"IONAA!" Joe menjerit begitu keras dari dalam mobil, tubuhnya mulai bergetar tidak tenang. "BERHENTI, PAK! BERHENTI!" perintah Joe, teriak di telinga supir itu.
Segera setelah mobil berhenti, Joe membuka pintu mobil dan berlari sekuat tenaga mendatangi kekasih hatinya yang terkulai tak berdaya. Hatinya begitu hancur melihat darah mengucur dari banyak titik di tubuh Iona. Tubuh mungil itu hancur, sebagaimana hancurnya perasaan Joe saat itu. Rasanya mimpi buruk itu mencabik-cabik hatinya dengan realita yang ada. Rasa bersalah memenuhi batinnya. Sekarang hanya rentetan kalimat 'harusnya' yang berputar di kepala Joe.
Harusnya aku mencoba untuk mendengarnya. Harusnya aku menjawab semua telepon dan pesannya. Harusnya aku tak gegabah menerima penjodohan ini. Harusnya aku segera berhenti dan memeluknya.
Joe menunduk, mendekati raga Iona yang tak bernyawa. Diangkat dan dipeluknya tubuh itu dengan penuh kasih, seerat-eratnya sampai perlahan tuxedo itu berubah menjadi warna merah. Beberapa orang yang penasaran datang untuk melihat asal suara benturan yang begitu keras itu. Termasuk Manda dengan gaun pernikahan indah dan berkilaunya. Pemandangan yang sangat menyedihkan. Sampai-sampai perempuan itu menangis terisak. Merasa sangat bersalah.
Mendadak laki-laki itu berhenti menangis dan menjerit, menyuruh orang-orang di gerombolan untuk menelepon ambulans. Laki-laki itu pun turut mengikuti kekasihnya ke rumah sakit. Tak mau peduli akan fakta tamu undangannya sudah menanti di gedung gereja. Meski sempat menolak kenyataan Iona sudah meninggal, akhirnya Joe mengerti dan meninggalkan jenazah kekasihnya. Membiarkan tubuh mungil itu menghilang di balik peti kayu yang kemudian ditimbun dengan tanah.
Di hari Iona dimakamkan, Jena tampak merasa sangat bersalah dan meminta maaf kepada Ira. Hubungan keluarga mereka yang tadinya penuh tensi dan dendam perlahan kembali normal, meski masih penuh penyesalan. Joe pastinya hanya menghabiskan waktu termenung dan menangis, tak jauh beda dengan Vigeno yang memang mencintai Iona sepenuh hati.Kejadian itu mengubah segalanya tentang Jodhokerto dan seisinya.
**✿❀ ❀✿**
Gadis itu terbangun dalam satu hentakan. Mengerjapkan mata berulang-ulang. Ternyata semua bukan mimpi. Terbukti dari bagaimana dia terbangun di ruangan asing, bahkan dengan badan yang bukan miliknya. Rasa sakit yang asing pun masih terasa di sekujur tubuhnya. Sekujur kaki dan tangannya terasa perih, sedang punggungnya sangat kaku. Mungkin telah berhari-hari ia terbaring di ranjang.
Kepala Iona berdenyut. Dia memejamkan mata ngeri mengingat bagaimana rasanya dihantam truk berkecepatan tinggi. Bayangan terakhir yang ia ingat adalah teriakan Joe dan rasa sakit yang menghunjam jantungnya. Joe... laki-laki itu pasti hancur sebagaimana dia saat ini. Iona ingin menangis, ingin mencari jalan pulang ke Jodhokerto. Ia ingin tahu ke mana Joe sekarang? Bagaimana kabarnya kini? Apakah dia melanjutkan pernikahannya dengan Manda?
Namun rasa perih di sekujur tubuh asing ini memaksanya sadar: dia bukan lagi Iona yang mungil. Dia harus tahu dia ada di mana sekarang sebelum bisa memikirkan jalan kembali pada Joe. Dia harus memperjuangkan semuanya, apa pun yang terjadi.
Cermin besar yang kebetulan berdiri tepat di depannya itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana tubuhnya atau sosok Stella ini. Ia meraba dengan pelan wajahnya, dari mata, hidung, sampai bibir. Stella begitu cantik dan mempunyai wajah tegas. Sangat berbeda dari irasnya dulu yang imut dan mungil. Tubuh Stella ini tampaknya lebih tinggi juga, kakinya bahkan terasa lebih besar.
