Joe, Manda, Mama dan Papa Tiri Joe. Manda tampak sangat cantik dengan gaun pernikahan berwarna putih itu. Rambut hitam legamnya dia gerai cantik, dihias dengan veil atau tudung rambut putih yang memperindah penampilannya. Joe juga sudah mengenakan jas mewah berwarna putih, bahkan ia membenahkan rambutnya menjadi tampak lebih rapi.
Iona fokus mengejar mobil itu yang melaju begitu pelan. Namun meski kenyataannya begitu, sekuat apa pun Iona berlari tetap saja mobil mewah itu tak berhenti dan masih melaju. Jelas fisik lemah itu tidak bisa mengimbangi, malah makin terseok-seok langkahnya.
"Joe! Tolong dengar penjelasan aku dulu! Dia bukan pacar atau selingkuhan aku, Joe!" jerit Iona tak memperdulikan orang-orang yang keheranan menatapnya. Dia masih menggunakan setelan tidur ditambah outer cokelat dengan rambutnya masih acak acakan. Dia sama sekali tidak membenahi pakaiannya. Hanya outer cokelat itu yang membuat penampilannya sedikit pantas.
Joe yang mendengar seruan tidak asing itu segera menoleh ke belakang. Dia berhasil menemukan Iona yang masih terus mengejarnya. Jelas lelaki itu terkejut dan merasa bersalah seketika, apalagi melihat begitu pucatnya wajah gadis yang masih kekasihnya itu.
"Pak! Berhenti, Pak!" teriak Joe panik.
"Eh, jangan, Pak! Terus saja!" Jena mendelik ke anak bungsunya itu, "Apa maksudmu, Joe? Kita sudah semakin telat! Jangan bilang kamu goyah lagi dengan keputusanmu?" desis Jena tak suka.
Manda hanya menyimak, sesekali menoleh juga ke arah Iona yang masih kukuh mengejar laju mobil. Manda melihat kekhawatiran yang murni dari mata Joe. Manik mata hitam itu sama sekali tak beralih untuk menatap Iona.
"Pak, berhenti di sini dulu, Pak!"
Jena terkejut bukan main mendengar perintah itu keluar dari mulut Manda. Bahkan nadanya mutlak dan tak terbantahkan. Jelas Manda bukanlah gadis egois yang memaksa keadaan, ia juga punya perasaan. Meski sesungguhnya dalam hati ia tak suka melihat kedatangan Iona. Gadis 18 tahun yang menjadi alasan Joe tak pernah melihat ke arahnya sedikit pun. Namun, tak semata-mata itu jadi alasannya untuk gelap mata dan membenci Iona. Membiarkan peristiwa menyedihkan itu terjadi begitu saja, di depan mata.
"Manda, Sayang... bukankah ada baiknya kita fokus dahulu? Toh, bentar lagi kita sudah sampai ke gedung di mana kalian akan menikah—"
"Tidak bisa, Ma. Saya juga tidak tenang melihatnya."
Tenaga Iona makin lemah. Napasnya makin tersengal-sengal. Dia tahu dia belum terlambat. Namun fokusnya pecah saat melihat gedung gereja yang terbentang di depan mata, tak jauh dari tempatnya berlari. Membayangkan Joe menikah dengan wanita lain.... Astaga. Iona bahkan tidak sanggup hanya untuk membayangkannya. Lebih baik ia mati daripada melihat itu semua terjadi.
"Joe!" tangis Iona dengan pipi basah akan air mata.
Matanya terus memandang indahnya bangunan gereja itu. Tempat di mana Iona sering bermimpi untuk menikahi kekasih hatinya di sana. Mengucapkan sumpah perkawinan sebelum akhirnya hidup bersama dengan orang yang dia cinta.
Terlalu lama memandangi gereja, Iona lupa bahwa ia berlari di tengah-tengah jalan besar. Tanpa melihat di kanan jalan ada truk barang yang melaju kencang mengejar lampu lalu lintas. Kehilangan kendali, supir truk itu tak bisa menginjak rem secepat kilat, bahkan terlambat hanya untuk sekedar membanting setir. Maka tak terelakkan tabrakan itu, di mana tubuh depan truk menghantam tubuh Iona jauh ke samping.
"Aaaakhhh!"