Dia memandangi sekitar. Begitu terkejut karena ruangan itu dipenuhi dengan perabotan dan hiasan berwarna merah. Sepertinya Stella ini benar-benar maniak warna merah. Dari cat dinding, warna meja, kursi, sprei atau selimut yang menyelubunginya, hampir semuanya memiliki tone warna merah yang cukup gelap.
Sejenak Iona termenung, bingung harus merasa apa saat ini. Haruskah ia senang atau malah bersedih hati? Meski ia kembali hidup di dunia, tapi ia kini terjebak di tubuh baru, Stella, yang bahkan tidak ia kenal betul siapa dan bagaimana hidupnya. Mengingat sesuatu, ia segera terbangun dari ranjang besar itu. Dengan langkah tertatih ia mulai menjelajah, mencari di mana sekiranya ia bisa mendapatkan informasi tentang Stella.
Iona berjalan ke meja belajar berwarna merah tua di pojok kamar. Di buka dan dilihatnya satu-persatu buku yang ada, mencari journal atau surat pribadi, atau tanda identitas. Apa pun itu. Lalu dia beralih membuka setiap loker yang ada. Beruntungnya dia untuk menemukan dompet berwarna merah marun di salah satu loker. Ia membuka perlahan dompet itu untuk mengambil Kartu Tanda Penduduk-nya.
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Purnapura
Nama : Stella Viviana
Tempat/Tgl Lahir: Parirejo, 19 Januari 2005
Jenis kelamin: Perempuan
Gol. Darah: AB
Alamat: Red Rose Vanney No 12, Purnapura, Indonesia.
Seorang Capricorn rupanya, yang mana sangat bertolak belakang dengannya—Cancer. Katakanlah Iona konyol karena sangat percaya dengan zodiak. Namun baginya zodiak membantu banyak hal, terutama untuk mengenali kepribadian seseorang. Hanya saja, Iona merasa resah akan pernyataan siapa sesungguhnya Stella ini. Kenapa juga saat itu ia terbangun dengan keadaan mengenaskan, banyak sekali luka sayatan dan lebam pukulan di tubuhnya. Apa dia terlibat pertengkaran? Atau justru memang anggota mafia?
Iona terdiam dan mengamati lagi KTP gadis yang lebih muda dua tahun darinya tersebut.
"Purnapura memang kota yang terkenal akan mafia dan angka kejahatannya yang tinggi... bisa jadi Stella anak dari salah satu dari mereka," gumamnya. Terus mengamati gambar Stella di kanan kartu identitas tersebut. "Untung hanya di Purnapura... jaraknya dengan Jodhokerto mungkin hanya 6 jam dari sini."
Iona menghela napas lalu memasukkan kartu itu kembali ke tempatnya.
"Melihat dari semua perabotan yang ada, jelas Stella dari keluarga berada. Tapi siapa dia?"
Baru saja selesai bermonolog, tiba-tiba pandangannya menggelap. Semuanya langsung terasa hampa lagi. Iona merasa seolah berdiri tapi tak menapak ke tanah, mungkin saja melayang. Ia tak bisa merasakan tubuhnya, seperti begitu ringan rasanya.
"Waktumu tak banyak."
Iona terperanjat. Terlihatlah sosok yang sangat itu menghampirinya. Pria bersetelan serba hitam yang mendadak berdiri tegap di hadapannya.
"Waktu...? Untuk?"
"Dia sudah datang."
Iona menutup mulutnya rapat-rapat, mengurungkan niat untuk bertanya. Entah dari mana, di belakang tubuhnya muncul toh Stella yang tampak tidak tenang dan napasnya tersengal-sengal. Iona begitu takjub melihat sosok yang begitu ringan dan transparan seperti hologram benar-benar muncul di hadapannya.
"Kak... tolong sampaikan permintaan maafku sama semua orang di rumah, terutama Ayah." Meski begitu, kedua tangannya bisa menggapai bahkan menggenggam erat tangan Iona yang sangat terkejut. "Tolong balas semua cinta dia ke aku... bahagiakan dia. Buat dia sadar, apa yang dia lakukan salah... "
Setelah mengucapkan itu, rohnya mengurai dan hilang begitu saja. Seolah tersapu angin, termakan oleh waktu. Entah ke mana perginya tanpa jejak, tanpa suara. Iona langsung bergidik ngeri. Seperti baru saja melihat hantu. Mungkin sensasinya memang seperti itu.
"Dia ke mana?" tanya Iona sebagai bentuk refleks.
"Bukan hakmu untuk tahu."
Iona menutup mulutnya lagi. Ia merasa bahwa sudah melewati batas yang sosok itu tentukan. Lebih baik dia tidak tahu juga. Apa yang masih rahasia, harus tetap menjadi rahasia. Lebih lagi kenyataannya, dia memang masih akan hidup di dunia.