Tubuh mungil itu terpental sekitar dua meter jauhnya. Cairan kental merah langsung membasahi tiap bagian tubuhnya. Pandangannya kabur dan semakin kabur. Tanpa tenaga, gadis itu hanya memandang langit yang semakin menggelap. Menyerahkan semua kepada Tuhan dengan semua kesedihan dan kekecewaan.
"Joe.. ternyata ini bukan takdir kita," desis Iona sebelum memuntahkan darah. Gadis itu pun menghembuskan nafas terakhirnya.
**✿❀ ❀✿**
Seluruh padangannya kosong, hampa. Hanya hitam dan hitam di hadapannya. Bahkan gadis itu tak bisa mendengar embusan napas atau detak jantungnya. Iona tersenyum sedih, baru ingat akan kenyataan bahwasanya ia sudah mati. Padahal keinginan terakhirnya hanya untuk menemui Joe terakhir kali. Setidaknya berpisah dalam keadaan tak membenci satu sama lain.
Tuhan, apa sesulit itu untuk mengabulkan apa keinginan hamba-Mu?
Rasanya dia ingin menangis dan menjerit sekeras-kerasnya. Sayangnya, sekadar merasakan tubuhnya sendiri saja tidak bisa. Ia merasa tengah melayang, antara ada dan tiada.
Setelah beberapa saat terdiam, sebuah cahaya terang datang menyilaukan matanya. Iona membuka matanya yang sempat terpejam karena silau. Anehnya kini indra penciumannya berfungsi kembali. Ia mencium bau amis dan tanah. Setelah menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya, ia segera menengok keadaan sekitarnya.
"Loh? Kenapa aku di sini?! Bukannya aku udah mati?" gumam Iona dalam hati.
Dia heran lagi saat menemukan banyak kotak kardus yang menindihinya. Dengan sekuat tenaga dia mendorong jauh kardus-kardus itu lalu berusaha duduk bersandar di dinding batu belakang tubuhnya. Badannya lemah dan nafasnya tidak stabil. Dia menengok ke bawah dan terkejut bukan main mendapati tubuhnya terbalut pakaian berwarna merah marun. Lebih lagi banyak bagian sobek dan terkoyak.
"Apa-apaan?!" seru Iona terkejut. Ia makin terkejut lagi saat suara yang keluar dari mulut adalah suara serak-serak basah. Iona langsung membekap mulutnya sendiri.
"Iona Renata. Lahir tanggal 8 Juli 2003, meninggal tanggal 13 April 2021 pukul 08.56 pagi karena gagar otak dan kehabisan darah." Seorang laki-laki, ah bukan seorang. Sesosok laki-laki berperawakan tinggi, mengenakan setelan serba hitam berdiri di depannya. Mata dengan pupil sangat kecil itu tengah menatap matanya tajam-tajam.
"Jadi aku sungguh-sungguh 'meninggal'!" tanya Iona pasrah.
"... transmigrasi atau bereinkarnasi ke tubuh Stella Viviana pada tanggal 13 April 2026," tambah sosok itu lagi.
"Bereinkarnasi? 2026? Maksudnya?!" jerit Iona, masih tak nyaman dengan suaranya yang terdengar berbeda.
"Yaah, aku tahu pasti membingungkan, tapi bukannya ini yang kamu mau? Kembali ke kehidupan lagi? Perjuangkan takdirmu?"
"Ak—"
Sosok itu menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat untuk menginterupsi Iona.
"Tanpa perlu kau tanyakan, ya, aku malaikat penjaga-mu. Bahagialah karena kau diberi kesempatan untuk memperjuangkan takdirmu. Pesanku: hargai baik-baik kehidupanmu yang sekarang dan jangan berbuat bodoh seperti lima tahun yang lalu. Mengerti?" ucap makhluk itu dingin.
"Tapi bagaimana aku... uhm, kenapa—"
"Dapatkan apa yang ingin kamu dapatkan. Ingat, kesempatan ini tidak akan datang kedua kalinya. Lanjutkan hidupmu seutuhnya sebagai Stella Viviana."
"Eh, tapi aku—"
Makhluk itu sudah lebih dulu meninggalkannya. Iona yang hebdak berdiri itu menghentikan gerakannya. Secara tiba-tiba kepalanya menjadi sangat pusing dan berat. Semua luka sayatan, goresan, pukulan pun mulai terasa sakit dan perih baginya.
"T-tolong...." desis Iona sebelum seluruh kesadarannya hilang.
Komentar
Posting Komentar