"Sekarang secara seutuhnya kamu akan kembali ke tubuh Stella. Hidup di tubuhnya."
"Memangnya—"
"Hei, sudah sadar?"
Iona terperanjat bukan main. Tiba-tiba ia kembali lagi di ruangan mengerikan itu, alias kamar Stella yang penuh dengan warna merah. Ia juga dibuat terkejut oleh seorang pria, entah siapa pun itu yang membuka pintu kamar dan tengah tersenyum ke arahnya.
Sekuat tenaga ia mengerahkan otaknya untuk berpikir. Diamatinya laki-laki itu lamat-lamat. Apakah dia pacar Stella? Atau temannya? Sahabatnya? Kakaknya? Iona merasakan pening di kepala seusai berpikir keras. Tubuhnya melemas dan sedikit oleng ke samping, yang segera membuat lelaki itu berjalan ke arahnya. Menahan tubuhnya dengan penuh kasih.
"Kau ini memang adik yang merepotkan, ya?"
Iona tak mengatakan apa-apa. Hanya membiarkan laki-laki itu membopongnya kembali ke ranjang. Mendudukkan, bahkan mengangkat kaki kanan lalu kirinya agar kembali merebahkan tubuh di alas yang begitu empuk itu.
Fiki menghela napas panjang, menatap sepasang mata adiknya yang kini terasa asing. "Dokter bilang benturan di kepalamu memang hebat, Stell. Aku tahu kamu mungkin nggak ingat siapa aku sekarang, tapi tolong... jangan lihat aku seolah aku ini orang asing. Itu menyakitkan." Iona mengedipkan kedua matanya berkali-kali. Bingung saat laki-laki itu tersenyum dan mengacak lembut kepalanya. "Maaf, saat itu kakak tinggalin kamu sendirian ya... untung kakak gak kehilangan adik satu-satunya yang menyebalkan ini."
"Kamu siapa?" Akhirnya Iona memberanikan diri untuk bersuara.
"Aku harus perkenalkan diri gitu, ya?" Laki-laki itu tersenyum sedih. "Aku Fiki, satu-satunya saudaramu. Kakak kandungmu," jelas laki-laki yang mengaku sebagai Fiki itu.
"Kakak.... "
"Gimana rasanya koma selama sebulan? Berat, ya?"
Iona terdiam, menggaruk tengkuknya untuk berpikir.
"Kalau terlalu berat, gak perlu dijawab. Kakak penasaran aja." Fiki tersenyum lebar, membuat Iona mau tak mau memaksakan satu senyuman.
"Aku... kenapa?" tanya Iona, sedikit mengangkat kedua tangannya yang diperban sana-sini. Memperjelas bagian apa yang ia tanyakan ke Fiki. Mungkin dengan ini, Iona bisa tahu sedikit tentang apa yang terjadi atau siapa dia sesungguhnya. Atau entahlah. Ia ingin cari tahu.
"Kamu ditemukan di dekat gudang tua ujung kota. Pastinya kamu dikeroyok sama musuh bebuyutan keluarga kita, suruhan Pak Waterson. Mungkin dua belas, atau tiga belas orang." Fiki tertawa, membuat Iona terkejut dengan reaksi tiba-tiba itu. "Aku kira dua puluh orang pun tidak bisa mengalahkan adikku yang over power ini. Ternyata aku salah, ya. Apalagi mereka pakai senjata."
Iona mengangguk-angguk begitu kecil, mencerna betul-betul ucapan Fiki. Rupanya Stella dikeroyok banyak orang hingga meninggal, sebab itulah banyak luka sayatan dan lebam di tubuhnya. Untung saja tubuhnya tidak dikotori oleh napsu bejat atau hal menjijikkan yang bisa ia bayangkan. Sangar juga Stella bisa bela diri?!
"Jurus silatnya udah gak ampuh, ya?" kelakar Fiki, berusaha mencairkan suasana. Namun yang pasti, Iona bisa melihat laki-laki itu sangat senang melihatnya saat ini. "Kamu istirahat dulu, yaa. Kamu butuh banyak tenaga untuk pulih. Panggil kakak atau Mas Bro kalau perlu sesuatu, okei?"
Meski bingung apa yang Fiki maksud dengan Mas Bro, entah itu nama sapaan untuk Fiki atau orang lain lagi, Iona hanya mengangguk. Fiki tersenyum lalu meninggalkan kamar Stella yang kini menjadi milik Iona seutuhnya.
Komentar
Posting Komentar